Dampak dari Telatnya Sebuah Kebijakan

Oleh: Ima Khusi

Menteri pendidikan Nadiem Anwar Makariem memutuskan untuk membuka kembali kegiatan belajar dan mengajar secara tatap muka di wilayah yang berstatus zona hijau atau zona aman penyebaran virus corona (Covid-19) pada tahun ajaran baru 2020/2021. (CNN Indonesia)

Keputusan dari sang menteri inipun menuai pro dan kontra,mengingat jumlah pasien covid 19 ini makin hari makin bertambah. Apalagi jumlah korban covid 19 ini sebagian besar banyak dari kalangan anak-anak juga.

Meskipun syarat dari kebijakan ini berlapis dan harus benar-benar memperhatikan protokol kesehatan, rasanya tidak mungkin untuk membuat anak benar-benar aman. Karena siapapun tidak ada yang bisa menjamin anak-anak tahan untuk memakai masker dalam waktu lama dan menaati protokol kesehatan lainnya.

Sekolah dengan tatap muka seyogianya memang lebih menyenangkan daripada sekolah online, apalagi selama online bentuk pembelajarannya hanya berupa tugas dan bukan bimbingan. Ditambah tidak boleh beraktivitas di luar rumah, menambah tingkat stres dan tekanan pada anak-anak, karena sejatinya anak-anak lebih senang bersosial dan bergaul dengan banyak teman.

Sejak awal, kebijakan yang dikeluarkan pemerintah memang terburu-buru khususnya dalam hal pendidikan. Dari awal kemunculan pandemi corona, keputusan untuk meliburkan anak sekolah tanpa melihat wilayah wabah itu saja sudah salah, ditambah keputusan belajar via online yang jelas-jelas tidak semua daerah dan masyarakat menjangkau internet. Sungguh sebuah potret dunia pendidikan yang buram dari kurikulum yang boros waktu.

Seharusnya kebijakan ini dikeluarkan sebelum wabah covid 19 ini merebak. Karena kala itu covid 19 ini belum menyebar luas dan jumlah pasien masih bisa dihitung jari. Namun karena pemetaan wilayah wabah serta kebijakan pemerintah yang amburadul dan kurang tegas, menyebabkan daerah yang saat itu masih zona hijau ikut-ikutan meliburkan anak-anak sekolah. Sehingga pada saat daerah tersebut sudah masuk zona orange atau merah anak-anak sudah mengalami kejenuhan dan kebosanan.

Padahal bisa dilihat dari peta jangkauan wabah covid 19, sudah hampir keseluruhan dari peta Indonesia berwarna merah. Artinya zona hijau sangat sulit ditemukan. Dan ini sudah jelas kebijakan sang menteri yang mengijinkan sekolah dibuka perlu dipertanyakan.

Pada akhirnya kebijakan pemerintah untuk membuka sekolah ditengah pandemi yang sedang meningkat tajam ini, seakan-akan hanya menjadikan anak-anak tumbal dan bahan uji coba, dan berlakulah herd immunity “siapa yang kuat imunnya maka bertahan, dan yang imunnya lemah akan tumbang”. Naudzubillah

Inilah jika sebuah kebijakan dikeluarkan hanya berdasarkan kepentingan segelintir orang bukan pada manfaat dan maslahat yang akan diterima oleh rakyat maupun semua elemen kehidupan. Dan hal seperti ini akan terus berulang selama aturan yang dipakai adalah aturan manusia yang jelas alpha. Berbeda jika aturan yang dipakai adalah aturan yang dibuat oleh pencipta manusia dan alam semesta pasti akan nampak maslahatnya.

Sejatinya hanya Islam dengan aturannya yang akan membawa perubahan terhadap generasi bangsa ini, khususnya dunia pendidikan yang akan menjadi akar dari sebuah peradaban. Baik atau buruknya sebuah generasi bangsa bukan terletak pada canggih atau tidaknya teknologi, namun pada pendidikan yang mengenalkan siapa diri kita, untuk apa kita hidup, dan akan kemana setelah hidup.

Selain itu, Islam juga akan melahirkan para pemimpin yang amanah, takut pada Allah dan senantiasa mengikuti teladan kita Rasulullah Saw. Mendidik generasinya menjadi individu-individu yang bertaqwa dan akan senantiasa tunduk patuh pada aturan dan hal ini hanya bisa dilaksanakan apabila aturan Allah ditegakkan dan diterapkan dengan mengganti sistem buatan manusia ini dengan sistem Islam yaitu khilafah ala min haji nubuwwah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *