Dari PKPR hingga Sekulerisasi, Ide Perusak Generasi

Oleh : Patimatul Jahroh,SEI. (Anggota Komunitas Aktif Menulis)

PKPR (Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja) adalah program pemerintah yang diampu dinas kesehatan ditingkat kabupaten/kota, dikoordinasi oleh diknes tingkat provinsi untuk melayani kesehatan remaja.

Program ini telah berjalan sejak 2013. ditingkat lapangan, PKPR dijalankan oleh Puskesmas dengan target ditiap Kabupaten/Kota ditergatkan mempunyai minimal 4 Puskesmas PKPR. Dan menjalankan Pelayanan konseling kepada semua remaja yang memerlukan konseling yang kontak dengan petugas kesehatan Membina minimal 1 sekolah (sekolah umum; sekolah berbasis agama) dan Melakukan KIE 2 kali setahun untuk Melatih KKR/konselor sebaya 10% jumlah murid di sekolah binaan.

PKPR diharap mampu menjangkau remaja serta berkesan menyenangkan, menerima remaja dengan tangan terbuka, menghargai, menjaga rahasia, peka akan kebutuhan terkait dengan kesehatan remaja, serta efektif dan efesien dan komperhensif dalam memenuhi kebutuhan tersebut.

Kegiatan yang mereka lakukan melalui penyuluhan, pelatihan konselor remaja, pembinaan kader remaja, konseling, dan pelayanan medis.

Adapun penunjukan Pembina dari unsur sekolah atau luar sekolah yang secara aktif melakukan pendampingan terhadap konselor sebaya dibawah koordinasi petugas puskesmas PKPR, adalah guru BK, guru UKS, ketua atau pimpinan dari kelompok kelompok remaja.

Dan untuk memastikan program PKPR ini berjalan sesuai target maka pihak Puskesmas berkomunikasi langsung kepada semua stakeholders (Camat, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Sekolah, Pemuka masyarakat, Masyarakat, Perusahaan swasta, LSM yang peduli remaja, Orang tua, Kelompok-kelompok remaja, Karang Taruna) untuk mendapatkan komitmen dan dukungan terhadap program PKPR.

Intervensi PKPR meliputi: Pelayanan kesehatan reproduksi remaja (meliputi infeksi menular seksual/IMS, HIV&AIDS) termasuk seksualitas dan pubertas, Pencegahan dan penanggulangan kehamilan pada remaja, Pelayanan gizi (anemia, kekurangan dan kelebihan gizi) termasuk konseling dan edukasi,Tumbuh kembang remaja, Skrining status TT pada remaja, Pelayanan kesehatan jiwa remaja (masalah psikososial, gangguan jiwa, dan kualitas hidup), Pencegahan dan penanggulangan NAPZA, Deteksi dan penanganan kekerasan terhadap remaja,Deteksi dan penanganan tuberkulosis, Deteksi dan penanganan kecacingan.

Sungguh keberadaan PKPR ternyata tak mampu menyelesaikan problematika remaja. Pasalnya kenakalan remaja semakin diluar nalar akibat gaya hidup yang bebas dan sejalan dengan barat.

Padahal, Generasi muda adalah aset yang mahal, dan ia tak ternilai harganya. Tapi kini wajah pemuda telah dirusak oleh paham-paham Barat seperti liberalisme, sekularisme, dan isme-isme lainnya yang memang digunakan untuk menginfiltrasi pemikiran generasi muslim.

Kapitalisme memang selalu mejadi Arus deras racun pemikiran barat ini terus disebarkan secara tersruktur dalam bentuk kebijakan-kebijakan Negara secara umum maupun kebijakan khusus diseluruh lini masyarakat.

Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa sekulerisme adalah ruh kapitalisme. Memisahkan agama dari kehidupan sehingga segala hal selalu di liberalisasi demi memperoleh keuntungan finansial walau harus mengadaikan moralitas masyarakat, khusus nya para pemuda, yang masih menjadi remaja labil belum punya jati diri bahkan kelak akan mengisi peradaban bangsa ini.

Maka wajar jika kapitalisme akan melakukan segala cara demi mempertahankan marwahnya dengan selalu memastikan bawah sistem kuffur kapitalisme demokrasi masih di terapkan bahkan masih di cintai rezim ini.

Sehingga para pembenci islam harus terus mendesain rencana jahatnya dengan menamkan paham liberalisme dan sekulerisme ke seluruh umat, termasuk agenda bahela PKPR yang serat dengan agenda Sekulerisasi remaja dengan berkedok kesehatan remaja.

Walhasil, keberadaan PKPR gagal menyelesaikan problematikan remaja, justru menambah rusak moral remaja karena salah mendiagnosa dan salah solusi karena mengkiblat pada barat.

Hingga yang ada remaja kini makin liberal dan memahami bahwa dunia sebagai tempat bersenang-senang dan tak perduli pada penghisaban amal perbuatan dihadapan Allah kelak.

Padahal, Islam selalu punya solusi atas seluruh problem kehidupan, karena Islam dengan pemerintahan islam yakni
Penerapan syariah dan khilafah dalam sebuah institusi negara saat tegak maka seluruh pintu kemaksiatan akan ditutup.

Karena Khilafah akan menegakkan kemakrufan, dan mencegah kemunkaran. Termasuk melalui sektor-sektor yang dibahas di atas tadi. Sebagaimana yang disampaikan hadist dibawah ini:

_”Barang siapa melihat kemungkaran maka hendaknya dia merubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka hendaklah merubanya dengan lisannya, dan jika tidak mampu hendaknya dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman”. (HR. Muslim)_

Benarlah bahwa pemerintahan islam wajib menerapkan aturan dan sanksi yang tegas terhadap perilaku kriminal. Dengan penerapan Islam secara kaffah, mulai dari Pendidikan, ekonomi, politik, keamanan, Budaya dll, maka dengan Khilafah perilaku generasi terutama remaja akan semakin terkendali dan berubah menjadi generasi yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia.

Dan Hanya penerapan Syariah islam secara kaffah dalam naungan khilafah saja yang mampu menyelesaikan probelmatika manusia. Dan hanya khilafah saja yang mampu melahirkan individu yang beriman dan bertakqwa, juga masyarakat yang perduli dan negara yang berdaulat terhadap hukum-hukum Allah sehingga melahirkan kebijakan benar dan adil. Inilah idaman bagi setiap insan manusia..!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *