Dilema Antara Kesehatan dan Ekonomi Bagi Pedagang Kala Pandemi

Oleh : Sri Mulyati (Mahasiswi dan Member AMK)

Terjadinya pandemi Covid-19 telah melumpuhkan ekonomi di semua kalangan mulai dari perusahaan-perusahaan besar hingga masyarakat kecil seperti pedagang-pedagang yang berjualan di pasar sebagai mata pencaharian mereka demi bertahan hidup. New Normal telah diberlakukan sejak 01 Juni 2020 kemarin, walaupun virus Covid- 19 belum lenyap dari negeri ini. Bahkan hingga kini jumlah kasus Covid-19 tidak memperlihatkan kurva yang landai.

Dilema ini terus merasuk kepada jiwa-jiwa sang pencari nafkah. Antara menyelamatkan ekonomi ataupun kesehatan bahkan nyawa. Khususnya mereka yang berjualan di pasar. Keduanya sangat membingungkan. Jika, harus terus menerus diam dirumah lama-kelamaan bekal untuk kehidupan sehari-hari semakin menipis. Di sisi lain kesehatan dan keselamatan mengancam mereka.

Ditambah, mereka para pejuang nafkah betul-betul kurang edukasi dalam menjalankan protokol kesehatan. Ketika memutuskan untuk keluar rumah dengan tidak mengindahkan protokol yang telah di tetapkan. Sehingga, tak heran menjadi korban. Seperti yang diungkapkan Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) mencatat 529 orang pedagang positif virus Corona dan 29 orang diantaranya meninggal dunia. Diduga pasar menjadi kluster penyebaran virus yang sangat tinggi, ungkap, Muhadjir. (16/06/2020, Okenews.com).

Memang benar, pasar merupakan salah satu tempat berkerumun orang banyak. Baik penjual dan pembeli. Tidak hanya sebatas itu aktivitas yang dilakukan di pasar seperti transaksi jual beli. Dimana, ada pertukaran uang dan barang yang dilakukan oleh penjual dan pembeli. Kemungkinan besar, diduga virus menempel diantara keduanya, tidak hanya ditularkan dari manusia ke manusia melainkan dari barang atau uang ke manusia. Keadaan di pasar seperti yang telah kita ketahui, kondisinya jauh dari penerapan Sosial Distancing diantara mereka. Melakukan aktivitas layaknya tidak ada wabah. Ditambah pula pihak pemerintah tidak rata memberikan edukasi terkait protokol kesehatan. suatu kenyataan mereka yang berniat baik untuk melakukan pemeriksaan/ tes masal di Pasar Cileungsi, Bogor, Jawa Barat yang berujung dengan pengusiran petugas Covid-19 dari Gugus Tugas Kabupaten Bogor.

Dilansir Kumparan.Com. Ratusan pedagang dan pengunjung Pasar Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Mengusir petugas Covid-19 dari Gugus Tugas Kabupaten Bogor. Kejadian ini terjadi pada hari Rabu 10 Juni 2020. (11/06/2020, Kumparan.Com).

Hal demikian, tejadi karena masyarakat diduga kuat kurangnya edukasi belum memahami terkait pemeriksaan yang akan dijalankan, bertujuan untuk memutuskan mata rantai penyebaran. Jika, kita menelisik tempat pemeriksaan yang dilakukan pemerintah, seharusnya dilakukan tidak di pasar. Pendekatan yang dilakukan pemerintah merupakan tindakan yang kurang tepat, tidak pesuasif sehingga ditolak oleh warga. Ini menegaskan pemerintah tak cukup menyediakan sarana tes dan himbauan agar patuh. Tetapi, butuh pendekatan agar sadar terhadap protokol kesehatan dan pemeriksaan di tempat yang dirasa nyaman dan aman dengan membuat posko kesehatan yang layak.

Selain itu, pemberian jaminan kebutuhan masyarakat harus dipenuhi. Sehingga rakyat tidak memaksakan kehendak untuk berjualan di pasar yang beresiko besar terhadap penyebaran Covid-19. Jika, semuanya telah dilakukan dan masyarakat masih saja ngeyel maka, selanjutnya haruslah diberlakukan sanksi bagi rakyat yang melanggar. Masyarakat dan pemegang kekuasaan harus senantiasa bersinergi. Tidak hanya mencukupkan diri berkoar-koar di rumah aja. Namun, lalai akan kewajiban sebagai pengatur dan pengurus rakyat secara maksimal. Inilah ilusi keadilan di negeri penganut Demokrasi.

Mereka dibiarkan mengurusi dirinya sendiri untuk berjuang memenuhi kebutuhannya walaupun menaruhkan nyawa resikonya.

Lain halnya dengan Islam yang mementingkan kesehatan dan keselamatan rakyatnya. Kedua hal tersebut akan menjadi prioritas utama. Sebagaimana Allah Swt telah berfirman di dalam Qs.al-Maidah [5]: 32.
“… Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya Rasul kami telah membawa keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak diantara mereka setelah itu melampaui batas di bumi.” ( Qs.al-Maidah [5]: 32).
Demikianlah cara Islam memperlakukan manusia sebagai hamba Allah. Karena, pada dasarnya kesehatan menjadi kebutuhan publik yang harus dipenuhi oleh negara dengan pemenuhan ekonomi yang baik walaupun dalam keadaan sempit karena wabah. Dalam negara yang menerapkan aturan Islam, menjadikan nyawa manusia sebagai aset penting dalam membangun peradaban yang mulia. Tanpa, merekalah negara tidak akan tegak dengan kesempunaan Islam.

Hal demikian, telah tercatat di dalam sejarah keagungan akan kemuliaan Islam. Seperti yang dicontohkan oleh Rasul saw dan para sahabat dan dilanjutkan oleh para khalifah setelahnya. Dalam kondisi sempit pun, negara berada dalam keberkahan Allah Swt karena menerapkan apa-apa yang tertuang di dalam Kitabullah. Tidak seperti sekarang ini, dilema selalu menghampiri dalam memilih, karena memilih antara kesehatan dan nyawa dengan nafkah begitu campur baur dan sulit dalam memilih salah satu diantara keduanya. Jika harus stay at home, perut kecil harus di isi dan jika pergi keluar ancaman virus terus membayangi untuk siap merenggut siapapun yang tidak waspada.

Maka dari itu, sudah saatnya menjadikan Islam kafah sebagai solusi satu-satunya untuk mengentaskan dilema yang menjangkit rakyat saat ini. Agar kita selalu hidup dalam keberkahan Allah Swt.

Wallahu a’lam bishawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *