Din Syamsuddin: Isu Radikalisme Cuma Kacaukan Stabilitas Ekonomi dan Politik

Din Syamsuddin menyatakan, tantangan ke depan bangsa ini adalah deviasi, distorsi dan disorientasi Pancasila dan UUD 1945. Beberapa gejala yang sudah timbul hari ini adalah klaim sepihak, monopolistik dan manipulatif terhadap Pancasila.

Akhirnya sistem politik, ekonomi, sosial dan budaya Indonesia bergerak ke arah yang berlawanan dengan ideologi bangsa itu. Saat mengembangkan sistem ekonomi misalnya.

“Praktik ekonomi jauh menyimpang dari imperatif dari amanah pancasila sila kelima,” katanya ditemui di bilangan Jakarta Selatan, Dia juga menyinggung adanya ancamana radikalisme dan ekstremisme. Islam, katanya, sebagai agama yang menekankan jalan tengah tentu menolak pemikrian semacam itu.Senin (18/11).

Dia juga menyinggung adanya ancamana radikalisme dan ekstremisme. Islam, katanya, sebagai agama yang menekankan jalan tengah tentu menolak pemikrian semacam itu.

Namun, pada sisi lain, Din mengkritik jika hanya Islam yang terus dilabel dengan narasi radikalisme. Selain kegamaan, Din menyebutkan radikalisme lain yang tak kalah bahayanya.

“Ada radikalisme yang tidak kalah bahaya, yaitu radikalisme sekuler liberal, radikalisme yang berhimpit dengan sekularisme dan liberalisme,” kata dia.

Radikalisme inilah yang justru telah merasuk, disadari atau tidak, dalam sistem kenegaraan Indonesia. Dari sistem politik hingga ekonomi.

“Sehingga tidak menciptakaan keadilan sosial, tolong lihat ini sebagai bentuk radikalisme yang nyata saya bukan membela radikal, saya ingin menjernihkan dan mendudukan perkaranya secara berkeadilan,” kata Din. [ns]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *