Demi Uang, Urat Malu Pun Hilang

Oleh: Azhary Ideologis

Ketika hati tergerak dan kaki mulai melangkah, maka di luar sana ada banyak hal yang ingin Allah perlihatkan kepada kita.

Mulai dari keindahan semesta, sejuknya udara, rintiknya hujan, panasnya sengatan Mentari, pekatnya debu, baunya tumpukan sampah, hingga polah manusia yang tak semua terlihat Indah di pandang mata.

Namun, hanya sedikit diantara kita yang mampu menyibak hikmah dari setiap kejadian yang Allah tampakkan. Mereka yang tidak memiliki sensitivitas, hanya akan menilai sebuah kejadian seperti halnya episode biasa dalam kehidupan.

Beberapakali didapati seorang pengemis wanita dalam bis yang biasa ditumpangi mahasiswa, kerudungnya yang tak pernah berganti, jilbab hitamnya yang menjulur, juga cara jalannya yang terseok-seok menjadikan dirinya sangat mudah dikenali.

Ketika melihatnya, hati nurani kita yang masih terjaga pasti akan merasa iba. Dan tak butuh waktu lama pikiran kita pun memberikan sinyal untuk segera memberinya sejumlah uang.

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya maklumat, proses berpikir pun berubah. Yang awalnya ketika melihat pengemis tadi hati kita mudah tersentuh, kini tak lagi demikian. Disini, bukan berarti kita tak ingin memberi. Tapi ada alasan lain yang membuat kita tak lagi berempati.

Suatu saat didapati bahwa ada dua fakta yang saling bertolak-belakang. Ketika di dalam bis, si Wanita itu berjalan terseok-seok dan seringkali menggapai pundak penumpang untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Namun, ketika ia turun dari bis dan tidak sedang menjalankan profesinya sebagai pengemis, ia mampu berjalan dengan normal. Bahkan tak ada sedikitpun gurat kesedihan dan kekhawatiran yang ia tampakkan seperti halnya ketika di dalam bis.

Jika kita melihat fakta ini dengan sepintas, maka kita akan menyimpulkan bahwa benar si Wanita tadi adalah penipu, pembohong, urat malunya telah putus demi mendapatkan sejumlah uang recehan. Dan bisa jadi, dirinya tak menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah perbuatan yang tidak dibenarkan.

Urat malu yang terputus pun tidak hanya terjadi kepada para pengemis yang berpura-pura sakit atau miskin, tetapi terjadi juga di kalangan para pejabat yang hobi mencopet uang rakyat.

Ada banyak sebab mengapa para pengemis memberanikan diri untuk bersandiwara, juga para koruptor yang dengan berbangga hati dan tak merasa bersalah memakan uang rakyat.

Salahsatunya adalah lemahnya peran negara dalam mengurusi kepentingan dan kebutuhan rakyat. Juga lemahnya aturan yang diterapkan dalam pemerintahan, sehingga para koruptor tetap bisa bergerak bebas tanpa rasa malu setelah memakan hasil curian. Mereka tak jera dengan hukuman yang ditimpakan. Dan kejadian itupun terus berulang.

Karena faktanya, sistem demokrasi yang menghantarkan mereka kepada kursi kekuasaan sangat mahal harganya. Sehingga ketika berhasil mendudukinya, mau tak mau pengembalian modal saat kampanye adalah sebuah keniscayaan. Maka jalan korupsi, adalah jalan yang paling efektif yang menjadi pilihan.

Hari ini, ketaqwaan tidak mudah kita dapati. Tersebab sistem kehidupan yang diterapkan, tidak mampu melahirkan orang-orang yang takut kepada Sang Khalik. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *