Demi Pertumbuhan Ekonomi, Haruskah Rakyat Menjadi Korban?

Oleh : Wida Eliana

Entah apa yang dipikirkan pejabat negeri ini dengan dibukanya kembali tempat wisata. Apakah karena ekonomi terpuruk ataukah karena desakan pengusaha dan pengelola, yang jelas kondisi ini membuat khawatir.

Pandemi belumlah usai tapi antusiasme piknik dan pelesir dari masyarakat cukup banyak jika dilihat beberapa area wisata disinggahi pengunjung lokal terutama wilayah kabupaten Bandung, Jawa Barat dengan destinasi wisata yang luar biasa menggiurkan.

Fakta tersebut terjadi seiring dengan adanya pemberitaan pada awal Juni lalu yang mengabarkan beberapa akses wisata di Bandung mulai kembali beroperasi dengan catatan tetap memperhatikan protokol kesehatan dan sertifikat aman Covid-19.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Bandung mempersilakan pengelola objek wisata untuk mengajukan sertifikasi aman Covid-19, saat kembali beroperasi di masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).

“Sertifikasi merupakan sebuah surat resmi (sertifikat) dari pemerintah yang menyatakan suatu objek wisata sudah memenuhi syarat dan ketentuan serta menerapkan protokol kesehatan dengan baik.” kata Yosep Nugraha, Kepala Disparbud saat on air di Radio PRFM 107,5 News Channel, senin (22/6/2020).

Kekhawatiran dibukanya wisata di kala belum usainya wabah tak bisa dipungkiri buah dari diberlakukannya kapitalisme yang ada di tengah umat terlebih dari pemilik kebijakannya. Kaum kapitalis tidak mau merugi dengan diberlakukannya lockdown atau karantina wilayah. Selain tidak ada pemasukan, pekerja terancam PHK, juga karena tidak menutup kemungkinan pengusaha gulung tikar akibat aturan tersebut. Maka pada akhirnya tempat wisata dibuka kembali dengan taruhan nyawa masyarakat.

Kaum kapital berupaya menggenjot keuntungan secara materi melalui aset wisata. Hal ini wajar saja, karena sektor pariwisata menjadi salah satu aspek penyokong ekonomi sebagai penyumbang APBD. Setelah pajak dan sektor pengelolaan SDA tak mungkin bisa diharapkan secara penuh.

Dalam pandangan Islam berwisata adalah hal yang mubah (boleh) dalam rangka untuk mendekatkan diri pada Rabb-Nya sekaligus sebagai sarana refresing dari kejenuhan agar kembali semangat menjalankan kewajiban selanjutnya yang tentunya tetap berlandaskan hukum syara. Adapun jika situasi pamdemi seperti saat ini, Islam akan lebih mengutamakan aspek kesehatan dan keselamatan nyawa manusia. Bukan ekonomi ataupun desakan dari kelompok tertentu.

Adapun dari sisi pemerintah, Islam memandang bahwa hal yang paling urgen di saat wabah adalah menyelesaikan wabahnya terlebih dahulu. Disertai pemenuhan kebutuhan rakyat baik primer atau sekundernya. Lebih jauh lagi bahwa Islam tidak menjadikan sektor pariwisata sebagai sumber pendapatan negara maupun daerah (APBN/APBD) seperti sekarang.

Jika dilihat dari kacamata akidah Islam, pengelolaan APBN/APBD saat ini sudah melenceng dari ketentuan yang telah digariskan oleh Allah Swt. dan Rasul-Nya. Penyusunan APBN tak sejalan dengan syariat tapi murni didasarkan pada sistem kapitalisme yang pada prinsipnya memisahkan peran Islam dalam pengelolaan hajat publik seperti menggantungkan penerimaan negara dari pajak meskipun menyusahkan rakyat. Alhasil, penyusunan APBN dengan dasar sistem kapitalisme terbukti tidak hanya menzalimi rakyat namun juga telah melecehkan banyak ketentuan yang terkandung di dalam Al-Quran dan As-sunnah.

Yang lebih penting lagi bahwa Islam tidak menjadikan pariwisata sebagai sumber pendapatan negara di karenakan sistem Islam memiliki sumber pendapatan lain dengan memaksimalkan pengolaan sumber daya alam (SDA) di samping kharaj, jizyah, fa’i dan yang lainnya yang dijadikan sebagai pemasukan negara untuk kepentingan umat.

Tidak mudah memang menghadapi pandemi ini, tetapi sesungguhnya Islam dengan aturan-aturannya yang terperinci adalah solusi hakiki yang mampu mengatasi wabah. Syariat Islam telah memberikan rambu-rambu kepada kita bagaimana seharusnya menyikapi pandemi ini melalui contoh Rasulullah saw. lalu diikuti masa khalifah Umar bin Khaththab ra. saat wabah tha’un menimpa kaum muslimin dengan jumlah korban sangat banyak. Melalui praktik itulah sebetulnya kehidupan umat terarah sesuai syara dalam kondisi apapun sehingga kita tetap bisa maksimal menjalankan peran kita dengan baik. Maka sungguh merugi jika kita jatuh pada kesenangan duniawi tapi melanggar aturan Ilahi.

Islam dengan karakternya sebagai ideologi akan mampu menjadi solusi tuntas dari segala krisis, sebab aturannya bersifat praktis tak sekedar teoritis. Bukan pula mengedepankan materi sebagaimana paham kapitalisme.

Wallahu a’lam bi ash shawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *