Dalam Sistem Islam, Minyak Untung, Tidak Tekor

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Abu Mush’ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)

Sebuah berita yang ditayangkan di Viva.co.id mengejutkan publik (24/8/2020). “Pertamina rugi Rp.11 Trilun, Ahok Trending di Twitter” demikian tajuk beritanya.

Publik pun bertanya bagaimana bisa rugi sebesar itu. Rp.11 Triliun bukan jumlah yang sedikit. Uang sebanyak itu bisa membuat dua buah jalan dari bumi ke bulan.

Pertamina, seperti dikutip dari Viva.co.id , menjelaskan bahwa pihaknya menghadapi triple shock yakni penurunan harga minyak mentah dunia, penurunan konsumsi BBM di dalam negeri serta pergerakan nilai tukar dolar yang berdampak pada rupiah sehingga terjadi selisih kurs yang cukup signifikan. Penurunan ini terjadi diakibatkan oleh pandemik COVID-19 yang menghantam Pertamina.

Tetapi kalau kita mau cermati lebih seksama kerugian besar ini sebetulnya lebih diakibatkan oleh sistem kapitalis yang tidak berpihak kepada negeri ini. Para kapitalis baik individual mau pun perusahaan (dalam dan luar negeri) telah mencaplok SDA Indonesia.

Sehingga menyulitkan Pertamina dalam mendapatkan untung yang lebih besar. SDA yang melimpah telah diambil oleh para kapitalis sehingga semakin memperkaya diri mereka dan negara kapitalis lainnya.

Contohnya, AS lewat perusahaan Freeport nya telah mengambil ratusan kilogram emas (belum termasuk uranium) dari bumi Papua. Ini baru freeport belum lagi ratusan daerah tambang dan migas yang terletak di seluruh Indonesia.

Menurut presentasi dari Mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo, daerah-daerah migas telah dikuasai oleh bendera-bendara asing (baca: perusahaan asing). Sehingga tidak heran kalau Pertamina sempat rugi.

Karena daerah yang ditanganinya sedikit sedangkan lahan lain dikuasi asing. Seringkali perusahaan nasional “kalah tender” dengan perusahaan kapitalis padahal perusahaan nasional memiliki kemampuan yang profesional.

Pertamina, misalnya, pernah mengelola minyak di lepas pantai Perancis. Ini menunjukkan bahwa Pertamina mampu dan mendapatkan proyek dari negara lain.

Maka jika ada perusahaan nasional merugi dalam jumlah yang sangat besar diduga bukan saja karena manajemen pemimpinnya yang tidak bagus. Tetapi juga tidak didukung oleh sistem kapitalis.

Padahal Islam punya solusi agar minyak dan bahan tambang lainnya memberikan devisa yang sangat besar bagi negara.

Rasulullah SAW bersabda, “Kaum Muslimin berkumpul dan berserikat dalam tiga hal: Api, Air dan Padang Gembalaan” (hadis Shohih riwayat Imam Abu Dawud). Ini artinya migas dan barang tambang tidak boleh dikuasai oleh individu mau pun perusahaan kapitalis.

Jika semuanya dikelola oleh negara, maka negara akan untung ribuan triliunan setiap tahunnya. Bukan malah tekor. Dengan keuntungan sebesar itu bisa dalam waktu yang singkat melunasi utang luar negeri yang sempat mencapai enam ribu triliun itu.

Bisa juga dananya dipakai untuk membiayai pendidikan dan kesehatan gratis bagi semua warga negara. Adakah negara yang kaya akan minyak? Ada.

Contohnya Arab Saudi dan Irak. Mereka dikayakan oleh SDA minyaknya walaupun daerahnya gersang. Bagaimana dengan Indonesia?

Lebih mampu lagi. Sebab Indonesia bukan saja kaya SDA tetapi juga kaya nabati, keindahan alam dan SDM. Ini lah anugerah yang Allah SWT berikan untuk negeri ini.

Tetapi semuanya baru bisa untung, berkah dan bermanfaat ketika pengelolaannya dibingkai secara manis dalam sistem yang terbaik. Yakni Sistem Islam atau Khilafah. []

Bumi Allah SWT, 25 Agustus 2020

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.