Corona Mengganas, Negara Baru Menggagas

Oleh : Muyessaroh

Masih tentang virus corona, yang saat ini 90 persen sosial media berisi postingan tentang covid-19 atau virus corona. Di Indonesia sendiri, dengan penyebarannya yang sangat cepat, per tanggal 28 maret 2020 pasien yang positif corona sudah mencapai 1.155 orang dan yang meninggal 102 orang, serta yang sembuh sudah ada 59 orang. _sumber : Konferensi pers juru bicara penanganan corona Achmad Yurianto_. (@CNNIndonesiana)

Pemerintah telah mengupayakan memutus rantai penyebaran covid-19 ini dengan menerapkan social distancing untuk tetap #dirumahaja.

Namun alih-alih menghentikan penyebaran covid-19, pemerintah belum berencana mengambil langkah melakukan karantina total (lockdown). Tim pakar Gugus Tugas Penanganan Virus Corona atau COVID-19, Wiku Adisasmito, mengatakan langkah pembatasan gerak ini bisa berpengaruh besar terhadap roda ekonomi masyarakat.(tempo.com, 18/03)

Bahkan Bu Sri Mulyani selaku menteri keuangan juga menegaskan bahwa salah satu hal yang harus dipikirkan masak-masak jika lockdown adalah bagaimana mengonsentrasikan instrumen fiskal pemerintah untuk menjamin ketersediaan bahan pokok serta menjamin aktivitas logistik berjalan lancar. (tirto.id, 20/03)

Indonesia dengan sumber daya alam yang melimpah ruah seharusnya mampu untuk menanggung kebutuhan pokok rakyatnya. Bahkan ketika akan di berlakukan lockdown sekalipun. Namun sayang, saat ini kekayaan itu hanya dimiliki dan hasilnya di nikmati oleh segelintir kapitalis atau pemilik modal. Sehingga wajar jika pemerintah enggan untuk melakukan lockdown. Karena sumber pendapatan saat ini hanya berasal dari pajak dan hutang luar negeri.

Inilah akibat nya ketika kehidupan di atur dengan aturan kapitalis. Kesehatan yang seharusnya di jamin oleh negara, tapi dalam sistem kapitalis kesehatan begitu mahal harganya. Periayahan terhadap umat hanya akan di lakukan jika ada manfaat yang di dapat. Dan penjagaan terhadap nyawa rakyatnya sangatlah abai. Sehingga, tatkala Corona kian mengganas sementara negara baru menggagas cara menanganinya

Sungguh sangat berbeda dengan sistem pemerintahan islam yang betul-betul total dalam meriayah umat nya. Tanpa memikirkan apakah akan ada manfaat yang di dapat ataukah tidak. Karena periayahan terhadap umat di laksanakan oleh pemimpin hanya untuk mengharap ridho Allah SWT.

Begitu pula sistem pemerintahan islam dengan aturannya yang bersumber pada Alquran dan Assunnah memberikan solusi bahkan perlindungan terhadap permasalahan umat. Seperti halnya ketika terjadi wabah Rasulullah saw. telah memberikan tuntunan dalam mengatasinya sebagaimana dalam hadist di katakan, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu untuk lari darinya.”(HR. Bukhari & Muslim)

Dalam islam, pemimpin wajib dalam mengurus urusan rakyatnya. Termasuk dalam pemeliharaan kesehatan umat yang merupakan salah satu tujuan di terapkannya syariat islam yaitu menjaga nyawa manusia . Bahkan hak setiap warga negara islam untuk mendapatkan jaminan pelayanan kesehatan secara gratis.

Rasulullah saw. bersabda, “Amir (pemimpin) masyarakat adalah pemelihara dan dia bertanggung jawab atas (urusan) rakyatnya” (HR. Al- Bukhari, Muslim, Abu dawud, at-Tirmidzi dan Ahmad)

Jadi apalagi yang kita harapkan dari sistem kapitalis yang sudah mulai bobrok ini. Semoga dengan Allah hadirkan wabah ini semakin menyadarkan kita semua akan pentingnya kembali kepada syariat islam yang di terapkan di muka bumi ini dalam bingkai khilafah. Dengan pemimpin yang taat dan peduli terhadap umatnya. Wallahu’alam bish shawab []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *