Cinta yang Terisolasi

‘Antara senang dan bahagia’

Oleh: M. Azzam Al Fatih

Cinta memang aneh, sering dibahas namun tak pernah ada habisnya. Mungkin karena cinta sebuah kata yang indah. Mengucapkan kata saja tak pernah merasakan bosen. sehingga para kaum hawa senang membumbui kasih sayang terhadap suaminya dengan kata – kata cinta. Misalnya ketika membuatkan kopi suaminya saja ditambahi kata – kata cinta, ” ayah cintaku, ini aku buatin kopi cinta spesial di hari Yang penuh cinta.” Saya yakin sang suami yang mendengar ungkapan tersebut terasa ayem dan bahagia. Atau bisa saja yang tadinya cemberut jadi murah senyum. Sebab selain dibuatin kopi, sang istri dalam menawarkannya penuh dengan kemesraan.

Memang benar, cinta itu kata yang indah. Digabung dengan kata apapun, tetap cocok, dibaca indah dan didengar pun enak. Segelas cinta, jalan cinta, dawet cinta, dan sebagainya. Indah kan.
Saking indahnya, banyak orang tertipu oleh rayuan gombal yang sering terucap dari seseorang yang sedang dimabuk cinta. Yang endingnya menyesal.

Orang yang sedang dimabuk cinta membuatnya rindu berat. Rasanya ingin sekali bertemu, seakan – akan satu detik saja kayak satu jam. Apalagi satu hari bisa berabe ndroo, Hiiiiiiii hiiiii.

Kadangkala pula orang yang mabuk cinta, pikirannya kosong sering melamun. bayangan sidoi sering muncul dalam pikiran, Akhirnya pikiran-nya di bawah kesadaran. Mengucap sesuatu, tersenyum atau berbicara sendiri, namun setelah sadar ia tak merasakan apa yang barusan dilakukan nya.

Sebenarnya dimabuk cinta tidak hanya membuat orang tidak sadar pikirannya. namun orang yang pikirannya sadar juga terkena dampaknya. Pikirannya normal pada umumnya, namun tingkah laku dan perbuatannya melakukan kemaksiatan. Semakin lama dimabuk cintanya semakin lama bermaksiat. Yang awalnya malu akhirnya sungguh terlalu. Yang awalnya mencoba akhirnya tergoda, yang awalnya biasa akhirnya jadi kebiasaan. Yang pada endingya tidak sadarkan diri, terbuai dengan kemaksiatan.

Sebenarnya dimabuk cinta itu boleh-boleh saja, bahkan berpahala asalkan segalanya distandarkan pada syariat Islam. Mencintai seseorang tanpa melanggar aturan Allah SWT. Tidak pacaran dan aktivitas sejenisnya, namun malalui jalan Islam. ketika mencintai seseorang yang cintai dengan cara yang baik, ta’ aruf jika cocok khitbahlah, naah kemudian nikahilah. Heemmm, akhirnya silahkan mabuk cinta. cieee, cie.
Bahagia, nikmat dan berpahala. Bahagia tanpa ada yang curiga karena dikira selingkuh. Berbahagialah dengan mabuk cinta.

Sedangkan orang yang dimabuk cinta tanpa distandarkan pada syariat islam. tidak akan merasakan kebahagiaan, namun hanya merasakan kesenangan saja. Setiap perilaku perbuatannya selalu dihantui rasa bersalah dan rasa takut. Tatkala perbuatannya diketahui orang lain sebab yang ia lakukan adalah kemaksiatan.

Seseorang yang selingkuh misalnya, Ia akan ketakutan jikalau apa yang dilakukan diketahui istri ( suami). Handponya selalu bawa kemanapun ia pergi, setiap ada chatingan langsung dihapus. Dirinya sering keluar rumah tanpa sepengetahuanya.
Inilah contoh orang dimabuk cinta yang tidak distandarkan pada syariat. Ia tidak meraskan kebahagiaan tapi hanya merasakan kesenangan saja.

Ikhwan Fillah, Bahagia seribu bahagilah karena cinta. Denganya, kamu juga merasakan cinta dari sang Kholiq dengan seribu kebahagiaan yang berlipat ganda. Tiada seindah untaian cinta kecuali DariNYA.
Tiada senikmat kasih sayang kecuali kasih sayang dari sang pemilik cinta. Sebab kasih sayangNYA akan abadi sampai ke Jannah. Di sanalah kemuliaan yang penuh kasih sayang. Semoga diri kita akan merasakannya. Aamiin ya rabbal Alamin. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *