Depresi Wanita Di Tengah Wabah

Oleh : Ummu Habib

Kasus bunuh diri hingga minum sperma.

Dari pantauan terakhir (24/5/2020) kasus penyebaran covid 19 yang dimuat oleh situs www.covid19.go.id, tercatat sudah ada 216 negara terinfeksi, ada 5.206.614 positif, meninggal 337.736. Sementara Indonesia sendiri tercatat 22.271 orang positif, sembuh 5.402 dan meninggal 1.372 orang.

Di tengah melonjaknya kasus ini, kita dipertontonkan oleh beberapa kejadian yang menimpa kaum wanita. Mulai dari percobaan bunuh diri, seperti yang dialami seorang perempuan di Surabaya, Jawa Timur Senin (11/5/2020) sore. Ia menabrakkan diri ke sebuah mobil yang tengah melaju di Jalan Kartini, Surabaya. Ditengarai akibat stress menghadapi wabah, demikian kata Hotman Paris Hutapea.

Dilansir dari VOA (5/4/2020) Sekjen PBB Antonio Guterres menyatakan bahwa meningkatnya tekanan sosial dan ekonomi akibat pandemi virus corona telah menyebabkan meningkatnya kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) pada wanita dan anak-anak perempuan.

Di Prancis, kasus naik sepertiga pada minggu pertama lockdown, sementara laporan naik 75% di Australia dan meningkat dua kali lipat di Lebanon.

Sementara itu Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) I Gusti Ayu Bintang Darmawati mengungkapkan, selama kurun waktu 2 Maret hingga 25 April 2020 terjadi 643 kejadian kekerasan terhadap perempuan dan anak (republika.co.id dan liputan6.com).

Fakta lain yang membuat para pegiat gender terhenyak adalah data tingginya angka kehamilan, ada 7 juta kehamilan disebabkan tertahannya alat kontrasepsi dan layanan aborsi, seperti dilansir kompas. Dan lucunya lagi, seorang wanita Inggris rela meminum sperma untuk meningkatkan imunnya.

Potret Kehidupan Wanita Selama Pandemi.

Munculnya berbagai permasalahan di atas tentu saja tak membuat kita heran. Hal ini karena sejak diberlakukannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) oleh pemerintah hampir dua bulan lalu, praktis banyak para suami yang dirumahkan alias di PHK. Tentu saja keputusan ini membuat gamang semuanya.

Suami yang secara alami bertanggung jawab terhadap nafkah keluarga, menjadi bingung dan frustasi karena sudah tak memiliki sumber penghasilan. Sementara tuntutan kebutuhan hidup kian meningkat akibat berkumpulmya keluarga. Istri yang kalang kabut dalam perencanaan keuangan. Memastikan agar asap dapur tetap mengepul. Dalam kondisi tekanan sosial dan ekonomi seperti itu, para suami sangat mudah terpicu emosinya hingga kalap dan melakukan kekerasan pada anak dan istri. Istri yang kemudian tak mampu membendung perlakuan kasar, menjadi marah dan akhirnya juga melakukan kekerasan pada anak. Jika susana panas terus saja terjadi di tengah keluarga, maka wajar jika ada istri yang nekad mengambil jalan pintas, bunuh diri.

Kasus lain, pada keluarga yang tulang punggung keluarga nya tidak terkena PHK alias WFH (Work from Home), seperti ASN, TNI-POLRI dan para pekerja sektor swasta lainnya juga mengalami frustasi. Mungkin tidak terlalu khawatir soal ekonomi, tetapi lebih kepada kejenuhan yang melanda para anggota keluarga karena geraknya terbatas.

Waktu untuk berkumpul bersama menjadi lebih panjang, yang boleh jadi akan memunculkan gesekan atas berbagai masalah yang terpendam selama ini. Yang tak sempat terpecahkan akibat kesibukan masing-masing.

Kebiasaan para Ibu yang selama ini menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak ke sekolah, tiba-tiba harus dihadapkan pada tanggung jawab domestik dan pendidikan anak secara bersamaan. Yang tentu saja menimbulkan ketegangan, rasa frustasi karena berhadapan dengan situasi yang baru. Anak-anak yang senantiasa menuntut ini itu seperti kondisi pra pandemi menjadi hal yang meresahkan para Ibu. Ditambah lagi tidak aware nya para suami dengan tugas domestik yang menggunung karena sehari-hari terbiasa dilayani. Tentu saja ini makin menambah kusut pikiran sang istri. Jika iman dalam kondisi lemah, maka tentu saja syaithon akan sangat mudah membisikkan kejahatan ke dalam dadanya. Maka tak heran kehidupan keluarga pun berkahir dengan perceraian, justru ketika seluruh anggota keluarga sama-sama berdiam di rumah.

Di sisi lain, para perempuan yang berprofesi sebagai tenaga kesehatan, berada di garda terdepan untuk memberi perawatan kepada masyarakat yang terkena virus covid 19. Mereka rela untuk tidak pulang hingga berhari-hari, mendekap rindu pada keluarga. Bahkan banyak diantara mereka yang akhirnya meregang nyawa dalam menjalankan tugasnya. Tentu saja peristiwa ini menimbulkan kesedihan mendalam bagi keluarga dan masyarakat. Apalagi ketika mendengar akan ajakan pemerintah untuk berdamai dengan corona, alias penerapan herd immunity. Seolah upaya mereka sia-sia. Karena orang-orang akan semakin besar terpapar virus, sehingga harapan para nakes untuk dapat segera beristrahat dan berkumpul bersama keluarga menjadi pupus.

Potret Kehidupan Wanita dalam Sistem Kapitalis Sekuler

Banyaknya kasus yang menimpa kaum wanita hari ini, dipicu oleh berbagai kebijakan pemerintah yang tidak memberikan perhatian yang besar pada kehidupan keluarga, dimana para wanita bernaung di dalamnya. Entah dalam posisi sebagai anak, istri, ibu ataupun anggota masyarakat.

Dalam posisi sebagai seorang istri, mereka dihadapkan pada berbagai persoalan. Dalam bidang ekonomi, para istri terpaksa harus turut memikul kewajiban nafkah dengan bekerja.

Karena lapangan kerja untuk kaum laki-laki semakin sempit, entah karena minimnya ketersediaan sektor riil ataukah karena tergeser oleh melimpahnya tenaga kerja asing. Sementara di satu sisi, peluang kerja bagi para wanita terbuka lebar. Meski masih didominasi pada sektor yang hanya memerlukan pendidikan dasar.

Maraknya program pemberdayaan perempuan yang diusung pemerintah sebagai bentuk diterimanya ide gender, telah memikat kaum perempuan untuk bisa lebih berdaya secara ekonomi dan tidak lagi tergantung sepenuhnya pada penghasilan suami. Akhirnya bermula dari sini, keretakan keluarga pun menjadi tak terelakkan. Bersebab seorang istri yang telah memiliki penghasilan, kadang merasa punya hak untuk mengatur dan merasa punya bargaining position di hadapan suami. Bermunculanlah para istri yang tak taat lagi pada perintah suaminya. Karena merasa sudah memiliki penghasilan sendiri.

Hal ini kemudian diperparah ketika para istri sudah mengenal glomournya kehidupan dunia maya. Dari gadgetnya dia dapat menyaksikan lifestyle para selebriti yang merangsang garizah baqa’nya untuk bisa tampil mempesona dalam balutan pakaian dan aksesoris branded. Untuk mendapatkan itu, tentu butuh dana yang besar. Akhirnya tuntutan untuk bekerja tak lagi semata membantu suami, tapi lebih kepada eksistensi penampilan tadi.

Mulailah terjadi riak-riak dalam keluarga. Ketika suami dan istri sama-sama sibuk bekerja. Pulang ke rumah dalam kondisi lelah. Kebutuhan psikis tak lagi digubris. Akhirnya masing-masing pun mencari pemuasan di luar sana. Muncullah orang ketiga yang membuat bangunan rumah tangga berakhir di pengadilan.

Dalam kehidupan yang demikian, tatkala seorang wanita memiliki anak, maka mereka akan menjadi korban ketidakharmonisan hubungan ayah ibunya. Mereka akan menjadi generasi BLAST (Bored, Lonely, Angry-Afraid, Stress and Tired).

Para wanita yang terjun ke dunia keluarga, memasuki perannya sebagai ibu dalam kondisi kosong tanpa bekal ilmu. Gempuran tantangan dari luar berupa tayangan tak mendidik, masyarakat yang individualistis, pergaulan bebas yang mengancam, membuat persoalan pendidikan anak dalam keluarga tambah runyam.

Maka tak heran jika dari hari ke hari, kita menyaksikan banyaknya para pelaku kemaksiatan, kriminalitas dan sebagainya berasal dari kawula muda.
Demikian potret kehidupan para wanita dalam sistem kapitalis sekuler, yang begitu berat karena abainya pemerintah dalam menjaga nilai-nilai kehidupan keluarga.

Potret Kehidupan Wanita dalam Sistem Islam

Islam diturunkan oleh Allah SWT, untuk memuliakan kaum perempuan. Mereka yang hidupnya terjajah oleh para lelaki arab dengan diperbudak, dikubur hidup-hidup akhirnya bisa merasakan kesetaraan yang hakiki di hadapan rabnya.

Ajaran islam yang mulia kemudian menempatkan mereka dalam posisi yang begitu istimewa. Sebagai ummu wa rabbatul bait, sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Perannya yang sangat besar untuk melahirkan generasi islam yang tangguh sangat didukung oleh khilafah dengan menjamin kebutuhan pangan, sandang, papan, pendidikan dan kesehatan secara murah bahkan gratis.

Dalam kondisi yang kondusif itu, membuat para wanita dapat tenang berdiam di rumah-rumah mereka untuk melaksanakan tugas mulia ini. Tak dipusingkan lagi dengan suami yang tak bekerja, tayangan yang tak mendidik, masyarakat yang individualistis. Justru mereka sangat bersemangat untuk melahirkan banyak mujahid dan mujahidah yang akan menjadi penyokong peradaban islam.

Penjagaan yang diberikan oleh islam kepada para perempuan dimulai ketika mereka masih berstatus sebagai anak. Jaminan masuk syurga kepada para orangtua saat memelihara anak perempuannya dengan baik, menjadi motivasi ruhiyah untuk mendidik mereka sebaik-baiknya.
مَنْ وُلِدَتْ له ابنةٌ فلم يئِدْها ولم يُهنْها، ولم يُؤثرْ ولَده عليها -يعني الذكَر- أدخلَه اللهُ بها الجن

“Siapa pun yang memiliki seorang anak perempuan yang lahir untuknya dan dia tidak menguburkannya atau menghinanya, dan tidak memanjakan anak laki-lakinya melebihi anak perempuannya, Allah akan mengizinkan dia untuk memasuki Jannah karena anak perempuannya. “(HR. Ahmad, dikoreksi oleh Al-Hakim).

Jika anak perempuan itu tumbuh dewasa, dia dijaga dan dirawat oleh pengasuhan penjaganya; ayah bersikap protektif, dan melindunginya dari bahaya. Jika dia menikah, dia dihargai dan dihormati. Dan suaminya harus memperlakukannya dengan baik, serta bersikap lembut padanya.
﴿وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Dan hiduplah bersama mereka dalam kebaikan.” [An-Nisa: 19]

Rasulullah juga bersabda :
“Bertindak baiklah terhadap perempuan” (HR. Ibn Majah).

Nabi SAW juga menyerukan para suami untuk bersikap ofensif terhadap istri mereka, dan mengabaikan kekurangannya serta menghargai kebaikannya.

«لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ»
“Seorang mukmin tidak boleh membenci perempuan mukminah (istrinya), jika ia tidak menyukai darinya salah satu perilakunya, maka dia menyukai darinya perilakunya yang lain” (HR. Muslim).

Maka di sepanjang sejarah peradaban islam, kita temui banyak sekali tokoh-tokoh wanita yang begitu menakjubkan. Baik dari sisi keilmuan, akhlak, kerelaan berkorban, hingga piawai dalam urusan politik dan perang. Juga lahir dari rahim mereka para generasi emas dalam jumlah yang melimpah.

Hanya dengan penerapan islam kaffah, perempuan dapat hidup tentram untuk melaksanakan misi penciptaanya di muka bumi. Wallahu ‘alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *