Dengan Islam Kaffah, Keluarga dan Generasi Terjaga

Tangerang-SuaraInqilabi– Rapuhnya ketahanan keluarga sangat dirasakan terutama oleh keluarga muslim. Banyak sekali ancaman yang bisa memporak porandakan ketahanan keluarga seperti gaya hidup hedonis, narkoba, kejahatan seksual hingga LGBT.

Khusus LGBT menjadi hal yang mengkhawatirkan terutama setelah mencuatnya kasus Renyhand Sinaga.
Membaca kegelisahan terutama di kalangan para ibu, Majlis Taklim Rindu Syariah Tangerang mengadakan kajian dengan tema “Islam Kaffah, Keluarga dan Generasi Terjaga.” Meski dilaksanakan pukul 13.00 di tengah cuaca mendung, para ibu tetap antusias hadir untuk mendengarkan pemaparan nara sumber, ustadzah Novianti. Kegiatan dilaksanakan di Komplek Perum Paku Jaya, Tangerang, Sabtu tanggal 25 Januari 2020.

Didalam kajian majlis dipaparkan bahwa LGBT sudah menjadi ancaman serius karena komunitas ini tidak sekedar kumpulan orang-orang berperilaku menyimpang melainkan sudah menjadi sebuah gerakan untuk pengakuan identitas. . Ada 3 hal yang menjadi targetnya yaitu pengakuan oleh negara dan agama serta adanya undang-undang yang memberikan perlindungan sehingga tidak ada diskriminasi bagi kaum LGBT. Mereka bisa bergerak bebas bahkan berkiprah seperti di partai politik, menjadi ASN.

Gerakan yang bermula di Amerika, negara dedengkot ideologi sekuler liberal makin menyebar. Keberhasilan propaganda LGBT kian nyata karena pernikahan sesama jenis sudah diakui beberapa negara seperti Belanda, Belgia, Amerika dan Australia. Puncaknya Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dalam pertemuan Kelompok Inti Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang “Mengakhiri Kebencian terhadap LGBT di Media Sosial dan Tradisional – Kebebasan Berbicara versus Lisensi untuk Kebencian”, di New York berkomitmen mendorong negara-negara untuk menghentikan ujaran kebencian yang dianggap sebagai dehumanisasi dan diskriminasi terhadap hak asasi manusia termasuk pada kelompok LGBT. (http://www.suarakita.org/2019/09/32557/).

Di Indonesia, strategi gerakan ini dapat dilihat pada hasil Dialog Komunitas LGBT 13-14 Juni 2013 di Nusa Dua, Bali, yang dihadiri 71 peserta dari 49 lembaga, termasuk wakil-wakil organisasi LGBT dari 15 provinsi di Indonesia. Indonesia memjadi salah satu target dalam program “Hidup Sebagai LGBT di Asia”. Edukasi pada masyarakat yang didanai oleh badan donor AS, USAID, untuk menyadarkan hak-hak LGBT di Asia terus dilakukan.

Melihat begitu massifnya propaganda LGBT, para peserta kajian menyadari bahwa perlindungan terhadap keluarga dan generasi tidak bisa dilakukan secara individu. Kelompok LGBT telah menjadi sebuah gerakan yang dibiarkan subur dalam sistem sekuler liberal.

Penghancuran kekokohan keluarga terjadi secara sistematik. Negara yang seharusnya melindungi dan menguatkan keluarga tidak berfungsi. Ibarat sebuah rumah, pintu dan jendela dibiarkan terbuka sehingga pemikiran-pemikiran sekuler liberal begitu deras meracuni bak gelombang tsunami.

Karena itu, para peserta bersepakat mendukung upaya penyelamatan keluarga dan generasi dengan melakukan beberapa strategi. Pertama, meningkatkan kualitas pola pengasuhan keluarga dengan menguatkan fondasi aqidah, mengajarkan syariah islam tidak hanya terkait ibadah tapi juga muamalah. Kedua, meningkatkan kepedulian pada kondisi umat islam dengan beramar makruf nahi munkar. Menyadarkan kaum muslimin untuk bersegera dalam ketaatan pada Allah.

Bencana kemanusiaan dan musibah yang diakibatkan ulah manusia sendiri sudah sedemikian rupa. Jumlah penderita HIV/Aids meningkat setiap tahun dan penyumbang terbesar adalah penyuka sesama jenis. Yang lebih memprihatinkan, sebagian besar kelompok ini adalah para pelaku biseksual sehingga para istri dan anak-anak tak berdosa rentan menjadi korban.

Penyadaran harus dilakukan secara massif dan berjamaah agar masyarakat melihat keagungan bangunan islam. Syariat islam adalah hukum yang bersumber dari wahyu Allah, syamil dan kamil, sempurna dan menyeluruh. Ini merupakan perwujudan dari perintah Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِين

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqoroh ; 208).

Melalui ayat ini, Allah menuntut setiap muslim masuk islam secara totalitas, mengambil seluruh hukum untuk diamalkan baik pada tataran individu, masyarakat dan negara. Dengan kata lain, kaum muslimin harus menolak setiap upaya yang akan mereduksi hukum islam dengan mengubah atau mentafsirkan yang hanya menurutkan syahwat dan logika akal.

Inilah tekad para ibu peserta majlis taklim yang semoga istiqomah untuk mempelajari islam lebih mendalam. Dengan ilmu, niat yang lurus, para peserta diharapkan menularkan semangat pada yang lain untuk melakukan perubahan. Gaung kerinduan untuk hidup dibawah naungan islam semakin tersyiar hingga terwujudnya islam sebagai rahmatan lil’alamin. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *