COP26, Solusi Utopis dalam Sistem Kapitalis

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Ari Sofiyanti (Alumni Biologi, Universitas Airlangga)

 

Kita dalam bahaya dan kita kehabisan waktu! Krisis iklim semakin mengancam dan manusia harus bergerak cepat. Untuk merespon masalah ini, telah dilangsungkan Konferensi Internasional PBB berupa KTT Perubahan Iklim Conference of the Parties (COP) ke-26 di Glasgow, Inggris (31 Oktober – 12 November 2021). Acara ini diperkirakan dihadiri lebih dari 190 pemimpin dunia bersama dengan puluhan ribu negosiator, perwakilan pemerintah, institusi pendidikan, dan pelaku bisnis.

Lantas, apakah hasil KTT COP26 akan membawa dampak signifikan? Apakah negara-negara global dapat memenuhi target-targetnya dalam upaya mengatasi masalah iklim?

Belajar dari pengalaman, berbagai perjanjian internasional tentang pemanasan global telah berulang kali diadakan. Sebut saja Protokol Kyoto yang mulai berlaku sejak tahun 2005 dan Perjanjian Paris tahun 2015 agar membatasi pemanasan global di bawah 1,5 °C. Sayangnya, semua itu tidak berhasil. Sebab dari kegagalan demi kegagalan ini adalah karena kita tetap bertahan dalam sistem kapitalisme.

Bukti bahwa akar masalah kerusakan lingkungan adalah kapitalisme sudah terlalu banyak hingga tidak bisa disangkal lagi. Cina, Amerika dan Uni Eropa dengan sektor industrinya adalah yang paling banyak menyumbang emisi karbon. Tidak mengherankan bahwa perusahaan-perusahaan tambang, kelapa sawit dan industri besar lainnya yang ada di balik eksploitasi bumi dan isu-isu lingkungan. Para kapitalislah aktor yang membintangi kerusakan dengan deforestasi atau menebar polusi di seluruh bumi. Kenyataan ini telah jenuh kita lihat di negeri kita sendiri.

Salah satu solusi yang diterapkan negara-negara global adalah skema carbon offset, yaitu kebijakan mengkompensasi karbon yang dikeluarkan perusahaan dengan membiayai pihak lain untuk menyerap emisi mereka dengan cara penghijauan, reboisasi dan sebagainya. Namun, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia Iqbal Damanik justru menyatakan carbon offset hanya mekanisme agar pencemar melegitimasi polusi yang mereka hasilkan dengan hutan-hutan kita dan tetap memberikan hak menghasilkan polusi kepada korporasi. Hal inilah yang terjadi ketika semua dihalalkan demi memenuhi keserakahan nafsu kapitalis.

Bukti menarik lainnya diungkapkan dari artikel voa-islam.com bahwa militer AS adalah salah satu pembuat polusi terbesar. Ironisnya, industri militer dan militer AS dengan emisi karbon yang dihasilkan inilah yang bertanggung jawab dalam perang pasca serangan 11 September 2001 di Afghanistan, Irak, Pakistan dan Suriah. Mereka senantiasa menggempur negara-negara lain khususnya Islam, menciptakan peperangan, mengintervensi sehingga dapat mengendalikan negara-negara tersebut agar mudah mengambil kekayaan alam. Mengerikan memang, nafsu ambisi kapitalisme secara totalitas telah merusak lingkungan dan kehidupan manusia.

Inilah harga mahal yang harus kita bayar akibat percaya pada kapitalisme. Kita telah mengorbankan bumi dan seisinya, tak terkecuali kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya. Solusi-solusi yang ditawarkan menjadi utopis bahkan di balik solusi itu ada kepentingan kapitalis yang ingin mengambil keuntungan. Jelas sudah, krisis iklim akan terus memburuk selama kapitalisme masih menjadi pondasi kehidupan. Maka, ultimate solution hanya dengan mencabut kapitalisme itu dan menggantinya dengan sistem kehidupan yg shohih yaitu islam.

Apa bedanya solusi ala kapitalisme dan islam?

Bedanya, solusi kapitalisme malah melahirkan masalah lain dan masalah utamanya tetap tidak terselesaikan. Sedangkan solusi islam telah dijamin kebenaran dan kebaikannya oleh Allah Maha Pencipta dan Pengatur alam semesta.

Lihatlah bagaimana Allah melarang kita berbuat kerusakan di muka bumi.

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya…” (QS Al-A’raf: 56).

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Ruum: 41).

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 96).

Luar biasanya, dengan Islam manusia dapat mengendalikan hawa nafsunya. Karena ketika manusia menghamba pada hawa nafsunya itulah saat kehancuran dunia. Maka, Allah memerintahkan kita untuk menghamba pada-Nya dan kembali pada jalan yang benar yaitu Islam.

Imam Nawawi menjelaskan dalam kitab Riyadus Sholihin bahwa Islam adalah agama yang lengkap hukum-hukumnya serta peraturan-peraturannya. Dalam segala macam persoalan Islam sudah menyediakan hukum yang wajib diterapkan untuknya, mulai dari hal yang sekecil-kecilnya seperti berkawan, adab pergaulan, berumah tangga dan lain-lain, juga sampai yang sebesarnya, misalnya menegakkan tertib hukum, mengatur keamanan dalam negara dan sebagainya. Dengan kata lain sistem politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan, sanksi, sosial dan lainnya. Juga dalam hal perselisihan antara orang seorang, antara golongan satu dengan lainnya, bahkan antara bangsa dengan lain bangsapun tercantum pula hukumnya.

Semua yg terkandung di bumi ini diciptakan Allah agar dipergunakan manusia memenuhi kebutuhannya dalam kerangka ketakwaan. Maka Allah pasti mencukupkan kebutuhan kita tanpa harus mengeksploitasi alam dengan kejam. Kini kita harus membuka mata. Bahwa harapan satu-satunya adalah dengan menaati aturan Islam dalam semua bidang kehidupan.

Wallahu alam bishawab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.