Di Balik Peringatan Hari HAM

Oleh : Karina Izzati
(Aktivis Dakwah Kampus di Surabaya)

Setiap tanggal 10 Desember selalu diperingati sebagai hari HAM sedunia. HAM atau Hak Asasi Manusia terdiri dari hak hidup, hak memperoleh keadilan, hak kepemilikan/properti, hingga hak kebebasan individu yang meliputi hak beropini, bertingkah laku, hingga beragama. Pada prakteknya, HAM ini justru bermuka dua. Penerapan HAM ini ternyata pilih-pilih sesuai kepentingan tertentu. HAM hanya berlaku bagi pihak tertentu yang punya kepentingan tetapi tidak berlaku untuk manusia di seluruh dunia. Mengapa itu bisa terjadi? Sebelum menjawab pertanyaan itu, perlu diketahui HAM tidak pernah lahir dari rahim Islam.
Tapi hari ini banyaakk sekali orang-orang berlindung atas nama HAM, bahkan untuk memuaskan syahwat dan kepentingan. Misalnya LGBT, menuntut disahkannya pernikahan sesama jenis atas nama Hak Asasi Manusia.

Akan tetapi yang jelas-jelas pelanggaran HAM berat seperti di Uyghur, Rohingya, Palestine, Yaman, Kashmir sama sekali tidak dianggap sebagai pelanggaran HAM. dunia bungkam bahkan mendukung Penjajah sebagaimana Amerika mendukung Israel. Bahkan PBB sendiri yang katanya pembawa perdamaian, diam seribu bahasa menyaksikan kondisi kaum muslimin. HAM dimainkan demi kepentingan orang-orang tertentu. katanya kebebasan beragama, tapi di Perancis muslimah bercadar dilarang, sedang yang telanjang diperbolehkan, tak beragama pun tak apa. jadi kebebasan beragamanya di sebelah mana? katanya agama apapun dijaga, tapi nyatanya yang beragama Islam dibantai dan diusir, bahkan tak diakui warga negara, seperti di Myanmar dan India.

Katanya menjaga kebebasan berekspresi, tapi menuntut aurat diumbar tanpa harga diri, giliran dilecehkan ngga mau disalahin bajunya, nyalahin pikiran kotornya. Namun giliran muslim mengibarkan bendera Rasulullah atau berdakwah tentang penerapan Islam dibilang radikal dan intoleran. menggambar karikatur Nabi katanya kebebasan berekspresi yang harus dilindungi. Sayangnya individu yang memainkan HAM ini dijaga oleh negara. Bahkan negara itulah yang menggunakan HAM sebagai tameng. Perancis misalnya, India, Myanmar, Amerika, bahkan Indonesia.

Skalanya sudah bukan individu. Skala negara, bahkan negara dunia. HAM dijadikan sebagai alat untuk mendapatkan sesuatu yang diraih. Yaitu adalah sekularisme dan kapitalisme. Sejak Amerika memenangkan perang dunia II, Amerika mengorkestrasi dunia dengan membentuk PBB dengan dia sebagai pemegang hak veto bersama negara-negara lain pemenang perang dunia II, dolar ditetapkan menjadi mata uang dunia, World Bank dan IMF sebagai lembaga moneter dunia diciptakan, HAM diluncurkan. Jadi, HAM adalah ciptaan negara adikuasa. Satu lagi, bahasa inggris ditetapkan menjadi bahasa internasional. Inilah dunia yang berubah 180 derajat pasca perang dunia II dengan Amerika sebagai pemenang perangnya. Dengan SEKULERISME-KAPITALISME sebagai ideologi landasan, dibangunlah sebuah peradaban baru yang menjadikan materi sebagai tujuan, dan dunia yang kita tinggali hari ini adalah dunia yang mereka ciptakan. Lalu mengapa HAM yang merupakan buah dari ideologi sekulerisme-kapitalise ini tidak akan pernah memihak kepada Islam?

Menurut pandangan mereka beragama boleh, tidak beragama juga boleh, asal jangan bawa-bawa agama untuk ngatur urusan negara. Padahal dunia tanpa agama itu bagai tubuh tanpa nyawa.
Tapi memang benar. karena dunia ini Allah ciptakan dengan seperangkat aturan untuk diterapkan.
Maka sebenarnya, HAM itu racun yang merusak. Banyak yang menggunakan HAM sebagai tameng untuk memuaskan hawa nafsunya. Akibatnya, mereka pun bebas melakukan apapun sekalipun itu haram. Jika ada yang melarang, misalnya orangtua atau teman, mereka bersikeras bahwa ini adalah hak asasi yang tidak boleh diganggu gugat. Maka tidak heran di negara-negara pengguna sistem Kapitalis-sekuler ini, perbuatan maksiat makin merajalela. Dalam demokrasi, seks bebas marak, aborsi menjamur, tayangan pornografi, umbar aurat jadi pemandangan sehari-hari, korupsi jadi tradisi. Semua atas nama kebebasan, atas nama HAM. Itu artinya, HAM bukan menyelamatkan manusia, tapi menyengsarakan manusia.

Timbul pertanyaan bagaimana mengatur jaminan atas hak-hak manusia?
Sebenarnya, Islam pun sudah mengatur jaminan atas hak-hak manusia. Tentunya beda sekali dengan konsep HAM ala demokrasi. Di dalam Islam, kita diperbolehkan melakukan beragam aktifitas atau menyampaikan pendapat, tapi bukan bebas tanpa batas, tetapi tidak boleh melenceng dari syariah. Islam sangat menjaga kehormatan manusia dengan memberikan beberapa jaminan yang sesuai fitrah manusia dan berdasarkan tuntunan dari Allah. Beberapa hak yang dijamin dalam Islam adalah : garis keturunan yang jelas, perlindungan terhadap akal manusia, kehormatan, nyawa, harta, rasa nyaman beragama, juga tentang rasa aman, dan pembelaan terhadap negara.

Jaminan ini berlaku bagi setiap warga negara tanpa membedakan ras, suku bangsa dan agama. Seperti pada masa Khilafah, yang dibangun berdasarkan aqidah Islam dan menerapkan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Seorang Khalifah wajib menegakkan hukum-hukum Allah, melindungi harta, kehormatan dan darah kaum muslimin. Rasulullah bersabda: ”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Mulianya Islam tidak hanya untuk Muslim saja, namun juga non muslim yang hidup di dalamnya. Islam menganggap orang yang tinggal di bawah naungan Islam sebagai warga negara Islam dan berhak mendapatkan perlakuan yang sama. Mereka mendapat hak yang sama sebagaimana Muslim, baik dari segi keamanan, kedamaian, kesejahteraan, dan keadilan. Rasulullah bersabda : “Barangsiapa membunuh seorang mu’ahid (kafir yang mendapat jaminan keamanan) tanpa alasan yang haq, maka ia tidak akan mencium wangi surga, bahkan dari jarak empat puluh tahun perjalanan sekalipun”.(HR. Ahmad).

Allahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *