Cinta yang Hakiki

Oleh : Jumi Handayani

Mencintai Rasulullah saw. adalah wujud keimanan. Kecintaan inilah yang akan mengantarkan pada ketaatan. Tidak sedikit pengakuan cinta berhenti sampai di lisan tanpa dilanjutkan sampai perbuatan. Padahal cinta butuh bukti bukan sekedar pengakuan.

Mencintai Rasulullah saw. tak sekedar mencintai fisiknya namun terlebih misi apa yang beliau emban dan perjuangkan sampai akhir hayat beliau yaitu tegak syariah islam. Sehingga cinta ini akan terwujud dalam kecintaan pada akidah dan syariah Islam.

Namun tidak sedikit setiap muslim mengaku mencintai beliau tapi membenci syariah yang beliau bawa bahkan berpaling darinya maka cinta dusta. Adalagi yang mengaku mencintai Rasulullah saw. tapi alergi dengan syariahnya maka cintanya palsu. Sekalipun setiap tahun menjadi pelopor acara peringatan Maulid Nabi saw.

Seharusnya kecintaan ini mengalir dalam kerinduan apa yang beliau perjuangkan yaitu tegaknya syariah islam dimuka bumi. Tak sekedar misi kemanusiaan pada umumnya namun misi inilah yang membawa umat manusia pada kebahagian yang hakiki dunia dan akhirat. Inilah bukti cinta hakiki Rasulullah saw pada umatnya.

Cinta yang hakiki akan melahirkan ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, yakni dengan mengikuti risalah yang beliau bawa. Allah SWT berfirman:
“Katakanlah, jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” ( TQS. Ali Imran: 31).

Cinta akan berbuah ketaatan. Ketaatan secara menyeluruh apa yang beliau perintahkan dan apa yang beliau larang. Kecintaan inilah yang membawa pada ketaatan perkara apa saja yang dibawa oleh Rasulullah saw. seperti: perkara spritual, sosial masyarakat, perkara ibadah, akhlak, keluarga, ekonomi, hukum, pemerintahan, politik dan semua urusan masyarakat. Allah SWT berfirman :
“Apa saja yang Rasul bawa kepada kalian, ambillah. Apa saja yang dia larang atas kalian, tinggalkanlah.” ( TQS. al-Hasyr:7).

Dengan begitu cinta yang hakiki ini akan mendorong setiap muslim menaati dan menerapkan syariah islam secara kaffah dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan negara.

Wallah a’lam bi ash-shawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *