Dilema Para Medis dalam Sistem Kapitalis

Oleh: Ummu Arfa

Tenaga medis yang gugur dalam menangani wabah jumlahnya kian meningkat, padahal di Indonesia jumlah tenaga medis untuk dokter saja hanya 200 ribu orang.
Dokter spesialis Paru yang hanya 1.976 orang, sehingga apabila kehilangan satu dokter maka akan menambah resesi jumlah tenaga medis di Indonesia(warta kota.tribunnews.com/2020-05-21).

Kurang adanya perhatian proteksi yang di berikan kepada tenaga medis dengan ditandai minimnya ADP dan fasilitas kesehatan menjadi pemicu mudahnya terserang wabah Covid-19 bagi para tenaga medis yang terkungkung dalam lingkup lingkaran wabah.

Ditambah lagi janji tunjangan yang di berikan pemerintah yang tak kunjung cair, justru menambah problem psikologis, padahal tak sedikit para tenaga medis dan relawan yang rela menjadi garda terdepan demi jiwa yang lain dan mengorbankan dirinya serta hubungan dengan keluarga yang semakin terbatasi.
Waktu, tenaga dan daya ia curahkan untuk menangani pasien terdampak wabah pandemi. (tempo.co/read/1346031)

Pahlawan berjas putih yang terikat sumpah sejatinya telah menolong dengan sukarela. Mereka berjibaku menyelamatkan pasien, kadang kurang tidur, haus tak bisa minum, bahkan telat makan. Harusnya apresiasi luar biasa diberikan kepada dokter yang menjadi garda terakhir penanganan Covid-19, juga kepada dokter yang tetap praktek mengobati pasien non Covid,
namun juga ikut terpapar corona.

Akan tetapi rezim justru abai bahkan tak segan para tenaga kerja medis malah di pulangkan serta hak mereka tidak segera di tuntaskan. Tak ayal jika pada akhirnya memang banyak tenaga medis yang mengeluh, kecewa bahkan marah dengan tindak lamban rezim yang malah membuat boomerang dalam segala aspek sehingga terjadi pembangkangan rakyat untuk tidak patuh terhadap aturan penguasa yang disebabkan imbas penguasa sendiri yang acuh terhadap problematika rakyatnya.

Hal tersebut bertolak belakang dengan Syariah Islam, jangankan gugurnya para tenaga medis yang mempunyai manfaat yang besar dimasyarakat, nyawa seorang muslim saja begitu berharga di mata Islam. Sejarah mencatat kebijakan kesehatan yang dilakukan oleh Muhammad Al-Fatih dalam memberikan pelayanan kesehatan sungguh luar biasa, di antaranya merekrut juru masak terbaik rumah sakit untuk memberikan makanan dan asupan gizi terbaik untuk para pasien yang sakit.

Gizi dan jaminan di rumah sakit sangat di perhatikan dalam sistem Islam, dokter datang minimal 2 kali sehari untuk visit pasien. Tenaga medis dan pegawai rumah sakit harus bersifat qona’ah dan juga punya perhatian besar kepada pasien. Begitu juga dengan rumah sakit Bimaristan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahun 1160 M telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit, tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis cukup menjadi bukti sejarah perhatian Islam dalam bidang kesehatan.

Betapa luar biasanya perhatian Islam terhadap kesehatan tentu sebanding dengan perhatian kepada dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Fasilitas terbaik untuk tenaga medisnya. Berupa tunjangan dan akses pendidikan mudah dan gratis serta sarana prasarana bukan hal baru dalam Islam.

Islam juga memberikan perlindungan kepada para tenaga medis yang menjadi garda terdepan dengan pemberlakukan karantina wilayah. Ini semata-mata dilakukan untuk mencegah semakin merebaknya wabah. Maka wabah tak akan sempat menjadi pandemi. Dengan terpusatnya wabah di satu wilayah saja, memudahkan para tenaga medis untuk fokus dan segera memberikan penanganan.

Sungguh tenaga medis yang menjadi garda terdepan berdiri tegak menangani wabah yang tak ayal nyawa menjadi taruhannya, adalah suatu tindak mulia layaknya mujahid yang dengan gagah memerangi musuh dan melindungi tertumpahnya jiwa dari yang lainnya, maka sudah selayaknya kita memuliakan dan memberi penghargaan atas korban & jasa nya. Dan ketika mereka berhasil menyelamatkan nyawa manusia, kita pun mendapatkan pahalanya, tanpa mengurangi pahala mereka.

Wallahu ta’ala a’lam

3 thoughts on “Dilema Para Medis dalam Sistem Kapitalis

  • 3 Juni 2020 pada 06:07
    Permalink

    Terbukti Islam bisa menyediakan sistem kesehatan yg luar biasa

    Balas
  • 3 Juni 2020 pada 06:20
    Permalink

    Dokter aja g digubris apalagi pasien

    Balas
  • 3 Juni 2020 pada 06:35
    Permalink

    Hmm, konspirasi sistematis

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *