Dunia Tanpa Khilafah

Oleh: Lulu Nugroho (Muslimah Penulis dari Cirebon)

Dunia tanpa Khilafah adalah kengerian yang tidak ada habis-habisnya. Rumah-rumah dirusak, tanah air dirampas, keluarga tercerai berai, darah tumpah, bahkan kehormatanpun dilanggar. Hal ini menimpa kaum muslim di seluruh dunia. Tidak hanya harta dan martabat terkoyak, fisikpun dihabisi. Kaum muslim menjadi sasaran tembak musuh-musuh Islam.

Anak-anak pun tak luput dari kekejaman mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Lembaga Palestinian Prisoner’s Club (PPC) bahwa otoritas pendudukan penjajah Israel telah menangkap 745 anak-anak Palestina di bawah usia 18 tahun, sejak awal tahun ini 2019 hingga akhir Oktober 2019.

Sekitar 200 anak ditahan Israel di pusat-pusat penahanan Magiddo, Ofer dan Damoun. Sementara yang lainnya ditahan di pusat-pusat penahanan khusus. Mereka pun dibiarkan tanpa makanan atau minuman, dipukuli dengan kejam, dihina, dianiaya, diancam, diintimidasi, dan dikorek pengakuan mereka dengan berbagai tekanan dan ancaman.

Begitu pula halnya terhadap perempuan, tidak ada pelindung. Ketika suami ditahan, muslimah Uighur Turkistan Timur dipaksa untuk berbagi tempat tidur dengan para pejabat pria China yang telah ditugaskan untuk memantau rumah-rumah mereka. Demikian dilaporkan Radio Free Asia (RFA), baru-baru ini.

Dolkun Isa, presiden kelompok pengasingan Kongres Uighur yang bermarkas di Munich menggambarkan kampanye “Berpasangan dan Menjadi Keluarga” ini adalah untuk mewakili penghancuran keselamatan, keamanan dan kesejahteraan anggota keluarga secara total. Program tersebut bertujuan untuk mengubah rumah orang Uighur menjadi penjara di mana mereka tidak dapat melarikan diri.

Di tempat yang berbeda, muslimah Kashmir pun mengalami persoalan yang tak kalah hebatnya. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu saat seorang mantan jenderal tentara India dengan marah menyerukan pemerkosaan dan pembunuhan massal wanita Muslim di Kashmir oleh pasukan keamanan, pada acara perdebatan Stasiun Televisi. (Sindonews.com, 19/11/2019)

Hal ini juga pernah terjadi sebelumnya, ketika seorang pemimpin Partai Bharatiya Janata menyerukan orang-orang Hindu untuk memerkosa wanita Muslim di gang-gang secara terbuka di jalanan. Akan tetapi akhirnya ia dicopot dari posisinya. Perbuatan biadab mereka benar-benar di luar nalar. Mereka bertindak semena-mena.

Dunia tanpa Khilafah adalah petaka yang berkepanjangan. Banyak manusia yang mengecam, namun tidak satupun yang menolong. Tidak ada satu pemimpin negarapun yang mengerahkan tentara untuk menghadapi musuh-musuh Islam, tidak juga dewan keamanan PBB. Para pemimpin negeri muslim tidak punya nyali saat sekularisme mendominasi kehidupan mereka.

Inilah kerusakan yang mendasar. Lemahnya pemikiran umat akibat musuh Islam menjejali ide-ide kufur ke dalam kepala dan hati kaum muslim. Sehingga aktivitas yang muncul adalah buah dari pemikiran rusak, pragmatis, dan tidak bernilai di sisi Allah. Umat Islam benar-benar menjadi buih, jumlahnya banyak tapi tidak memiliki pengaruh.

Tidak cukup sampai di sini, Rasulullah pun direndahkan. Alquran ditawar sebab dianggap terlampau ‘keras’. Ulama-ulama dipersekusi. Pengajian dibubarkan. Umat dipecah belah dengan stigmatisasi negatif yang memojokkan. Kehidupan yang semakin sulit tatkala umat bersikukuh terhadap akidahnya.

Tanpa Khilafah, muslim dihina. Dengan arogannya musuh-musuh Islam terus menginjak-injak di segala sisi, menjadikannya sebagai musuh bersama. Mereka tahu betul jika kaum muslim dibiarkan memeluk kuat akidahnya, maka akan bangkit membangun peradaban yang maju.

Oleh karena itu, mereka memisahkan umat dari Islam. Bayang-bayang Khilafahpun disingkirkan jauh dari benak, bahkan dimonsterisasi. Dibangun opini di tengah umat, seolah-olah Khilafah adalah ancaman. Sehingga umat takut pada agamanya sendiri, bahkan menyebut kata ‘Khilafah’ pun tidak berani.

Padahal sejatinya itulah junnah, pelindung umat. Dunia di bawah kepemimpinan Khilafah adalah dunia yang aman, sebab pengelolaan umat menggunakan sumber hukum yang bersumber dari Allah pencipta semesta alam, yaitu Alquran dan Hadits. Pemimpin di negeri Khilafah takut terhadap murka Allah, sehingga mereka tidak akan zalim.

Dunia di tangan Khilafah, akan menciptakan rahmat bagi semesta alam.Sebagaimana dahulu pernah dibangun masa-masa keemasan, saat Khilafah memimpin dunia. Umat terlindung di bawah naungannya. Inilah yang seharusnya diperjuangkan umat, yaitu tegaknya Khilafah untuk penerapan syariat.

Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan hadits dari jalur Abu Hurairah radhiya-Llahu ‘anhu, bahwa Nabi shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama, bersabda:

إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدْلٌ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ ، وَإِنْ يَأْمُرُ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ [رواه البخاري ومسلم]

“Sesungguhnya seorang imam itu [laksana] perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa atau azab karenanya.” [Hr. Bukhari dan Muslim]. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *