Corona Masih Mengincar Tenaga Medis Kita

Oleh: Abu Mush’ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional dan Pemerhati Politik Asal NTT)

Berita duka datang dari Surabaya. Lewat channel youtube media Kompas TV seorang dokter bernama Dr. Miftah Fawzy Sarengat meninggal dunia diduga terpapar Covid-19 (11/6).

Dunia kesehatan berkabung. Kasus ini terjadi setelah meninggalnya 32 dokter di Indonesia.

Kebanyakan dokter yang meninggal ini bukanlah dokter yang menangani pasien Corona atau bekerja di Rumah Sakit rujukan untuk kasus Corona tetapi malah diduga terpapar Corona di Rumah Sakit non rujukan Corona.

Diduga para dokter ini berinteraksi dengan para pasien OTG (Orang Tanpa Gejala). Pasien ini ketika berobat tidak menunjukkan tanda spesifik gejala penyakit Corona (Covid-19).

Ini menyedihkan. Para dokter seperti bertarung melawan musuh yang tak kelihatan. Diserang tapi tak mampu membalas serangan.

Para tenaga medis lainnya juga banyak yang terpapar. Ada sekira 6.000 lebih yang positif Corona.

Ini sangat mengkhawatirkan, karena persentase kematian tenaga kesehatan di Indonesia saat ini mencapai angka 6,5% (Theconversation.com,13/5). Mereka, para tenaga medis inilah, harapan umat untuk melawan penyakit yang susah dikendalikan penyebarannya ini. Mereka garda terdepan untuk menangani pasien Covid-19.

Angka penularan Covid 19 semakin tinggi yaitu di atas 35.295 (dengan penambahan terakhir 975 kasus per hari) kasus. (Wikipedia.com,12/6). Sedangkan upaya untuk melindungi para pasien dan tenaga medis tampak kurang serius.

Adanya kebijakan New Normal belum nampak sebagai sebuah kebijakan yang bisa mengurangi jumlah kasus Corona. New Normal dianggap oleh banyak kalangan seperti uji fisik atau imunitas dari warga saja.

Ketika para dokter dan tenaga medis banyak yang terpapar dan bahkan ada yang meninggal tentu akan menimbulkan tekanan psikologis yang amat berat kepada publik.

Masyarakat awam tentu berfikir jika tenaga medis saja terkena Covid-19, apalagi mereka yang awam ilmu pemutusan rantai penyebaran virus.

Masyarakat kemudian bertanya lagi. Apakah New Normal akan terus dilanjutkan jika ternyata ada lagi tenaga medis yang terpapar Covid-19 hingga meninggal dunia?

Apakah sudah ada diskusi yang mendalam antara para pemegang kebijakan dengan para ahli medis khususnya epedemiologis tentang tepatkah new normal diberlakukan pada saat Covid-19 terus melonjak? Apakah penguasa telah berkonsultasi dengan para ahli kesehatan untuk mendapatkan solusi yang lebih baik agar tidak ada lagi korban Corona?

Harusnya kebijakan publik itu berpihak kepada nyawa masyarakat. Sekira 2.000 orang telah meninggal karena Covid-19.

Angka ini tidak boleh dianggap remeh. Satu nyawa yang hilang itu seperti kehilangan seribu nyawa. Semoga ke depannya opsi terbaik bisa dipilih.

Opsi lock down masih bisa dipakai, dan manjur untuk beberapa negara seperti China dan Vietnam. Mereka melakukannya sebelum melakukan kebijakan New Normal sehingga tidak ada lagi korban meninggal dunia karena Covid-19 baik di kalangan medis mau pun rakyat umum. []

Bumi Allah SWT, 12 Juni 2020

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *