Cukupkah Hanya dengan Memboikot Produk Unilever?

Oleh : Nurul Aini

Dukungan secara resmi terhadap gerakan lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer (LGBTQ+) dilakukan Unilever (salah satu perusahaan terbesar di dunia) dengan mendatangani Deklarasi Amsterdam yang menunjukkan banwa Unilever inklusif LGBTQ+ dan pernyataan tersebut diposting melalui akun instagramnya Unilever Global. Hal tersebut menunjukkan bahwa Unilever berkomitmen mendukung LGBTQ+. Susul Unilever, Instragram pun mulai menunjukkan fitur yang mendukung terhadap LGBT (seperti Hastag pelangi, Stiker Pride, Cincin story bercorak pelangi, dll).

Tak sedikit hal tersebut menuai kecaman dari berbagai pihak. Seruan untuk melakukan pemboikotan terhadap produk unilever, yang juga disampaikan Majelis Ulama Indonesia (MUI), akan mengajak masyarakat berhenti menggunakan produk Unilever dan memboikotnya.

Menelisik lebih dalam, LGBTQ merupakan bagian dari propaganda barat untuk meliberalkan kaum muslim, terlebih kaum muslim di Indonesia, umumnya kaum muslim dunia.

Propaganda kaum terlaknat ini sudah lama bebas bergulir disetiap negara, termasuk negara Indonesia yang mayoritas muslim didalamnya.

Selama inipun, kebijakan pemerintah tidak tegas bahkan mengatakan kaum sodom tersebut harus dirangkul dan dilindungi sebab mengacu pada hak asasi manusia.

Jelas ini kesalahan fatal dan tebang pilih apabila kita sandingkan dengan nasib para pejuang Islam yang selalu dituduh yang bukan-bukan oleh rezim, padahal sejatinya mengajak pada kebaikan bukan seperti kaum penyuka sesama jenis yang membuat anak bangsa merosot moralnya, terlebih hal ini mengundang azab Allah Subhanahu Wata’ala.

Faktanya, inilah sistem Demokrasi yang didalamnya terdapat kebebasan, namun tak berlaku bagi yang menyuarakan kebenaran dan mengajak pada kebaikan.

Demokrasi dengan empat pilar kebebasannya ternyata berhasil meloloskan kaum penyuka sesama jenis agar dilindungi oleh Hak Asasi Manusia, sehingga bebas berkeliaran bahkan didukung oleh siapa saja dan lembaga apa saja.

Upaya melakukan pemboikotan pun memang akan membuat kerugian kepada produsen. Namun hal tersebut tidak akan menjamin bahwa dukungan yang dilakukan terhadap LGBTQ+ akan diberhentikan. Jika kita melihat dunia yang sedang dikuasai sistem kapitalis sekarang, maka hal tersebut tidak terlalu mengkhawatirkan bagi Unilever, karena Unilever merupakan salah satu perusahaan Multi Nasional Company (MNC) yang masih memiliki banyak lahan subur lainnya dalam bisnis mereka.

Sebagai seorang muslim hal tersebut tidaklah bisa disepelekan, kita harus _aware_ dengan masalah tersebut, karena perbuatan LGBTQ+ merupakan perbuatan yang sangat dimurkai Allah subhana wata’ala. Kita juga tidak ingin bukan generasi kelak yang kita tinggalkan menjadi generasi yang dikelilingi kerusakan, atau bahkan terpengaruhi dan menggap LGBTQ+ hal yang biasa saja.

Perlawanan yang seharusnya dilakukan, yakni dengan upaya sistematis agar bisa menghapuskan faham, sisem yang mendukung, dan lembaga-lembaga serta individu-individu tersebut. Kemudian mengganti dan menerapkan sistem islam yang maa syaa allah telah terbukti berabad-abad memberikan kesejahteraan rahmatan lil alamin bagi seluruh makhluk-Nya dan ciptaan-Nya di seluruh alam semesta.

Sistem Islam yang lengkap dengan segala solusi terhadap masalah apapun yang terjadi, sesuai dengan fitrah manusia, tidak merusak, serta akan melahirkan individu-individu yang taat kepada allah dan menebarkan rahmatan lil amanin diseluruh penjuru dunia. Bukan hanya rahmatan lil alamin bagi muslim saja, tetapi non muslim (yang ketika khilafah masih berdiri, merasakan begitu banyak naungan dan rahmat-Nya selama didalam naungan khilafah), dan seluruh ciptaan-Nya yang ada di alam semesta ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *