Corona Beraksi, Lockdown Solusi

Oleh : Lilik Yani

Saat ini jumlah kasus penderita yang terinfeksi virus Corona atau Covid-19 semakin menggila. Dimana data yang diterima jumlah Covid-19 di seluruh dunia mencapai 145.695. Sebanyak 5.432 pasien meninggal dan 72.550 sembuh. Data menunjukkan orang tua, terutama yang berusia 70 tahun ke atas, paling berisiko bila terjangkit virus Corona. Adapun di Indonesia ada 96 kasus positif Covid-19. Dari jumlah itu, lima diantaranya meninggal karena komplikasi penyakit. (Tempo, 14 Maret 2020).

Jumlah itu semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Tidak hanya di Indonesia yang bertambah, juga terjadi di berbagai negara lain di dunia. Hingga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa virus corona atau Covid-19 ini sudah dikategorikan sebagai pandemi.

Maka Presiden Joko Widodo didesak untuk segera memberlakukan isolasi atau lockdown untuk mencegah penyebaran virus Corona. Hal ini antara lain diusulkan oleh Wakil Ketua Komisi Kesehatan DPR Saleh Partaonan Danlay.

“Kebijakan ini akan ampuh untuk mencegah penyebaran Corona di Indonesia. Tanpa lockdown, masih akan banyak orang yang keluar masuk dari luar negeri,” kata Saleh.

Opsi lain yang bisa dilakukan pemerintah adalah mengisolasi sebagian daerah yang dianggap paling banyak ditemukan kasus Corona. Misalnya Jakarta, atau Bali. Ini bisa dijadikan bahan pertimbangan lain untuk menekan penyebaran virus Corona.

Hanya saja yang perlu dipertimbangkan ketika mengisolasi suatu daerah. Hendaklah pemerintah sudah mempersiapkan ketersediaan bahan kebutuhan pokok bagi masyarakat. Bahan makanan perlu distok supaya tidak terjadi kepanikan di masyarakat sebelum dilakukan lockdown. Pemerintah harus mengatur agar jangan sampai terjadi “panic buying”. Pembelian barang kebutuhan secara besar-besaran karena umat mengalami kepanikan berlebihan.

Sedangkan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman mendorong agar Pemerintah melakukan kebijakan lockdown.
“Saya berharap Presiden Joko Widodo segera melakukan mitigasi secara cepat dengan menetapkan lockdown parsial, terutama untuk daerah-daerah yang sudah terpapar Covid-19,” kata Sohibul melalui keterangan tertulis pada Ahad, 15 Maret 2020.

Hal ini penting dilakukan untuk memitigasi dan melokalisir penyebaran virus Corona agar tidak meluas ke berbagai daerah lain yang belum terpapar. Terutama daerah yang menjadi tujuan wisata dan memiliki tingkat interaksi dengan wisatawan asing yang tinggi.

Bagaimana tanggapan pemerintah dengan adanya desakan dari berbagai pihak agar melakukan lockdown? Sudah saatnya pemerintah berani menyatakan bahwa Indonesia lockdown, terutama di daerah yang sebaran suspect covid-19 merata, apalagi melihat signifikansi peningkatan pasien yang positif terinfeksi setiap harinya.

Tetapi Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa pemerintah belum akan mengambil sikap untuk lockdown. Yaitu penutupan akses secara total di Indonesia demi mengantisipasi penyebaran viris Corona atau Covid-19. Presiden Jokowi masih enggan meniru langkah sejumlah negara seperti Italia, Denmark, yang melakukan total lockdown.

“Belum berfikir ke arah sana (lockdown),” kata Jokowi di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Jum’at, 13 Maret 2020.

Jokowi menyadari bahwa penyebaran virus Corola sangat cepat. Seminggu lalu ada 80 negara yang terkena virus ini. Hanya dalam sepekan, jumlahnya bertambah menjadi 117 negara. Itu artinya bahwa virus Corona tidak mengenal batas negara.

Ketika Pemerintah sudah menyadari betapa bahayanya virus Corona, karena penyebaran yang sangat cepat, bahkan WHO saja sudah menyatakan sebagai pandemi. Hingga berbagai pihak mendesak agar Indonesia melakukan lockdown. Akan tetapi penguasa belum memikirkan langkah itu. Seakan-akan menganggap bahwa nyawa umat yang seharusnya dilindungi itu tidak berharga.

Apakah ada jaminan bahwa keluarga atau kerabat dekatnya akan aman dari serangan virus yang datang tiba-tiba? Ataukah menganggapnya akan kebal dari ancaman virus yang berbahaya itu? Masih tidak dengarkah jeritan umat, hingga semua bahan kebutuhan pokok dibeli dalam jumlah besar-besaran. Hingga persediaan barang di supermarket banyak yang kosong. Semua itu dilakukan karena teramat takutnya keluar rumah untuk berbelanja.

Bahkan masker yang seharusnya diperuntukkan penderita, petugas medis, atau orang-orang yang berpotensi tertular Corona. Tetapi barang itu pun menjadi barang langka. Karena masyarakat membeli secara berlebihan, tanpa memperhatikan ada saudara yang lebih membutuhkan masker tersebut.

Melihat betapa paniknya masyarakat menghadapi serangan virus Corona, akankah penguasa menganggap hal biasa? Bukankah seharusnya segera mengambil tindakan untuk menenangkan hati masyarakat yang seharusnya dalam penjaminan keamanannya.

Ketika dulu di zaman Rasulullah saw, ada wabah penyakit. Maka tindakan yang paling cepat diambil adalah isolasi. Penduduk yang berada di negeri yang terjadi wabah, tidak boleh keluar dari kawasan itu. Sedangkan penduduk di luar, dilarang melakukan kunjungan ke negeri yang terkena wabah. Jadi betul-betul dijaga agar tidak ada interaksi untuk sementara waktu hingga negeri tersebut benar-benar sudah terkategori aman. Dengan demikian, tidak akan terjadi penyebaran wabah penyakit ke negeri lain.

Itu solusi yang yang ditawarkan Islam. Karena pemimpin yang sangat peduli terhadap keamanan umatnya. Masalah bahan kebutuhan di negeri yang diisolasi, sudah dalam pemikiran penguasa. Jadi tidak perlu khawatir akan kelaparan, atau kekurangan. Mereka sudah dijamin dan dicukupi semua kebutuhannya. Termasuk obat-obatan untuk menyembuhkan sakitnya para penderita. Juga peralatan dan segala keperluan yang dibutuhkan para pasien, sudah disediakan lengkap. Sehingga penderita fokus dengan kesembuhan sakitnya.

Ketika wabah sudah teratasi, dan negeri sudah dinyatakan aman, maka interaksi sesama umat kembali dibuka dan berjalan seperti semula. Bagaimana dengan sekarang? Jeritan ketakutan umat tidak dihiraukan. Ketakutan pada makhluk kecil bernama virus Corona atau Covid-19 membuat umat tak nyaman menjalankan aktivitas. Hingga untuk bersalaman sesama saudara muslim saja ada perasaan syak wasangka alias curiga.

Bahkan sekolah-sekolah diliburkan, dan pembelajaran dilakukan di rumah masing-masing. Sholat di masjid saja ada yang merasa ketakutan jika tertular orang yang terinfeksi virus Corona. Bagaimana bisa, makhluk super kecil itu hingga menghalangi banyak agenda besar, termasuk untuk beribadah?

Seperti itulah fakta yang dialami umat saat ini. Sementara sikap penguasa abai dan tidak berupaya mengayomi. Usulan untuk lockdown atau isolasi tak dihiraukan. Apakah penguasa menunggu hingga jatuh banyak korban? Apakah merasa dirugikan jika negara menetapkan lockdown? Karena wisatawan asing tak bisa masuk Indonesia?

Itukah yang dipikirkan penguasa, karena berhitung akan mengalami kerugian jika tak ada wisatawan datang? Lagi-lagi sistem kapitalis yang diprioritaskan adalah adanya untung atau rugi. Jika suatu kebijakan diambil tapi tidak menguntungkan maka masih berfikir panjang. Walau harus mengorbankan nyawa rakyatnya.

Jika demikian adanya, masihkah rakyat akan terus mendukungnya, jika kenyataannya penguasa tak mempedulikan nasibnya. Apalagi masalah Corona bukan sekedar masalah negeri Indonesia saja. Tapi sudah menjadi pandemi dan menjadi masalah dunia.

Kalau ada sistem Islam yang bisa mengatasi masalah dengan tuntas sempurna. Termasuk dalam mengatasi masalah wabah di suatu negeri dengan isolasi segera, hingga berhasil tuntas tanpa meninggalkan sisa masalah lainnya. Mengapa bukan aturan Islam saja yang dipilih untuk dijadikan solusi paripurna?

Wallahu a’lam bisshawab

Surabaya, 16 Maret 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *