Cinta Nabi Cinta Syariah

Oleh : Ummu Bisyarah (Aktivis Islam Kab. Malang)

Cinta adalah sebuah anugerah dan rahmah. Cinta adalah rasa paling indah yang diciptakan oleh Allah pada diri setiap makhluq bernyawa. Namun cinta bisa saja berbuah pahala hingga ke jannah atau bahkan menghasilkan dosa jika pelampiasan rasa cinta tak sesuai syariah. Di iklim kapitalisme sekarang dimana asasnya adalah kebebasan, banyak sekali praktik – praktik pelampiasan rasa cinta yang tak sesuai tuntunan sang pencipta. Sebut saja seoarang reaper terkenal di Indonesia berinisial YX yang video youtubenya sempat viral karena pengakuan kesenangannya mendengar kabar pacarnya ( sekarang sudah jadi istrinya) hamil di luar nikah. Bahkan terjadi ratusan kasus serupa di negri tercinta. Lihatlah bagaimana venomena pacaran menjadi trand anak muda sekarang yang bahkan Allah mengharamkan mendekati zina. Astaghfirullah.

Namun ada pula cinta yang berbuah pahala, bahkan mengantar sang punya cinta hingga ke surga.

Sulaiman bin Harb telah menyampaikan kepada kami, dia mengatakan, ‘Kami diberitahu oleh Hammad bin Zaid dari Tsabit dari Anas Radhiyallahu anhu ,dia mengatakan bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hari kiamat. Orang itu mengatakan, ‘Kapankah hari kiamat itu?’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam balik bertanya, ’Apa yang telah engkau persiapkan untuk hari itu?’ Orang itu menjawab, ‘Tidak ada, hanya saja sesungguhnya saya mencintai Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.

Sebagai seorang muslim menjadi sebuah keniscayaan mencintai orang paling berarti dalam hidup ini, yakni baginda nabi Muhammad SAW. 1400 tahun sudah cahaya islam yang beliau dakwahkan dengan perjuangan tiada henti di jalan berliku penuh onak dan duri,menyinari gelapnya relung jagad raya dan menjadi pelita di hati manusia hingga ia mulia karenanya.

Rosulullah adalah orang yang dipilih Allah tuk mengemban tugas mulia menyampaikan islam ke seluruh penjuru dunia. Kini kita indra betapa islam telah mengetuk seluruh pintu yang ada di dunia, menyebarkan cahaya iman ke hati manusia. Maka tak heran ketika Michael H. Hart dalam karya fenomenalnya “The 100” menempatkan Rosulullah sebagai orang paling berpengaruh nomor 1 di dunia. Bagaimana tidak, Rosul yang lahir di keluarga sederhana yang jauh dari pusat peradaban ketika awal menyampaikan Islam hanya 4 orang yang mengikutinya, yakni istrinya, sahabatnya dan 2 anaka kecil. Namun lihatlah kini followers beliau sudah 1 milyar lebih bahkan akan terus bertambah. Mungkinkan apa yang disampaikan Rosulullah adalah sebuah kebohongan belaka? Karena sangat tidak mungkin memhongi milyaran orang. Bahkan pengikut beliau sangat mencintai beliau dan tak rela jika Rosul dihina, mereka akan membela walau nyawa taruhannya.

Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh aku diutus menjadi Rasul tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Tugas berat yang diembannya adalah menyempurnakan akhlaq yang mulia. Akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluk, yang berarti tingkah laku, dan akhlak mulia merupakan amal sholih yakni semua perbuatan yang disandarkan pada syariat. Maka mencintai rosulullah berarti mencintai segala syariat yang beliau bawa dan menyandarkan segala kehidupan kita sesuai syariat dalam seluruh aspek kehidupan.

Rosulullah tak hanya mencontohkan ibadah mahdhoh saja, tak hanya mencontohkan akhlaq baik dalam ranah individu, berkeluarga atau bermasyarakat. Bahkan beliau mencontohkan bagaimana bernegara dan meriayah umat dalam suatu negara sesuai syariat islam. Hal itu tercermin dari isi piagam Madinah. Menyatu tanpa mencampuradukkan ajaran Islam dengan selainnya.

Sebagai kepala negara di Madinah, Rasulullah menerapkan syariat  Islam secara menyeluruh. Hal itu tertuang nyata di dalam Shahîfah atau Watsîqah al-Madînah (Piagam Madinah): “Bilamana kalian berselisih dalam suatu perkara, tempat kembali (keputusan)-nya adalah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan kepada Muhammad saw…Apapun yang terjadi di antara pihak-pihak yang menyepakati piagam ini, berupa suatu kasus atau persengketaan yang dikhawatirkan akan menimbulkan kerusakan, tempat kembali (keputusan)-nya adalah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan kepada Muhammad Rasulullah saw.” (Ibnu Hisyam, As-Sîrah an-Nabawiyyah, I/503-504).

Maka dari itu kita sebagai seorang muslim yang ingin berkumpul kembali dengan beliau di jannahnya haruslah meneladani segala bentuk aktivitas beliau. Cinta nabi cinta seluruh syariat yang beliau bawa. Jangan sampai cintamu palsu!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *