Don’t Judge A Book By Its Cover

Oleh: Ordinary Me (Penulis dan Aktivis Ideologis)

Seringkali memang penampilan luar membuat kita tertipu. Saya teringat ketika masih kanak-kanak dulu begitu terkagum-kagum melihat bungkus mi instan.

Pikir saya, canggih banget ini mi.. bungkusnya kecil tapi isinya wuah. Di bungkus luarnya ada gambar mi lengkap dengan daging, telor dan sayuran. Dalam pikiran anak kecil luar biasa sekali melihat mi instan kayak gini. Dengan sebungkus yang harganya terjangkau, kita sudah dapat mi dengan paket komplit. Siapa yang tidak mau coba dengan harga yang murah, tapi isinya nggak Cuma dan bumbunya doang, tapi ada daging ayam dan teman-temannya. Terbayang lezatnya mi paket komplit ini.
Meski sempat terbersit juga, kok ada ya yang jualan mi murah tapi berkualitas isinya. Penjualnya apa tidak rugi yaa? Kira-kira begitulah pikiran sederhana kala itu sebagai seorang anak kecil.

Macam-macam pertanyaan yang muncul di kepala tersingkirkan oleh indahnya bayangan menyantap mi dengan lauk ayam goreng. Ketakjuban akan hadirnya mi instan yang super duper itu menguap begitu saja. Lagi-lagi karena sudah tak sabar ingin segera melahap mi instan yang sungguh mengesankan imajinasi kanak-kanak.

Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dengan harapan yang tinggi meminta ibu memasakkan mi untuk mengisi perut yang keroncongan sehabis main bersama teman. Deg-deg-an jantung seperti apa ya wujud isinya. Semakin tak sabar hati ini. Bayangan semangkok mi hangat dengan toppingnya yang menggiurkan sudah menari-nari.
Tapi ternyata setelah dibuka… twewwengg.. isinya cuma mi sama bumbunya yg minimalis.. duuuhh.. nyeseknya.. 😔😕 Patah hati ini. Ibu cuma bisa tersenyum geli melihat tingkah anaknya yang begitu polos saat itu. Sabar ya nduuk.. hidup memang tak seindah lukisan, apalagi bayangan.

Pupus sudah harapan makan mi lezat paket komplit. Isinya jauh dari yang tergambar di bungkusnya. Senyuman yang tadinya mengembang mendadak menciut. Tabahkan hati ini ya Rabbi..
Dan itu ternyata bukan yang terakhir kalinya ketipu dengan bungkus luar. Ya begitulah, namanya juga kanak-kanak. Pemikirannya sederhana, apa yang nampak di luar, maka begitulah isinya, menurutnya. Senang dan gampang tertarik dengan tampilan luar yang menawan. Begitu ada jajanan baru dengan tampilan yang mentereng, langsung kepincut pengen beli. Sudah bisa ditebak bagaimana endingnya. Kecewa lagi. Kasihan ya..

Seiring berjalannya waktu dan semakin berkembangnya akal, pemikiran anak-anak menjadi lebih sempurna sebagai manusia dalam memahami tentang segala hal di sekitarnya. Belajar dari pengalaman serta mendapatkan banyak informasi baru menjadi bekal dalam menyikapi sebuah fakta.

Pemikiran yang semula sederhana dan hanya melihat apa yang nampak berkembang menjadi lebih mendalam. Berpikir mengaitkan fakta dengan segala hal yang berkaitan dengannya. Bahkan sampai pada level berpikir secara cemerlang, yaitu berpikir bahwa ada Sang Pencipta di balik segala hal yang ada di muka bumi ini. Bahwa manusia, alam dan kehidupan adalah makhluk yang harus tunduk terhadap aturanNya. Dia adalah yang mempunyai hak untuk mengatur seluruh makhlukNya.
Karena itulah, dalam bersikap terhadap segala sesuatu hendaknya didasarkan pada pemikiran tertentu. Bukan hanya sekedar berdasarkan suka atau tidak suka. Tetapi bagaimana syariat memandangnya.

Dalam menilai sesuatu harus berpatokan pada aturan syariat, bukan pemikiran ataupun perasaan manusia. Karena kalau dikembalikan pada masing-masing manusia akan justru menimbulkan kekeliruan dan kekacauan. Pikiran manusia sangat terbatas. Ia tak bisa menjangkau hal-hal yang berada di luar kemampuannya (yang terindera). Wong yang nampak aja seringkali masih sulit dijangkau, apalagi yang tak nampak.
Maka itulah penting untuk Don’t Judge A Book By The Cover. Jangan menilai dari luarnya belaka. Telitilah dalamnya seperti apa. Cari tahu pada yang lebih paham dan pengalaman. Tanyakan pada ahlinya.

Banyak sekali hal-hal di dunia ini yang nampak indah, bagus, cantik, keren dari luar, tetapi ternyata isinya alakadarnya. Tampilan luar hanya sebagai polesan untuk menutupi bopengnya. Kemasan benar-benar menyembunyikan isi yang sesungguhnya.

Seperti saat ini. Dimana kehidupan manusia diatur oleh sebuah sistem yang bersandar pemikiran dasar yang salah. Pemikiran yang banyak menyalahi fitrah manusia, tak memuaskan akal dan menentramkan hati. Bukan keteraturan yang tercipta. Bukan pula kesejahteraan dan keadilan hakiki yang dirasakan manusia. Yang terjadi malah aturan tersebut menimbulkan beragam permasalahan yang tak ada habisnya. Kian parah dari waktu ke waktu. Yang semakin menyeret manusia pada lembah kehinaan kemaksiatan.

Itu tak lain karena aturan yang diterapkan adalah dari hasil pemikiran manusia, yang dipengaruhi hawa nafsunya. Aturan tersebut dibikin oleh manusia sesuai kepentingannya masing-masing. Maka, kental sekali latar belakang pribadi mempengaruhi setiap aturan yang dibuat. Apa yang baik menurut dia, belum tentu baik menurut saya. Pun sebaliknya.

Jika dikembalikan pada masing-masing individu, maka akan timbul banyak perbedaan sudut pandang. Berbeda pula dalam menentukan baik-buruk, kemaslahatan ataupun kemudaratan. Kepala boleh sama hitamnya, tetapi isinya belum tentu.

Inilah yang terjadi dalam sistem kapitalisme sekarang. Dengan dalih memberikan kebebasan, setiap orang bebas menentukan sendiri apa yang terbaik menurutnya. Meski jelek, ia tak boleh di-bully, harus dihargai. Meski menyimpang dari norma dan aturan, biarkan saja, karena itu hak asasinya. Kebebasan begitu dipuja-puja. Tak heran jika banyak “makhluk aneh bin ajaib” yang lahir dari rahim kapitalisme, semacam elgebete dan kawan-kawannya.

Dan sangat penting untuk menjadi highlight, bahwa setiap buatan manusia pasti penuh dengan keterbatasan, kekurangan dan kelemahan. Ini karena ia mengikut sifat manusia yang lemah dan tak berdaya. Maka, bisa dipahami kenapa kita seringkali, atau bahkan selalu berujung pada kekecewaan ketika berharap dan bergantung pada manusia. Terlebih jika kita percaya dengan sistem buatan manusia. Maka, bersiaplah untuk nyesek berkali-kali.

Beda dengan apa yang bersumber dari Allah, zat Yang Maha Sempurna. Segala yang berasal dariNya sudah pasti sempurna. AturanNya didesain untuk membawa manusia pada fitrahnya yang mulia. Allah sudah siapkan seperangkat aturan yang akan memudahkan hidup manusia di dunia dan di akhirat kelak.
Islam dengan seperangkat aturannya yang komplit telah memberikan kemudahan bagi manusia untuk menjalani hidupnya. Allah sudah anugrahkan kita Al-Qur’an sebagai buku pedoman kehidupan. Semua aturan ada di dalamnya. Mulai dari masalah keluarga sampai masalah bernegara, ada panduannya. Manusia tinggal menerapkan saja.

Islam bukan hanya indah dalam tampilan dan teorinya belaka, tetapi juga luar biasa menakjubkan dalam prakteknya. Selama berabad-abad tegaknya daulah Khilafah dengan syariahNya, manusia hidup dalam kebahagiaan dan kesejahteraan yang sesungguhnya. Ini bukan isapan jempol atau dongeng pengantar tidur, tapi nyata adanya. Carilah dan pelajarilah, maka akan ditemukan kebenarannya.

Namun, karena kebandelan manusia itu sendiri, justru malah ambil yang selain dari Islam. Ini jelas karena tertipu dengan tampilan tanpa mengecek isinya. Atau bisa jadi memang sudah tahu isinya buruk tetapi tetap diambil, karena hanya suka tampilan luarnya saja. Isinya nggak penting. Parah bener emang.

Kemilau dunia memang menyilaukan. Terlebih bagi mereka yang minus iman atau yang berada di low-level, sudah pasti akan tergoda, tertipu, terperdaya dan termuslihatkan. Gemerlap dunia seolah menawarkan keindahan yang abadi. Lenggak-lenggok pelakon dunia sungguh menarik hati untuk diikuti. Membuat gelap mata dan tak sanggup berpikir jernih. Ambyar semuanya, hingga baru tersadar setelah jatuh ke jurang kesengsaraan. Yang bahkan sampai berkali-kali terperosok ke dalamnya baru insyaf. Ternyata keindahan dunia itu hanyalah fatamorgana belaka. Kecantikannya akan pudar jika habis masanya.

Jadi, yakinlah bahwa yang indah di luar belum tentu cantik juga dalamnya. Tampilan boleh mewah, tapi isinya bisa jadi weelahdalah! Ya seperti itulah kalau hidup dalam kapitalisme. Sungguh terlalu jika anda tak percaya, sementara bukti dan faktanya terpampang nyata di sekeliling kita. Dan termasuk diri kita sendiri pasti juga mengalami betapa kacaunya hidup di bawah cengkraman sistem kufur ini. Bikin susah dan menderita.

Jika sudah tahu dan mengalami berulangkali, harusnya sangat patut merenung dan berpikir keras kenapa diri masih seperti ini. Jatuh pada lubang yang sama berkali-kali. Bahkan hewan yang tak berakal pun akan menghindari sesuatu yang mengancam dirinya dengan memakai nalurinya agar tak terperosok di tempat yang sama.

Lantas, bagaimana dengan manusia yang berkali-kali terperangkap pada jerat yang sama dan tidak kunjung sadar? Apakah lebih buruk daripada hewan?! Tak maukah belajar dari pengalaman? Ayolah, ini saatnya untuk segera move on dari segala kekacauan multi-dimensi akibat sistem bobrok! Tinggalkan sistem yang rusak ini dan ganti dengan sistem yang pasti hakiki dari Illahi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *