Dilema Tak Berujung, antara Sekolah dan Corona

Oleh: Sri Kayati, S.Pd (Guru dan Penulis Komunitas Setajam Pena)

Kecemasan, kekhawatiran, kebingungan seakan bercampur aduk. Itulah yang dirasakan sebagian besar masyarakat Indonesia dalam menghadapi datangnya Tahun Ajaran baru 2020/2021. Berbagai rasa yang dirasakan para orang tua, guru, dan anak sekolah adalah rasa yang tidak biasa. Karena memang belum pernah terjadi sebelumnya. Tahun Ajaran tahun ini akan dibuka ditengah wabah Covid-19. Sementara kasus anak yang terinfeksi Covid-19 sangat tinggi.

/Sekolah Dikala Wabah, Seriuskah?/
Seperti diberitakan kumparan.com (1/6/2020), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI telah menyatakan, Tahun Ajaran Baru akan tetap dilaksanakan pada 13 Juli 2020. Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, dan Menengah (Plt. Dirjen PAUD Dasmen) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hamid Muhammad, menegaskan pihaknya tidak akan memundurkan kalender pendidikan ke bulan Januari. Pada laman kemendikbud (28/5) Hamid juga memenyatakan, bukan berarti kegiatan belajar mengajar tatap muka. Metode belajar akan tergantung perkembangan kondisi daerah masing-masing.

Sejalan dengan pernyataan tersebut, ternyata di Surabaya terdapat 127 anak usia 0-14 tahun yang dinyatakan positif Covid-19. Kekhawatiran juga dirasakan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Agama (Kemenag) terus mengkaji langkah pembukaan sekolah pada 13 Juli 2020 . Retno mengungkapkan, dari data Kementerian Kesehatan terdapat 831 anak yang terinfeksi Covid-19 (data 23 Mei 2020). Lebih lanjut, data Ikatan Dokter Anak Indonesia, 129 anak meninggal dunia dengan status pasien dalam pengawasan (PDP). Yang menyedihkan, 14 anak meninggal dengan status positif Covid-19. (nasional.okezone.com, 27/05/2020)

Apa yang dikhawatirkan masyarakat bukan tanpa alasan. Ada alasan yang sangat kuat sehingga kebijakan yang diambil pemerintah terkait pembukaan sekolah di tengah pandemi menuai banyak kontroversi. Pernyataan akan dibukanya sekolah pada 13 Mei 2020 mendatang, seakan pemerintah tidak peduli dengan nyawa rakyatnya. Karena pemerintah telah mengambil resiko besar dengan mempertaruhkan anak sekolah, generasi penerus bangsa menghadapi Covid-19 dengan taruhan nyawa.

Bagi orang tua melepaskan anak sekolah di tengah serangan Covid-19 bukanlah hal yang mudah. Para orang tua dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit. Di satu sisi anak harus tetap bersekolah menuntut ilmu, di sisi lain menjaga keselamatan dari tertularnya Covid-19 adalah kewajiban. Inilah dilema tak berujung yang menggelayuti pikiran orang tua saat ini.

Banyak pertimbangan kenapa orang tua merasa berat mengirim anak-anaknya ke sekolah di masa pandemi. Meskipun banyak arahan terkait tehnis belajar di sekolah di masa pandemi. Intinya semua siswa dan guru harus tetap menjalankan aktivitas di sekolah sesuai dengan protokal kesehatan. Baik itu memakai masker, menggantinya, menjaga jarak, sering mencuci tangan dan lain-lain. Lantas apakah ada jaminan kalau setiap anak juga disiplin menjalankannya, atau adakah jaminan mereka tidak tertular. Semua tetap menjadi keresahan yang bersarang di benah para orang tua.

Begitu juga bagi para guru, menjalankan aktivitas mengajar di tengah wabah Covid-19 yang sedang melanda, juga bukan hal mudah. Ada tanggung jawab besar di pundak yang harus diembannya. Meskipun pembelajaran dengan dibuat shif, siswa yang masuk hanya sebagian sebagian, namun resiko tidak tertular pun juga tidak ada jaminan. Guru di samping harus menyampaikan materi, harus mengawasi siswa-siswinya dalam setiap aktivitas, mengarahkan dan membimbing jija ada yang tidak disiplin, belum lagi jika ada masalah yang tidak diduga seperti ada anak sakit atau jatuh saat bermain. Di samping itu, guru juga harus menjaga dirinya sendiri. Tentu saja hal ini sangat berat bagi guru, terutama pada tingkat bawah seperti PAUD, TK, SD bahkan SMP pun masih sangat perlu pengawasan.

Itulah sebagian kesulitan yang mungkin akan ditemui di lapangan, ketika sekolah dibuka ditengah wabah Covid-19 pada Juli mendatang. Pelaksanaan di lapangan tidak semudah menyampaikan ide. Bisakah pemerintah menjamin kondisi siswa dan gurunya akan baik-baik saja? Lantas siapakah yang berani memngambil resiko menerjang badai Covid-19 saat ini?

Tentu kita semua tidak menginginkan korban berjatuhan lebih banyak lagi, apalagi menimpa anak-anak usia sekolah. Karena mereka adalah generasi penerus, yang akan meneruskan kehidupan. Kita semua juga tidak menginginkan petaka lost generation terjadi.

Di sisi lain, kalaupun pemerintah menetapkan pembelajaran jarak jauh atau daring, apakah masyarakat sudah siap. Hal ini akan menjadi PR tersendiri. Karena kita semua tahu bahwa dari semua pihak baik orang tua, anak ataupun guru sebagian besar belum siap.

Masyarakat saat ini sedang mengalami kesulitan di bidang ekonomi karena dampak dari Covid-19. Sedangkan pembelajaran jarak jauh memerlukan biaya, karena tidak semua orang punya fasilitas android ataupun laptop, belum lagi kebutuhan pulsanya. Di satu sisi, tidak semua guru juga siap untuk pembelajaran jarak jauh, baik terkendala dalam hal kreativitas dalam konten materi pembelajaran ataupun kemampuannya dalam memamfaatkan tehnonogi.

/Kebijakan Plin-plan Abaikan Keselamatan/
Semua itu terjadi karena dari awal pemerintah terkesan hanya setengah hati dalam mengatasi penyebaran wabah Covid-19. Lockdown pun tidak tegas diperintahkan, karena pemerintah tidak siap menanggung kebutuhan dasar rakyatnya selama lockdown. Begitu pula di saat penyebaran Covid-19 di tengah masyarakat masih tinggi, justru pemerintah mengajak berdamai dengan corona, dan kini menjalankan program new normal life. Dengan alasan, untuk membangkitkan perekonomian nasional yang terpuruk akibat dari wabah Covid-19 yang melanda dunia. Dari sini nampak jelas, bahwa pemerintah kebingungan dalam menangani wabah ini. Kebijakan terkesan plin-plan, dan nampak prioritas saat ini bukan pada keselamatan rakyatnya, tapi pada materi. Maka dapat kita pahami, apapun yang terjadi di masyarakat nantinya, maka akan menjadi urusan masing-masing individu di masyarakat. Masyarakat harus mencari solusi sendiri terkait masalah yang dihadapinya.

/Solusi dalam Pandangan Islam/
Dalam Islam, pendidikan adalah masalah yang sangat urgen. Karena pendidikan adalah wadah untuk membentuk pemikiran masyarakat. Agar masyarakat berpemikiran Islam, maka pemerintahan Islam tidak mungkin mengurusi masalah pendidikan hanya sekedarnya saja. Negara akan memprioritaskan pendidikan masyarakat dengan memberikan fasilitas yang memadai. Apalagi untuk generasi penerusnya.

Terkait edukasi negara terhadap masyarakat saat ada wabah atau pamdemi, maka negara sangat serius memahamkan masyarakat, sehingga tidak terjadi kebingungan dan misspersepsi. Dengan demikian, masyarakat mendapat kejelasan terkait dengan apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Maka tidak terjadi pemahaman yang simpang siur di tengah masyarakat.

Dalam masalah keberlangsungan proses pendidikan, maka negara akan memenuhi sarana dan prasarana sebagai penunjang kelancaran pembelajaran. Sehingga tidak ada anak sekolah yang tidak bisa ikut pembelajaran daring, dengan alasan tidak punya fasilitas. Sehingga proses pembelajaran untuk sementara selama masa pandemi bisa dilakukan dengan jarak jauh atau daring dengan maksimak. Dengan demikian kebijakan pemerintah untuk membuka sekolah di tengah masa pandemi bisa teratasi dan menenangkan masyarakat. Para orang tua, guru, anak akan merasa aman dalam mengikuti proses pembelajaran dirumah.

Namun apabila sarana dan prasarana untuk melayani masyarakat tidak memadai dan kebijakan yang di ambil tidak menjamin keselamatan rakyatnya, tapi justru dikhawatirkan mendatangkan bahaya (dharar) dan mengacam jiwa rakyatnya, maka mengambil kebijakan tersebut harus dihindari. Karena menghilangkan bahaya yang dapat mengancam rakyat adalah tanggung jawab pemerintah.
Rasulullah SAW bersabda :
‘’ Tidak boleh menimbulkan madarat (bahaya) bagi diri sendiri dan juga madarat bagi orang lain di dalam Islam’’ (HR Ibnu Majah dan Ahmad)

‘’Pemimpin yang mengatur urusan manusia (Imam/Khalifah) adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya’’(HR al-Bukhari dan Muslim)

Mengharapkan solusi ideal dalam mengatasi masalah pendidikan di tengah wabah saat ini sangatlah tidak mungkin. Solusi dari berbagai masalah saat ini hanyalah dengan menegakkan system Islam. Dengan tegaknya daulah Islam yang didasarkan pada ketaatan pada Allah SWT, insyaAllah permasalahan yang melanda masyarakat karena dampak wabah Covid-19 akan segera teratasi dengan ridho Allah. Mari senantiasa kita tetap berdoa semoga wabah Covid-19 segera berhenti dan lahirnya tatanan dunia baru dalam system Islam segera tegak, sehingga peradaban Islam yang mulia akan segera terwujud di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
Wallahu ‘alam bishowab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *