Darurat Pangan di Belahan Dunia

Oleh : Ummu Chintya (Anggota Komunitas Kesatria Aksara Bandung)

 

Suriah mengalami krisis pangan yang belum terselesaikan hingga kini. Seorang pria dari kota Zabani mengatakan, bahwa keluarganya yang beranggota empat orang telah berhenti makan keju dan daging pada awal tahun 2020. Kini dia hanya mengandalkan roti untuk makanan mereka. Namun, dengan kenaikan harga roti dan adanya batasan dari pemerintah, dia dan istrinya terpaksa hanya memakan secuil roti tiap hari nya.

 

Roti telah lama menjadi makanan pokok di suriah sebelum tahun 2011. Negara ini mampu memproduksi cukup gandum untuk memenuhi kebutuhan konsumsi roti dalam negeri. Namun sejak perang berkecamuk di suriah produksi dan persediaan roti pun mulai menipis. (Republika.co.id, 30/05/2021)

 

Di saat belahan dunia yang lain kelaparan, masih ada negara yang mengalami surplus pangan. Negara-negara pelaku kapitalis telah berhasil mengambil kekayaan SDA negara berkembang. Melalui perusahaan-perusahaan yang bercokol di negeri orang, mereka dapat hidup rukun, damai dan terpenuhi kebutuhannya. Atas dalih kerja sama atau investasi, para kapitalis itu akan meraup keuntungan. Ada juga negara islam yang kaya karena hasil tambangnya. Rakyatnya hidup dalam gemerlap harta, beragam fasilitas diberikan kepada penduduknya dan kehidupan yang serba cukup bahkan berlimpah membuat negara tersebut menjadi negara terkaya di dunia. Tetapi di sisi lain ada negara-negara yang mengalami darurat pangan.

 

Sekat Nasionalisme telah mampu mempengaruhi kemanusiaan untuk mengulurkan bantuan. Padahal mereka sama-sama muslim. Tak sedikitpun hati mereka tergerak untuk memberikan bantuan. Akibat sistem kapitalisme inilah yang membuat orang berfikir bahwa masalah negara lain bukan tanggung jawabnya meskipun kepada saudara muslim. Jutaan orang kelaparan di suriah sebagian besar karena kegagalan pemerintah suriah dalam mengatasi krisis pangan, salah satunya krisis roti.

 

Kondisi ini sangat berbeda pada saat kaum muslim memiliki pemimpin. ia bertindak sebagai pengayom dan pengurus urusan rakyat sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khaththab. Saat itu dunia arab sedang dilanda bencana kekeringan hingga membuat masyarakat harus hijrah demi mendapatkan bantuan. Sang khalifah dengan tangan terbuka menerima mereka, meski berasal dari wilayah yang jauh. Beliau menjadi pemimpin dan panutan dan senantiasa mendahulukan rakyatnya. Umar tak akan makan sebelum seluruh rakyatnya kenyang. Bahkan soal makanan pun tak ingin dikhususkan. Sang khalifah hanya makan makanan sama seperti rakyatnya, minyak zaitun dan roti.

 

Dalam mengatasi krisis pangan, negara akan membuka lapangan kerja dan memberikan pinjaman modal tanpa bunga bagi rakyatnya. Selain itu, negara juga akan memberikan fasilitas untuk bertani bagi petani mulai dari pupuk dengan harga murah atau bahkan gratis, penjagaan lahan sawah agar tidak dialihfungsikan, penelitian untuk perkembangan hasil hortikultura, hingga pelatihan pertanian modern untuk mengembangkan pertanian.

 

Untuk itu, kita butuh pemimpin yang memahami tanggung jawabnya sebagai kepala negara sekaligus sebagai seorang muslim yang terikat dengan hukum Allah. Kepemimpinan yang satu ini adalah kepemimpinan islam sebagaimana yang telah dicontohkan pada zaman khalifah Umar bin Khathab dan para khalifah yang lainnya. Semua itu akan bisa terwujud dengan menerapkan sistem dan aturan yang komprehensif termasuk soal pengaturan jaminan pangan yang dipastikan dapat mengatasi krisis pangan.

 

Wallahu’alam Bishawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *