Dengan Dakwah Umat Islam Dihindarkan Dari Sikap Individualisme

Oleh: St. Rajma NS (Member Komunitas Revowriter)

 

 

Sungguh manusia itu dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh serta saling nasehati menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Salah satu inti dari ajaran Islam adalah menyeruh kepada umatnya untuk berdawah, yakni mengajak manusia kepada jalan Allah (tauhid) dengan hikmah (dalil atau argumen). Dan menjadi salah satu ciri seorang mukmin adalah kepeduliannya terhadap dawah. Bersama mukmin yang lain kita bahu membahu melaksanakan amar makruf nahi mungkar. kita yakin tidak ada aktifitas yang lebih mulia dalam hidup ini kecuali mendedikasikan diri dalam dakwah Islam.

 

Wujud kasih sayang manusia terhadap manusia yang lain adalah dengan saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran, walaupun hidup penuh dengan rintangan hambatan dan tantangan yang siap menghadang maka dengan barisan yang rapi dan kokoh dalam perjuangan serta individu yang amal ma’ruf nahi mungkar semua akan menjadih lebih mudah. Semua rintangan hambatan dan tantangan menjadi seni dalam menapak kehidupan hari demi hari. Namun semua itu akan dilalui dengan mudah jika kita sudah mengalami terpaan, yang membuat kita menjadi lebih bijak dan dewasa dalam menentukan pilihan, ibarat seperti pisau semakin diasah maka akan semakin tajam.

 

Dengan dakwah, umat Islam dihindarkan dari sikap individualisme dan tidak peduli akan nasib sesama. Pengalaman menunjukkan, bahwa sikap individualisme telah menimbulkan berbagai problem masyarakat yang tidak terbayangkan sebelumnya, seperti berkembangnya penyakit AIDS. Penyakit yang sangat mematikan itu, sebenarnya tidak perlu muncul jika saja masyarakat peduli terhadap pergaulan bebas dan maraknya perzinahan. Inilah tabiat masyarakat, terkadang suatu tindakan yang sekilas bersifat individual, tapi bila dibiarkan dampaknya akan berpengaruh secara komunal, persis yang digambarkan oleh Rasulullah SAW. dalam sebuah haditsnya.

 

“Perumpamaan keadaan suatu kaum/masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Allah adalah ibarat suatu rombongan yang naik sebuah kapal. Lalu mereka membagi tempat duduknya masing-masing, ada yang di bagian atas dan sebagian lagi  di bagian bawah. Dan bila ada orang di bagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang yang duduk di atasnya. Sehingga orang yang di bawah tadi berkata: “Seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan) air, tentu aku tidak mengganggu orang  yang di atas.” Bila mereka (para penumpang lain) membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa.” (HR. Bukhari).

 

Salah satu bentuk kerusakan yang terjadi di dunia ini karena kita tidak terlalu memperhatikan dakwah, kita merasa saleh jika kita telah sholat, puasa, zakat, akhlak baik dan berbagai amalan individu lainnya. Padahal dunia ini perlu peran kita dalam memperbaiki kerusakan yang ada, salah satunya dengan dakwah. Kalaupun ada yang mengambil peran dakwah kebanyakan dakwah yang dijalankan merupakan medan dakwah yang tidak memiliki resiko. Semakin tinggi keimanan seseorang maka akan semakin besar cobaan dan tanggung jawab yang dipikulnya. percayalah, amanah yang besar yang diberikan Allah SWT dalam bentuk dakwah, akan mudah kita laksanakan jika berada dalam suatu barisan yang teratur seperti suatu bangunan yang kokoh yang terpancar dalam wujud kasih sayang sesama manusia, itulah dakwah berjamaah.

 

Secerca harapan akan senantiasa terlihat apabila kita selalu dalam barisan dakwah. Misi utama Rasulullah Muhammad SAW adalah dakwah, mengajak semua manusia kepada jalan yang benar, memberi kabar gembira berupa pahala serta kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat (surga) bagi siapa saja yang bersedia mengikuti jalannya, juga memberi peringatan akan datangnya azab berupa kesengsaraan, kekacauan hidup di dunia dan akhirat bagi yang mengingkarinya. Wallahu a’lam bishowab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *