Demokrasi Bukan Solusi Atasi Pandemi

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh : Gien Rizuka (Komunitas Pena Islam)

 

Gelombang protes rakyat atas kegagalan pemerintah menangani pandemi tak jua membuat para pemimpin negara beranjak tuk meninggalkan demokrasi. Tak terkecuali Indonesia sendiri. Indonesia hingga detik ini masih menerapkan demokrasi yang telah terbukti gagal berkali-kali untuk mengatasi pandemi.

Demokrasi sendiri justru mendorong para pemegang kekuasaan bersikap kian otoriter., seperti halnya yang terjadi di Tunisia. Presiden Tunisia didesak oleh penasihat keamanan nasional AS, Jake Sullivan, untuk segera kembali ke jalur Demokrasi setelah mengambil alih kekuasaan pemerintahan pada Ahad lalu (Republika.co.id, 1/8/21).

Dalam percakapannya via telepon dengan Sullivan, Saied selaku presiden baru didesak agar secepatnya mengangkat perdana menteri baru untuk menstabilkan ekonomi Tunisia, mengkondisikan parlemen dan menghadapi covid-19.

Contoh lain dari kegagalan demokrasi mengatasi pandemi juga dirasa di Australia, Sydney dan Inggris. Fakta ini diterangkan Nadia di tayangan Youtubenya pada 31 Juli 2021. Nadia menjelaskan bahwa semua negara telah gagal menanggulangi pandemi meskipun salah satu negara mematuhi prokes dengan sangat ketat.

Nadia juga menambahkan bahwa pemerintah akan lebih cermat menangkis lonjakan kasus covid-19. Karena pemerintah sendiri akan berkaca dari lonjakan pada awal tahun 2021 lalu. Namun di sisi lain, Nadia tak mengelak fakta bahwa sampai detik ini pemerintah masih kurang siap dalam menghadapi kasus lonjakan yang sudah mencapai 50.000/hari (Tribunnews.com, 31/7/21).

Fakta Ini telah mengisyaratkan bahwa Demokrasi bukanlah solusi yang patut dijadikan harapan. Karena demokrasi secara nyata telah melahirkan para pemimpin yang semena-mena membuat kebijakan. Alih-alih kebijakan itu menyelesaikan masalah, yang ada menambah masalah.

Sebaliknya, Demokrasi sendiri malah semakin memperburuk keadaan dalam menangani persoalan-persoalan di berbagai negara. Termasuk menanggulangi pandemi yang sudah dua tahun ini menerpa berbagai negara di dunia. Sehingga pandemi yang tak jua kian teratasi, memicu lahirnya wabah varian baru di berbagai negara, contohnya saja Alpha (Inggris), Beta (Afrika selatan), Efsilon (Amerika), Gamma (Brazil ), Delta (India) dll.

Sudah saatnya para pemimpin negara seluruh dunia membuang jauh sistem demokrasi dan segera menerapkan sistem Islam sebagai solusi. Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah kala mengatasi wabah. Dengan praktek menerapkan panduan Islam, saat itu Rasul berhasil memusnahkan wabah. Hal ini termaktub dalam hadis berikut, “Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam, saat sampai di wilah bernama Sargh. Saat itu Umar mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengatakan pada Umar jika Nabi Muhammad SAW pernah berkata, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhori).
Wallahua a’lam bishshawwab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.