Derita dan Mulianya Ibu

Oleh: Farida Nur Rahma (Dosen Ilmu Komunikasi dan Penyiaran)

 

Derita ibu dalam sistem kapitalisme semakin mengerikan. Ibu berperan ganda, sebagai ibu dan tulang punggung keluarga. Jargon pemberdayaan perempuan semakin menguatkan ibu untuk bekerja. Ditambah stigma di masyarakat yang mengganggap ibu produktif jika menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Walaupun risiko buruk terhadap kehormatan dan fungsi reproduksi mengancam.

Fakta naasnya nasib buruh perempuan mudah temukan. Mulai dari nasib wanita hamil yang menjadi buruh Aice. Tetap bekerja mengangkat beban dan kebagian shift malam bagi wanita hamil dianggap risiko biasa. Padahal, Juru Bicara Federasi Serikat Buruh Demokratik Kerakyatan (F-SEDAR) menyatakan bahwa sejak tahun 2019 hingga saat ini sudah terdapat 15 kasus keguguran dan enam kasus bayi yang dilahirkan dalam kondisi tak bernyawa (https://theconversation.com).

Tidak sampai di sini  perlakuan brutal terhadap buruh perempuan di perkebunan kelapa sawit pun yang mengalami pelecehan seksual, keguguran sampai sakit karena bertahun-tahun terkena polutan pestisida.

Tak ketinggalan Kementrian Perlindungan Perempuan dan Anak (KPPA) pun mengungkapkan bahwa 90% Tenaga Kerja Indonesia bermasalah adalah perempuan.

Berharap pada pemerintah dan perjuangan kesetaraan gender ibarat memeluk gunung. KPPA yang menyadari masalah ini sampai Februari 2018 telah mengeluarkan 6 solusi. Membentuk 2 UU, 2 Permen dan 2 Kesepakatan Bersama. Tapi sampai hari buruh 2019 data riset Perempuan Mahardhika dan Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP) di Kawasan Berikat Nusantara (KBN), Cakung, Jakarta Utara menunjukkan bahwa 50 % dari 773 buruh perempuan mengalami pelecehan seksual.

Hampir 100% diantaranya tidak melapor. Dimana letak keampuhan enam solusi tersebut?

Begitupun dengan perjuangan kesetaraan gender yang digaungkan serikat buruh seolah “tak bertaring”. Karena secara internal mereka mempunya triple fungsi sebagai ibu, buruh dan aktifis. Perusahaan menghalangi perjuangan mereka secara sistematis dan aktivitas serikat buruh yang dilakukan setelah jam kerja, hal yang berat untuk perempuan itu sendiri.

Secara eksternal, sistem kapitalisme memang memberikan kesetaraan gender kepada laki-laki dan perempuan yaitu sebagai alat produksi. Sehingga, para kapitalis membuka partisipasi kerja besar-besaran bagi perempuan. Tapi tidak akan pernah membayar lebih untuk mereka. Mereka akan cuci tangan untuk masalah jaminan kesejahteraan dan jaminan fungsi reproduksi buruh perempuan. Maka gagasan kesetaraan gender dalam mengatasi derita buruh perempuan adalah gagasan absurd.

 

Setelah rezim dan sistem kapitalisme gagal membuat perempuan sejahtera dan mulia, gagasan Islam wajib menjadi pertimbangan. Mengingat secara syariat, Islam memuliakan mereka dengan menempatkan perempuan di rumah untuk menjaga dan membina generasi. Islam tidak membebani mereka dengan kewajiban bekerja untuk menghidupi dirinya.

Islam membebankan kewajiban bekerja pada laki-laki. Kebutuhan sandang, pangan dan papan perempuan menjadi tanggung jawab wali perempuan baik ayah, suami, saudara kandung laki-laki maupun anak laki-laki.

Islam memberikan kesetaraan dalam hak pendidikan, karena syariat mewajibkan bagi laki-laki dan perempuan untuk menuntut ilmu.

Bahkan secara histori, pada masa Khalifah Hasyim III terdapat perguruan tinggi khusus perempuan. Raja George III  mengirimkan 18 pemudi dari puteri-puteri para pembesar menuju Andalus. Mereka mempelajari aturan-aturan kenegaraan, hukum, adab dan sistem pendidikan untuk kaum perempuan.

Tentu Islam pun memberikan kesempatan yang sama untuk perempuan mendedikasikan profesionalismenya dengan tetap memperhatikan penuh fungsi reproduksinya. Jika terjadi penelantaran hak-hak perempuan apalagi memberangus fungsi-fungsi perempuan dalam keluarga dan masyarakat maka sistem Islam akan menindak tegas pelanggaran dengan sanksi yang mampu memberikan efek jera.

Pemberdayaan perempuan dengan indikator partisipasi kerja hakikatnya adalah penjajahan bagi perempuan khususnya para ibu. Kesetaraan gender yang digaungkan di dunia industri adalah indikator kegagalan kapitalisme menyejahterakan dan memuliakan perempuan. Maka Islam telah memberikan seperangkat sistem bagi kesejahteraan dan kemuliaan perempuan khususnya ibu.

Oleh karenanya, kembali kepada sistem Islam menjadi pilihan dan solusi yang tepat mengatasi permasalahan umat.

Wallahu a’lam bishshawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *