Diminta Bubar Malah Konser Digelar? Trik Menarik Simpatik Ala BPIP Ditengah Pendemi

Oleh: Nahdoh Fikriyyah Islam (Dosen dan Pengamatan Politik)

Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) akan menggelar konser solidaritas kemanusian dengan tajuk “Bersatu Melawan Korona” pada Minggu 17 Mei mendatang. Konser yang bakal disiarkan di beberapa media massa ini hasil kerjasama BPIP dengan MPR RI, Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Indika Foundation, dan GSI Lab.

Konser ini akan dihadiri oleh Presiden Joko Widodo, Wakil Persiden Ma’aruf Amin, Ketua Dewan Pengarah BPIP Megawati Soekarnoputri, Ketua MPR Bambang Soestatyo, Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo, serta artis-artis ternama sebagai pengisi acara seperti Judika, Rossa, Via Vallen dan masih banyak lagi. Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP, Romo Benny Soesatyo menjelaskan bahwa konser ini merupakan wujud nyata gotong royong dalam mengatasi virus corona.

Selain itu, Benny menjelaskan bahwa ini akan menjadi konser amal gerakan persaudaraan antara satu dengan yang lainnya. Kemanusiaan yang adil dan beradab dijelaskan Benny menjadi jalan titik temu dalam mengatasi segala kesulitan. Benny mengingatkan bahwa gotong royong merupakan jalan keutaman hidup yakni dalam satu bahasa kita bergotong royong dalam keyakinan akan Tuhan yang menyertai bangsa ini. Selain itu semangat optimis harus tetap ditumbuhkan dalam menghadapi pandemi COVID-19. (Merahputih.com. 16/05/2020)

Kegiatan yang sangat menggemparkan tentunya di tengah wabah. Rakyat diminta untuk stay at home, lalu PSBB dan menjatuhkan sanksi bagi pelanggarnya. Nah, kini pemberi kebijakan dan sanksi sedang mempertontonkan kekebalan tubuh mereka terhadap virus ditengah konser yang akan digelar terbuka. Bukan begitu? Andai mereka khawatir tertular, pasti konser tidak digelar. Oleh karena itu, ada beberapa poin terkait artikel kegiatan konser BPIP tersebut yang perlu dikritisi.

Pertama, berbicara tentang BPIP pasti nitizen paham kemana arahnya. Ya, lembaga yang suka membenturkan agama khususnya Islam dengan Pancasila. Selain itu, para pekerja di lembaga ini mendapatkan gaji ratusan juta rupiah. Kerjanya? Hanya membuat opini gaduh antara Agama dan Pancasila. Dan beberapa waktu lalu, nitizen sudah banyak mengeluarkan kritik agar BPIP dibubarkan saja karena membuat keresahan dan kegaduhan. Nyatanya, diredup sesaat, kini muncul mau bikin konser?

Kedua, konser ala BPIP ini bertajuk bersatu melawan korona. Mampukah konser yang kumpul-kumpul dan desak-desakan akan mampu mengatasi corona? Bukankah sebaliknya malah akan mempermudah penularan? Corona jenis covid-19 ini dikabarkan WHO sangat reaktif dan only one touch you can be infected. Kenapa malah ngumpul konser? Adakah yang bisa jamin jika pasca konser semua bebas corona? Lalu, kenapa aktifitas di mesjid dihalang-halangi dan diopinikan menjadi ajang penyebaran Corona? Apakah corona bersahabat dengan para pejabat dan konser? Tetapi ganas untuk mereka yang beribadah dan rakyat biasa? Mikir!

Ketiga, apa hubungan mengatasi corona dengan konser dan semangat gotong-royong kemanusiaan? Harusnya mengatasi corona ya dengan lockdown dari awal, sediakan alat-alat medis tercanggih dan keluarkan bantuan masyarakat tidak mampu secara merata. Lalu konser? Perannya dimana menyemangati gotong royong atasi corona? Yang ada malah gotong royong menyebar corona. Kan menular virusnya? Bukan semangat kemanusiaan kalau begitu, tepatnya semangat genosida!

Keempat, dengan mengadakan konser kemanusiaan bertajuk corona BPIP kelihatannya sedang ingin memperbaiki citranya dan menarik simpatik masyarakat lagi. Sebab, konser telah dianggap sebagai ajang kepedulian terhadap situasi pandemi. Padahal, konser hanyalah bicara keuntungan bagi pemilik bisnis EO entertainment. Dengan menggandeng para pejabat, penguasa, artis dan beberapa elemen kemanusiaan, konser akan dianggap sebagai wujud nyata langkah kepedulian terhadap nasib rakyat dan bangsa di tengah pandemi. Sungguh, tidak ada korelasi langsung!

Alangkah sedihnya kehidupan masyarakat di zaman kapitalis tulen ini. Bahkan virus pun dianggap takut kepada penguasa sehingga sesuka-suka mereka melakukan apapun dan melanggar apapun yang mereka tetapkan. Lihat saja betapa opini ganas tentang corona dan korban terinfeksi setiap hari terus menerus dikabarkan meningkat oleh media. Mengabarkan anggota jamaah shalat terinfeksi selesai shalat di mesjid, hingga pada takut ke mesjid.

Belum lagi ada video viral yang diminta tes darah saat ingin masuk mesjidi dan bahkan ada jamaah yang tidak boleh keluar mesjid sebelum diambil sampel darahnya untuk rapid tes. Akankah hal ini juga berlaku bagi seluruh peserta konser corona ala BPIP? Ada yang berani melakukannya? Pasti jawabannya tidak. Karena apapun yang dilakukan pihak atau presented by rezim hari ini adalah benar dan tidak boleh dianggap salah. Apa gak repot iki?

Lembaga yang tidak ada hubungannya langsung dengan corona malah membuat suasana makin runyam dalam penanganan wabah. Masyarakat akan terus semakin bingung dan bertanya-tanya, kenapa opini corona begitu ganas memakan mereka sementara jinak kepada penguasa? Apakah virus juga pilih kasih?

Konser ini juga sekaligus menjadi jawaban pemerintah bagaimana tindakan selanjutnya terhadap corona. Jika konser telah dibuka, itu artinya aktifitas PSBB mulai dilonggarkan dan kegiatan kembali seperti biasa sebelum wabah. Pertahanan ekonomi lebih utama daripada penyelamatan nyawa rakyat. Inilah buah busuk kapitalis.

Tentu semua berharap agar wabah ini segera berakhir. Sebab kesenjangan akan semakin runcing, kesemena-menaan akan meningkat. Selama rakyat terpenjara dalam rumahnya, penguasa sibuk mengeluarkan kebijakan yang terus mendzalimi dan merugikan generasi dan bangsa ini. Tiada yang mampu turun ke jalan lagi untuk protes dan mendatangi penguasa untuk amar makruf disebabkan menahan diri dari infeksi atau mungkin berpotensi memberikan infeksi bagi yang lain.

Sebagai penguasa dalam hal ini Presiden dan aparat penegak hukum harusnya menggagalkan konser tersebut dan menindak penyelenggara apabila masih tetap diteruskan. Bahkan dari awal harusnya sudah membubarkan BPIP karena sudah meresahkan masyarakat. Jangan hanya cepat menindak rakyat kecil. Tetapi itulah kenyataan pahit yang harus ditelan. Pemerintah justru mendukung sepenuhnya dengan mengupayakan hadir. Hukum buatan manusia dalam sistem demokrasi sekuler hanya tumpul ke atas dan sangat tajam ke bawah.

Semoga semua upaya masyarakat yang taat syarat home selama beberapa bulan ini, adalah ikhtiar yang betul-betul dilakukan. Toh, jika pada akhirnya kebohongan yang banyak muncul daripada menyampaikan kebenaran ditengah wabah, maka adakah tempat mengadu dan berserah diri selain kepada Allah SWT? Wallahu a’lam bissawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *