Demokrasi Dorong Parpol Politisasi Agama

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Atika Marsalya, S. Pd

 

Money politik dan politisasi agama semakin tercium aromanya menjelang pemilu/pilkada. Hingga mantan gubernur Nusa Tenggara Barat, TGB Muhammad Zainul Majdi, angkat suara dengan mengatakan politisasi agama semata untuk mendapatkan kekuasaan atau memenangkan kontestasi politik akan berdampak buruk dan berbahaya. “Menurut saya, politisasi agama bentuk paling buruk dalam hubungan agama dan politik. Sekelompok kekuatan politik menggunakan sentimen keagamaan untuk menarik simpati kemudian memenangkan kelompoknya. Menggunakan sentimen agama dengan membuat ketakutan pada khalayak ramai. Menggunakan simbol agama untuk mendapatkan simpati,” katanya, saat webinar Moya Institute bertema “Gaduh Politisasi Agama”, (Republika.co.id 19/11/2020)

TGB pun menilai akhir-akhir ini ada kelompok tertentu yang memolitisasi agama dengan tujuan politik, murni untuk mencapai kekuasaan. Bahkan Sekjen Dewan Masjid Indonesia (DMI) Imam Addaruqutni mencontohkan apa yang dilakukan HRS merupakan bagian dari politisasi agama. Mereka seakan lupa, apa yang dilakukan semua rezim yang berkuasa pun tak lepas dari politisasi agama. Lihatlah bagaimana calon presiden dulu mendadak islami. Mengunjungi para ulama dengan alasan silaturahmi. Bahkan keberadaan jabatan wakil presiden pun, menurut banyak pengamat politik seolah hanya didaulat sebagai pendulang suara. Bukankah ini pun politisasi agama?

Politisasi Agama untuk Mendulang Suara

Menjelang pilkada, para politikus gencar bermanuver di panggung politik. Mereka cepat berhitung, apakah aksinya mampu mendulang suara atau malah memecahnya. Karena kemenangan dalam kontestasi politik hari ini adalah seberapa besar suara yang mereka dapat.

Sebagai agama mayoritas, suara umat Islam tak bisa diabaikan. Siapa yang mampu merebut hati umat Islam, sudah bisa dipastikan akan menjadi pemenangnya. Lihatlah kemenangan Anies Baswedan atas Ahok di pilkada Jakarta, adalah bukti suara umat Islam sangat signifikan. Pasalnya, walaupun Ahok telah mendapat restu dari Presiden dan dikabarkan telah menerima gelontoran dana yang besar dari para konglomerat,  tidak serta merta menjadikannya pemenang. Tersebab penghinaan Ahok terhadap surah Al-Maidah ayat 50 telah melukai hati seluruh umat Islam sebagai pemilik suara mayoritas negeri ini.

Demokrasi Dorong Politisasi Agama

Politisasi agama adalah fenomena lama yang aromanya tercium kuat saat menjelang pilpres atau pilkada. Karena kemenangan politik dalam demokrasi adalah perolehan suara saat pemilu. Maka dari itu, suara umat Islam sangatlah besar pengaruhnya dalam kemenangan.

Bahkan, seorang kafir Joe Biden dalam kampanyenya menyebutkan sebuah hadis untuk mengkritisi kinerja Donal Trump. Sungguh, apa yang dilontarkan Joe Biden saat berkampanye dulu bukanlah merupakan keyakinannya kepada hadis tersebut. Hal demikian dia lakukan hanya untuk mengambil hati umat Islam Amerika.

Inilah yang dinamakan politisasi agama, yaitu menjadikan agama hanya sebatas alat pendulang suara. Sebagaimana hakikat sebuah alat, jika sudah tidak dibutuhkan, akan dibuang. Begitu pun apa yang akan terjadi pada suara umat yang hanya dijadikan alat meraih kepentingan politik. Jika sudah tercapai kepentingannya, umat tak lagi dibutuhkan. Inilah tabiatnya demokrasi. Sistem pemilihan yang hanya mengandalkan suara umat, nyatanya memosisikan agama dengan begitu rendahnya. Asasnya yang menolak agama dalam mengatur negara menjadikan agama seharga jumlah suara. Setelah kepentingan politiknya tercapai, agama akan dibuang jauh-jauh lantaran akan mengganggu proses berjalannya negara sekuler.

Inilah wujud politisasi agama yang kerap dilakukan politikus sekuler. Nyatanya, setelah menang, mereka melempar jauh-jauh umat Islam. Semua itu disebabkan sistem demokrasi yang selalu menelorkan penguasa yang tak menginginkan agama ikut campur dalam urusan negara. Kritik umat terhadap kebijakan penguasa, malah dianggap makar untuk menggulingkan mereka. Mengapa demikian? Karena mereka tahu jika agama yang menjadi landasan negara ini, penguasa rakus harta dan tahta tak akan bertahan lama. Korporasi pun tak akan tinggal diam, karena posisi mereka akan terancam punah.

Inilah alasan mengapa negeri ini mengidap Islamophobia akut, Karena Islam sebagai mabda akan mampu melenyapkan oligarki kekuasaan dan memberangus korporasi yang serakah. Agama Islam menjadi musuh bersama di negeri yang mayoritas penduduknya adalah muslim, sungguh keadaan yang membuat miris.

Arah Politik Hakiki Umat

Sungguh menyedihkan, posisi agama di kancah perpolitikan hari ini hanya sebatas pendulang suara. Namun, memisahkan agama dari politik untuk menghindari terjadinya politisasi agama bukanlah solusi. Seharusnya, agama menjadi pedoman berpolitik, bukan dipolitisasi atau dijauhkan dari politik. Agama justru akan memberikan arah dasar dari kegiatan politik tersebut.

Posisi agama bukan hanya pemanis saja, misal hanya dengan mengambil ajarannya yang mengharuskan para pemimpin adalah orang yang amanah. Karena, sebaik apa pun personal, jika dia masuk dalam politik demokrasi, akan terbawa arus. Demokrasi tidak akan mengakomodasi ajaran Islam. Mekanisme suara terbanyak telah mengkompromikan hukum Allah SWT.
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (TQS Al Anam 116)

Umat harus menyadari problem mendasar di negeri ini, mengapa permasalahannya tak kunjung selesai? Tak lain akibat bercokolnya sekulerisme yang meniscayakan pemisahan agama dari negara, agama tidak diperkenankan mengatur urusan publik termasuk sistem pemerintahannya. Untuk merubah keadaan yang demikian, negeri ini harus menjadikan agama sebagai landasan dalam segala aspek aktivitasnya termasuk berpolitik. Agar kekuatan politik yang diraih semata untuk menerapkan syariat Islam. Dengan diterapkannya syariat Islam, politisasi agama tidak akan terjadi.

Oleh karena itu, umat membutuhkan parpol sahih yang bervisi menerapkan syariat Islam dalam bingkai Daulah Khilafah. Bukan parpol yang sekadar menjadikan agama sebagai pendulang suara. Parpol tersebut haruslah mendekati umat dengan sabar. Mengedukasi mereka agar paham bahwa kaum muslim bisa beribadah dengan sempurna jika ada institusi yang menerapkan Islam.

InsyaAllah, parpol yang berideologi Islam dan memiliki visi mewujudkan kembali kehidupan Islam, serta menggunakan metode yang sesuai ajaran Nabi Saw., akan mendapatkan pertolongan dari Allah SWT.

 “Dan barang siapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sungguh, pengikut (agama) Allah itulah yang menang.” (Al Maidah 56). (www.muslimahnews.com)

Wallahua’alam bishawab.

 

 

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.