Derita Uighur Derita Kita

Oleh : Nurul Inayati (Aktivis Muslimah dari Palembang)

Dilansir dari laman media online Liputan6.com, Dikantor staf Presiden Jakarta pada Senin, 23 September 2019. Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan, pemerintah Indonesia tidak mau ikut campur urusan negara China terkait masalah muslim Uighur di Xinjiang. Moeldoko menegaskan bahwa pemerintah tak bisa mengintervensi urusan dalam negeri China.
Moeldoko menyatakan bahwa pemerintah Indonesia tak akan masuk ke dalam urusan negara manapun. Termasuk China. Menurut dia, setiap negara memiliki kedaulatan untuk mengatur warga negaranya.

Mengapa Indonesia tak mau ikut campur urusan Uighur? Hal ini disebabkan Karena banyaknya Dana investasi Cina terhadap Indonesia. Lihatlah bagaimana media online TEMPO.CO merilis banyaknya investasi China di Indonesia. Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Denpasar, Bali, Gou Haodong mengatakan, sepanjang Januari hingga Juni atau enam bulan pertama 2019, investasi Cina di Indonesia mencapai US$ 2,3 miliar.
“Sejak tahun 2019, kerja sama Tiongkok-Indonesia membawa hasil yang sangat signifikan di bidang investasi. Dalam bulan Januari hingga Juni 2019, investasi Tiongkok di Indonesia mencapai 2,3 miliar dolar AS atau 16,2 persen dari total investasi asing di Indonesia,” kata Gou Haodong, di Kupang, Sabtu, 16 November 2019.

Inilah salah satu penyebab diamnya pemerintah indonesia, dikarenakan betapa banyaknya investasi cina yg masuk ke Indonesia, pantaslah Indonesia lumpuh untuk bergerak mengatasi masalah Muslim Uighur. Padahal, saudara muslim kita di Uighur mengalami penindasan, kedzoliman, hingga genosida masal (pembunuhan massal besar-besaran)

Miris, betapa tragisnya nasib yang didera umat Muslim saat ini, tidak ada tempat untuk mereka berlindung dari keberingasan dan kedzoliman para penguasa yang memang sangat membenci Islam, dan di tambah lagi umat saat ini tidak ada perisai (pelindung) untuk melawan karena ketidak adaan Negara Islam yg dapat melindungi umat Islam. Saat ini kondisi umat muslim bak sarapan yang ada di atas meja dan siap untuk di santap. Alhasil terjadi lagi untuk yang kesekian kalinya, saudara kita di Uighur di bantai. Bukan hanya Uighur. Gaza, Palestina, Suriah, Myanmar, India dan sebagainya.

Kedzoliman ini akan terus terulang karena tidak adanya tindakan tegas untuk bisa menyelesaikan permasalahan ini.
Padahal mereka berharap agar pemerintah Indonesia yg dinilai sebagai negara dengan mayoritas Muslim dapat menolong mereka, namun apalah daya pemerintah Indonesia tak bisa banyak bergerak dikarenakan sudah tersumpal Dana cina yang begitu besar, sehingga ia rela menumbalkan saudaranya sendiri demi urusan domestik nya.

Apalah daya tangan tak sampai, maafkan kami wahai saudaraku dengan ketidak berdayaan kami untuk menolongmu, dikarenakan sistem saat ini mengedepankan sekat-sekat nasionalisme kebangsaan sehingga suatu negara tidak boleh ikut campur dengan masalah negara lain menjadi sebuah alasan mengapa disistem ini Muslim di negeri lain tidak bisa meminta peradilan di negeri tetangga, dikarenakan beda negeri, beda etnis, beda ras dan beda suku.

Padahal di dalam Islam telah jelas dalil-dalilnya, Allah SWT berfirman :

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. “ (Q.S AlHujurat : 10)

Hadits-hadits senada sangat banyak. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Seorang mukmin bagi mukmin lainnya laksana bangunan, satu sama lain saling menguatkan. [Muttafaq ‘Alaih)
Rasulullah SAW bersabda :

عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّ
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. (HR. Muslim).

Dengan dalil-dalil di atas betapa Muslim itu bersaudara tidak memandang ras, etnis, dan suku, melainkan akidah yang satu,
namun yang dapat membuat semua ini nyata hanyalah dengan institusi Daulah islam, dalam bingkai (KHILAFAH)
manusia itu di manusiakan, jiwanya terjamin, keadilan dapat diraih. Sesungguhnya Islam rahmatanlilalamin.

Wallahualambisawwab…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *