Corona dan Tahun Ajaran Baru

Oleh : Asma Ramadhani (Siswi SMAIT IBS Al Amri)

Senin, 08 Juni 2020 16:46 WIB, media online detikNews baru saja memposting pasal kabar masuk sekolah menjelang New Normal. Dikabarkan bahwa perencanaan tahun ajaran baru 2020 akan digelar pada 13 Juli 2020. kabar tersebut dibenarkan oleh Menteri Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy, “Permulaan tahun ajaran baru Insya Allah tetap. Kegiatan belajarnya untuk sementara tetap di rumah masing-masing,” kata Muhadjir pada detik.com.

Dilain sisi, Dinas Pendidikan Provinsi Jatim saat ini merancang skema pembelajaran pada tahun ajaran 2020-2021 yang menyesuaikan tatanan normal baru atau new normal di tengah pandemi COVID-19.

“Model pembelajaran akan kami lihat perkembangan COVID-19. Jika bulan Juni sudah ada penurunan signifikan, ada kemungkinan penerapan skenario pembelajaran di kelas,” kata dia, seperti dikutip dari Antara, Minggu, 7 Juni 2020, Liputan6.com.

Sebagai seorang pelajar, saya menyadari adanya ketidakpastian dari pemerintah mengenai pendidikan formal. Kebijakan plin-plan tanpa persiapan ini bisa saja berakibat fatal bagi generasi. Pemerintah mengeluarkan kebijakan yang tidak berlandaskan anjuran kesehatan atau dukungan sains. Masyarakat pun, tentunya merasa bimbang dengan hal tersebut.

Seorang ahli epidemiologi Universitas Indonesia, Pandu Riono menekankan bahwa saat ini belum tepat untuk melaksanakan new normal. Menurutnya, indikator kesehatan belum terpenuhi. “Belum, karena kita belum terpenuhi. Kalau indikator kesehatan sudah terpenuhi, baru itu saat yang tepat. Boleh saja direncanakan. Tapi implementasinya tunggu dulu, sampai indikator kesehatannya terpenuhi”, imbuhnya di Kompas TV.

Mengenaskan sebenarnya jika menganalisa kembali kebijakan ini. Secara tidak langsung, pemerintah menyuruh penerapan herd immunity, yang notabene-nya mengatakan ‘yang lemah mati dan yang kuat bertahan’.

Pendidikan adalah hal yang penting. Namun, pencegahan dalam konteks menjaga nyawa jauh lebih penting. Disini peran pemerintah kurang menyadari hal tersebut. Saya seolah membayangkan sebuah negeri impian yang hanya stuck menjadi negeri dalam mimpi. Bayangkan saja jika tidak ada generasi dengan pendidikan yang baik, akan seperti apa negeri ini kedepannya?

Pasca pandemi diprediksi akan memberikan perubahan. Perubahan itu akan menjadi baik kala generasinya berkualitas. Tapi jika generasi bangsa justru dijadikan tumbal, akan miris rasanya jika negeri ini menjadi hancur.

Wacana yang selalu beredar dimana-mana bahkan sudah tidak menjadi asing lagi bagi masyarakat adalah penghimbauan mengenai protokal kesehatan. Salah satunya dengan aktivitas di rumah saja. Bukan masyarakat tidak ingin menaati, hanya ketegasan sistem pemerintah saat ini sulit untuk mengatur tatanan Negara.

Jika pelaksanaan tahun ajaran baru disahkan dengan proses belajar formal atau tatap muka, tidak menutup seluruh pelajar akan menerapkan social and physical distancing. Asal dan tujuan tiap masyarakat berbeda. Lingkungan tempat tinggal maupun lingkungan sekolah tidak sama. Seperti saya yang terdaftar sebagai seorang pelajar di pulau seberang. Mungkin saja di daerah sekolah belum separah di ibu kota.

Banyak yang harus dilalui. Banyak fasilitas yang barus digunakan. Dan banyak manusia yang harus ditemui. Bandara, terminal, pelabuhan, yang kinerjanya antar daerah berbeda. Tidak menutup kemungkinan untuk melakukan kontak.

Negeri impian dengan hak-hak rakyat yang terjamin, pupus begitu saja. Jangankan untuk masalah pendidikan dan finansial. Mengharapkan penanganan kesehatan saja malah diberi seabreg kebijakan amburadul. Seolah semua itu hanyalah mimpi.

Selama sistem kepengurusan Negara kacau tidak akan menemukan titik terang dari jeritan rakyat. Kapitalisme tidak memberikan solusi yang berarti, justru menumpahkan segudang problematika baru yang mengiris hati. Sehingga Negeri sulit diprediksi sehat kembali.

Kepentingan para pemilik modal itu membuat pemerintah menutup telinga untuk mendengar suara rakyat. Memejamkan mata untuk melihat derita rakyat. Dan mengeraskan hati untuk merasakan penderitaan rakyat.

Lalu, dimanakah andil mereka dalam memberi belas kasih? Rezim terlalu kejam dalam mengkhianati rakyat. Perlahan, kepercayaan rakyat terhadap mereka akan sirna. Kewajiban penguasa dan hak rakyat seolah hanya formalitas yang sewaktu-waktu dapat tertiup oleh angin, seiring keluarnya kebijakan baru.

Saya bisa mengatakan bahwa pemberlakuan kebijakan new normal di Negara abnormal, sungguh kontras. Bertabrakan dengan segala kepentingan. Dan akan berakhir dengan kemelaratan.

Kami tidak butuh janji-janji yang tidak konsisten. Kami butuh bukti. Kami adalah generasi yang berhak memajukan negeri. Memperjuangkan keadilan, dan mendobrak kedzaliman.

Jalan satu-satunya untuk mencapai kesejahteraan bagi seluruh rakyat di dunia adalah mengganti sistem yang bertahta saat ini. Mengganti sistem kapitalisme yang fana dan menjunjung materi, dengan sistem yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Menjadikan Islam sebagai satu-satunya aturan tertinggi dalam kehidupan. Pendidikan, ekonomi, kesehatan dan sebagainya terjamin dibawah naungan Islam.

Islam sebagai aturan dan Negara yang menerapkan, dalam sistem kenegaraan seluruh dunia di bawah naungan Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

Wallahu’alam Bishshawwab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *