Cukupkah Doa, Infak dan Sedekah Sebagai Solusi Pandemi?

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Rati Suharjo
(Pegiat Dakwah dan Member AMK)

Tuhan
Tempat aku berteduh
Di mana aku mengeluh
Dengan segala peluh
Tuhan
Tuhan Yang Maha Esa
Tempat aku memuja
Dengan segala do`a
Aku jauh, engkau jauh
Aku dekat, engkau dekat
Hati adalah cermin
Tempat pahala dosa bertaruh”

“Tuhan” lagu yang dinyanyikan oleh Bimbo menunjukan keadaan saat ini. Ke mana lagi kalau bukan lari dan bersimpuh kepada Sang Khalik. Virus Covid-19 yang tidak bisa dilihat oleh mata tersebut kini telah menggerogoti kesehatan dan memporak porandakan perekonomian. Berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah pun sampai saat ini belum menunjukan keberhasilan.

Tujuh bulan sudah kondisi kehidupan manusia berubah. Dari harus memakai masker, seringnya cuci tangan sampai menjaga jarak, untuk menjaga dari virus Covid-19. Namun, semua itu tak bisa dilakukan dengan baik oleh masyarakat. Sehingga, korban akibat virus Covid-19 terus mengalami peningkatan.

Korban pun terus mengalami peningkatan hingga mencapai 4000-an kasus per hari. Hal ini dilansir oleh (kompas.com, 30/9/2020) bahwa, kasus tersebut telah mencapai 287.008. Maka wajar, jika Presiden RI Joko Widodo dalam membuka Muktamar IV PP Parmusi tahun 2020 di Istana Bogor, Jawa barat. Beliau mengajak kepada seluruh warga Indonesia untuk berzikir dan berdoa kepada Allah Swt.

Dalam doanya, beliau  mengucap “Semoga Allah Swt segera mengangkat wabah Covid-19 dari bumi Indonesia. Semoga Allah selalu melindungi dan memberikan keselamatan kepada rakyat, bangsa dan negara kita”.( merdeka.com, 26/9/2020)
Tak lupa juga beliau mengajak kepada seluruh warga Indonesia untuk menghadapi situasi seperti saat ini agar saling berbagi. Yaitu infak, sedekah kepada seluruh warga yang terdampak akibat Covid-19.(kompas.com, 26/9/2020)

Mengapa demikian? Sebab, pada saat ini dunia sedang mengalami perlambatan ekonomi. Di Indonesia sendiri, pertumbuhan ekonomi berada pada angka minus 5.32%. Data dari pertumbuhan ekonomi tersebut pun kian terasa saat ini. Di antaranya pengangguran dan kemiskinan semakin bertambah. Sebab banyak perusahaan yang melakukan PHK dan merumahkan karyawannya. Pada bulan Juli, data BPS telah menunjukan bahwa angka kemiskinan naik menjadi 26.42 juta. (kompas.com,15/7/2020)

Anehnya di saat pandemi menganga dan korban terus berjatuhan, pemerintah tidak meningkatkan kebijakan mulai dari PSBB menuju locdown total. Mencuci tangan, jaga jarak dan memakai masker adalah menjadi jurus terbaik dalam menghindari Covid-19. Segala kegiatan masih normal. Seperti kantor-kantor, pabrik-pabrik, terminal dan bandara. Bahkan pemerintah juga berani tidak menunda pilkada yang akan dilaksanakan bulan Desember yang akan datang.

Inilah sebagian yang menjadi penyebab Covid-19 terus bertambah. Tujuannya agar perekonomian tetap lancar, akan tetapi nyawa rakyat dipertaruhkan. Akhirnya tujuan untuk menyelamatkan ekonomi dan kesehatan justru malah meleset.
Maka benar apa yang dijelaskan oleh Allah Swt dalam surat ar- Rum ayat 41:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَا دُ فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّا سِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُو

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat  perbuatan mereka, agar mereka kembali.

Oleh karena itu dalam menghadapi situasi yang sangat genting akibat virus ini maka doa dan istighfar saja tidaklah cukup. Pemerintah seharusnya berikhtiyar dengan mengajak kepada seluruh warga Indonesia untuk melakukan taubat nasional. Yaitu menerapkan syariat Islam sebagai sebuah aturan atau UU. Syariat Islam atau kedaulatan negara yang berada pada hukum Syara’ bukan hukum manusia.

Sistem kapitalis yang menghantarkan pada pertumbuhan ekonomi di angka 5.32% tersebut, telah menghasilkan kemiskinan dan penggangguran semakin meningkat. Solusinya bukan malah mengajak rakyat lebih giat berinfak, bersedekah kepada seluruh warga Indonesia yang terkena dampak Covid-19. Infaq dan sedekah memang semua agama mengajarkannya. Apalagi seorang muslim ada dalil yang menganjurkannya untuk berbagi.

Sebagaimana hadis Rasulullah saw.
Tidaklah beriman kepadaku orang yang kenyang semalaman sedangkan tetangganya kelaparan di sampingnya, padahal ia mengetahuinya.” (HR At-Thabrani).

Walaupun dalam aturan agama dianjurkan tapi infaq dan sedekah bukanlah solusi mengatasi pandemi. Sebab yang seharusnya bertanggung jawab atas hal ini adalah pemerintah sendiri. Negara yang harus mencukupi segala kebutuhan primernya rakyat yang terdampak. Namun, semua ini tentu mustahil dilakukan oleh pemerintah. Sebab negeri ini masih menerapkan sistem yang memihak pada kapitalis. Adapun jika ada bantuan, maka bantuan tersebut tidak mencukupi.

Oleh karena itu, agar pemerintah kembali menjadi pelayan masyarakat dengan baik. Maka pemerintah harus mengambil sistem yang baik. Dimana sistem tersebut memihak kepada rakyat bukan kepada kapitalis pemilik modal. Sistem tersebut tidak lain adalah Islam.

Dalam pandangan Islam, kedudukan pemerintah hanya menjadi pelayan bagi rakyatnya. Dimana hal ini telah dijelaskan dalam hadis Rasulullah saw.

‘Imam atau Khalifah seperti penggembala bagi umatnya”

Dia akan bertanggung jawab penuh bagi rakyatnya. Sebab, rakyat adalah amanah yang harus dilindungi dan dilayani.
Dengan adanya dalil tersebut, maka khalifah akan berusaha sungguh-sungguh dalam memberikan pelayanan. Bahkan pemerintah akan menggunakan dengan baik harta yang telah menjadi hak rakyat. Salah satunya adalah sumber daya alam. Sumber daya alam dikelola oleh pemerintah dan hasil dari pengelolaan tersebut dikembalikan kepada rakyat. Sehingga dalam hal pendidikan dan kesehatan rakyat tidak dipungut biaya. Apalagi dalam masa pandemi seperti saat ini. Maka pemerintah akan lebih mudah untuk melayani rakyat sebab dana telah melimpah.

Oleh sebab itu, hanya dalam sistem Islamlah kehidupan rakyat akan dijamin oleh pemerintah sepenuhnya. Maka marilah bersama-sama untuk menerapkan sistem Islam dalam bingkai khilafah ala minhajin nubuwah agar Covid-19 cepat berakhir dan diangkat oleh Allah Swt.

Wallahu a’lam bishshawaab

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.