Covid-19 Masih Menyebar, Haruskah Kembali ke Sekolah?

Oleh : Perwita Sari, S.Si (Aktivis Muslimah Pengamat Sosial Politik)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berencana membuka kembali sekolah pada pertengahan Juli 2020. Pelaksana tugas (Plt) Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud Muhammad Hamid merencanakan membuka sekolah mulai awal tahun pelajaran baru, sekitar pertengahan Juli. Hamid menegaskan rencana ini dimungkinkan untuk sekolah di daerah-daerah yang sudah dinyatakan aman dari wabah corona (CNN Indonesia.com).

Rencana sekolah dibuka kembali pada pertengahan bulan Juli ini muncul setelah dokumen peta jalan berisi skenario pembukaan bisnis dan Industri mulai juni 2020 beredar di sejumlah aplikasi percakapan terutama whatsApp.

Skrenario tersebut berisikan fase-fase pemulihan ekonomi pasca mewabahnya virus corona di tanah air. Melansir Suara.com ,salah satu point skenario fase 3 (15 Juni), menyatakan bahwa sekolah dibuka namun dengan sistem shift.
Ketika wacana ini dilayangkan orang tua dan siswa merasa khawatir dengan kebijakan ini. Kekhawatiran ini sangat beralasan, hingga saat ini kasus covid-19 yang semakin bertambah setiap harinya.

Angka kematian yang sudah mencapai lebih dari dua puluh ribu kasus semakin menambah kegelisahan. Terlebih lagi tidak adanya jaminan rasa aman apakah siswa memungkinkan tidak tertular.
Ketidakpercayaan masyarakat ini bermula saat pemerintah dianggap terlalu meremehkan virus corona sejak awal. Sehingga tidak ada persiapan yang matang dalam menangani pandemi ini. Tidak hanya itu pemerintah dinilai tidak konsisten dalam mengambil kebijakan. Kebijakan menjadi tidak efektif dan tepat sasaran.

Salah satu peneliti sekaligus Direktur Program Asia Tenggara Lowy Institute,dalam tulisan yang di terbitkan oleh The Interpreter, Benjamin Bland menilai wabah corona memperlihatkan bahwa pemerintahan Jokowi minim berpikir strategis tidak memiliki rencana yang jelas dan transparan dalam memerangi covid-19. Ia menyoroti minimnya masyarakat yang di tes Covid-19. Pemerintah pusat dan daerah juga dianggap belum satu suara dalam penanganan seperti pembaruan jumlah pasien yang positif ataupun yang meninggal di berbagai daerah. Presiden Jokowi telah membentuk tim respon cepat untuk mengatasi krisis dan menyatakan pemerintah pusat akan mengambil kendali penanganan corona, namun koordinasi antara Istana dan pemerintah daerah masih minim.

Tidak maksimalnya penanganan Covid-19 ditambah kebijakan dibukanya sekolah pada pertengahan juli tidak menjamin rasa aman bagi siswa yang akan kembali bersekolah. Contoh saja di Perancis dilansir GridHEALTH.id sejak sekolah dibuka kembali, anak-anak senang karena bisa kembali ke rutinitas mereka seperti sebelum munculnya pandemi Covid-19. Namun, dengan sekolah dibuka kembali nyatanya menjadi ancaman tersendiri bagi anak-anak maupun staf sekolah dalam terinfeksi virus corona (Covid-19). Pada 11 Mei 2020 sekolah dan penitipan anak di Prancis kembali buka, dalam hal itu sekitar 1,4 juta anak kembali ke sekolah. Namun sejak sekolah dibuka kembali, setidaknya ada 70 kasus Covid-19 yang dilaporkan yang terdeteksi di sekolah-sekolah.Kasus tersebut terjadi di kalangan penitipan anak dan sekolah dasar di Prancis, seperti dilansir dari Dailymail.
Begitu pula yang terjadi di Finlandia dilansir dari Xinhua, dua hari setelah sekolah dibuka kembali, beberapa kelas di Porvoo dan Sipoo, Finlandia selatan, akan kembali beralih ke pembelajaran jarak jauh. Hal ini terjadi karena puluhan guru dan murid telah terinfeksi virus corona (Covid-19), lapor penyiar nasional Finlandia Yle pada hari Minggu (17/5/20). Kota Porvoo melaporkan pada hari Minggu bahwa seorang siswa Sekolah Linnajoki di Porvoo telah terinfeksi Covid-19. Sebanyak 17 siswa dan 4 guru yang telah terpapar virus corona di sekolah menengah yang memiliki 550 siswa itu. Kini, semua yang terpapar Covid-19 melakukan karantina di rumah.

Kebijakan yang minim berpikir strategis tidak memiliki rencana yang jelas dan transparan dalam memerangi covid-19, menunjukan kurangnya kapabilitas dalam mengurusi urusan rakyat. Hal ini pernah di kabarkan oleh Rosululloh Saw tentang Ruwaibidhah. Suatu hari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menyampaikan fenomena akhir zaman yang pernah didengar langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Akan tiba pada manusia tahun-tahun penuh kebohongan. Saat itu, orang bohong dianggap jujur. Orang jujur dianggap bohong. Pengkhianat dianggap amanah. Orang amanah dianggap pengkhianat. Ketika itu, orang “Ruwaibidhah” berbicara. Ada yang bertanya, “Siapa Ruwaibidhah itu?” Nabi menjawab, “Orang bodoh yang mengurusi urusan orang umum.” (HR. Hakim)

Hadis diatas menjelaskan beberapa ciri Ruwaibidhah, mengandung subtansi yang sama: orang rendahan, bodoh dan hina, tidak mengerti ilmu mengurusi urusan publik (seperti: menjadi pejabat, penguasa dan lain sebagainya) tapi diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk membicarakan atau mengurusi masalah orang umum. Ini gambaran jelas bahwa sesuatu tidak diserahkan kepada ahlinya. Sehingga, akan berdampak negatif secara sosial.
Perlunya meninjau ulang kembali kebijakan membuka kembali sekolah pada pertengahan Juli 2020. Berkaca pada negara lain kebijakan membuka kembali sekolah justru semakin menambah jumlah kasus Covid-19, sehingga penanganan kasus covid-19 ini haruslah di tangani dengan serius dan semaksimal mungkin.

Islam sudah jauh hari memberikan solusi tuntas masalah pandemi ini, menempatkan Negara dan pemerintah adalah pihak yang paling bertanggung jawab melakukan tindakan pencegahan bahaya apa pun termasuk wabah virus mematikan 2019-nCoV. Negara wajib melarang masuk warga negara yang terbukti menjadi tempat wabah. Bebas dari agenda imperialisme karena diharamkan Allah subhanahu wa ta’ala apa pun bentuknya, Sehingga, wajib mandiri dalam menyikapi wabah, tidak bergantung pada negara kafir penjajah dan lembaga yang menjadi kuda tunggangannya, yakni WHO. Negara harus terdepan dalam riset dan teknologi tentang kuman-kuman penyebab wabah, alat kedokteran, dan obat-obatan. negara wajib melakukan langkah praktis produktif untuk peningkatan daya tahan tubuh masyarakat. Ketersediaan fasilitas kesehatan terbaik dengan jumlah yang memadai lagi mudah diakses kapan pun, di mana pun, oleh siapa pun. Sehingga ketika Negara berperan maksimal dalam penanganan wabah covid-19, atas izin Allah Swt masalah wabah akan cepat terselesaikan dan para siswa bisa kembali bersekolah.
Wallohu’alam bishowab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *