Cinta Nabi, Butuh Bukti Tidak Hanya Seremoni

Oleh : Karina Izzati (Aktivis Dakwah)

Bulan Rabiulawal memiliki arti khusus bagi umat Islam. Pada tanggal 12 bulan ini diyakini sebagai hari kelahiran Baginda Rasulullah Saw. Oleh karenanya, sebagian umat Islam biasa menyambutnya dengan istilah “Peringatan Maulid Nabi Saw.” atau Muludan.

Menurut catatan sejarah, Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. pertama kali diperkenalkan Abu Said al-Qakburi, Gubernur Irbil, Irak, pada masa pemerintahan Sultan Shalahuddin al-Ayyubi (1138-1193 M). Menurut sumber lain, yang pertama mencetuskan ide Peringatan Maulid Nabi Saw. adalah Sultan Shalahuddin al-Ayyubi sendiri. Tujuannya adalah untuk memperkukuh semangat umat Islam umumnya, khususnya mental para tentara Muslim yang lemah dalam menghadapi serangan tentara Salib dari Eropa, yang ingin merebut tanah suci Yerusalem dari tangan kaum Muslim.

Pendek kata, secara sosio-historis, Peringatan Maulid Nabi Saw. dilatarbelakangi oleh: di satu sisi Perang Salib yang dilancarkan kaum kafir Kristiani yang ingin merebut Kota Yerusalem (Palestina); di sisi lain melemahnya semangat jihad kaum Muslim dalam melawan kaum kafir Kristiani itu. Efeknya memang sangat luar biasa. Dengan Peringatan Maulid Nabi Saw. inilah Sultan Shalahuddin saat itu mampu membangkitkan kembali kesadaran kaum Muslim sekaligus semangat jihad mereka dalam membela agama Allah ini, khususnya melawan kafir Kristiani dalam Perang Salib.

Dari peristiwa itu sebenarnya dapat kita ketahui bahwa itu adalah bagian dari Islamophobia. Dalam pandangannya, Islam adalah sumber masalah, krisis, dan kekerasan. Dalam pidato di pertemuan tahunan NATO dan pidato lainnya, dia juga menyebut Islam adalah sumber masalah. Macron menyebut bahwa negara muslim yang tidak melakukan tindakan tegas terhadap benih-benih radikalisme, berarti negara tersebut mendukung radikalisme. Salah satu yang dia tunjuk saat itu adalah Turki.

Kalau dilihat, Prancis memang tidak pernah memberi perlakuan adil terhadap warga negaranya yang muslim. Termasuk bagaimana dukungannya terhadap Majalah Charlie Hebdo yang berkali-kali mengulang penghinaannya terhadap Nabi Muhammad Saw. dengan dalih menghargai kebebasan. Islamofobia ini yang sengaja dihembuskan Barat kepada dunia adalah wujud kebencian yang nyata dari mereka. Upaya Barat dalam menciptakan islamofobia di tengah masyarakat dunia adalah bentuk ketakutan mereka terhadap kebangkitan Islam. Maka, segala daya dan upaya dilakukan untuk membendung tegaknya Islam.

Maka dengan adanya kasus demikian Kita sebagai umat muslim layaknya Umat Islam marah, dan ini sebuah bentuk cinta. Yang semakin sedih adalah penguasa Muslim saat ini yang harusnya bisa bertindak tegas ternyata tidak. Bagi umat muslim, menghina atau menghujat Nabi hukumnya haram. Sanksi bagi pelakunya adalah hukuman mati. Hal tersebut dijelaskan secara panjang lebar oleh al-Qadhi Iyadh dalam Kitab al-Syifa bi-Ta’rif Huquq al-Mushthafa.

“Ketahuilah–semoga kita diberi hidayah taufik–bahwa siapa pun yang menistakan Nabi, menghina beliau, atau menganggap beliau tidak sempurna pada diri, nasab, dan agama beliau, atau di antara akhlak beliau, atau menandingi beliau, atau menyerupakan beliau dengan sesuatu untuk menistakan beliau, atau meremehkan beliau, atau merendahkan kedudukan beliau, atau menjatuhkan beliau, atau menghinakan beliau, maka ia termasuk orang yang menistakan beliau. Hukum yang berlaku atasnya adalah hukum pelaku penistaan, yaitu dihukum mati sebagaimana yang akan kami jelaskan ini.”

Marah satu bentuk sikap yang paling keras untuk menunjukan ketidak sukaan Kita pada sesuatu. Maka marah memerlukan standar yang menjadi pijakan, kapan Kita harus marah, kapan Kita harus pasrah. Marah, biasanya berhubungan dengan rasa cinta dan benci pada diri kita, karena itu standar benci dan cinta seorang muslim harus benar terdiri dari pemahaman syara.  Seperti halnya kasus penghinaan terhadap Nabi yang terjadi di Perancis,  Seharusnya membuat semua Kita marah. Kenapa?  Dalam sebuah hadist di riwayatkan bahwa ” jika engkau melihat sebuah kemungkaran, maka rubahlah dengan tanganmu, jika tidak mampu maka lakukanlah dengan lisanmu, jika pun tidak bisa maka dalam hatimu, akan tetapi ini adalah bentuk selemah-lemah iman. Maka, tunjukanlah marahmu sesuai yang engkau bisa. Memboikot semua produk berasal dari Perancis memang bisa menjadi efek yang luar biasa, jika saja semua muslim mau melakukan itu. Turun ke jalan unjuk rasa untuk menampakan ketidak sukaan itu adalah jalan yang juga bisa mencerminkan rasa marah Kita.

Kelak kita akan ditanya di hari pengadilan, dimanakah posisimu?

Ketika ada penghinaan kepada Baginda Nabi Muhamadﷺ apakah termasuk yang memilih berdiam diri, diam seribu bahasa atau yang hatinya tidak terima, tidak rida, marah, geram, berseru memboikot produk, turun ke jalan melakukan aksi Bela Nabi Muhammad ﷺ, berjuang dakwah menegakkan syariat Islam secara kafah?  Semoga Anda dan Kita bukan orang yang memilih untuk berdiam diri atau berdiam beribu bahasa ketika Nabi Muhammad ﷺ dihina. Meski kita tahu selantang-lantangnya teriakan suara kita, bahkan hingga serak suara pun dalam membela Nabi Muhammad ﷺ tak lantas instan bisa menghentikan orang-orang yang menghina Nabi Muhammad ﷺ

Tidak hanya itu kelak kita akan ditanya kontribusi apa ketika kamu mengakui cinta kepada rasul yang mulia? Maka ini terdapat bukti konkrit kita ketika mencintai nabi Muhammad SAW

Pertama, bersungguh-sungguhlah mengikuti ajaran Rasul ﷺ yang berpedoman pada Alquran dan hadis. Akhlak Nabi ﷺ ialah cerminan isi Alquran yang suci dan mulia.

Kedua, seorang muslim wajib mempelajari kehidupan Rasul ﷺ meliputi kehidupan rumah tangga beliau, pengorbanan yang dilalui beliau sebagai pembawa risalah Allah, hingga bagaimana beliau menjadi seorang kepala negara yang visioner.

Ketiga, berselawat kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Keempat, mencintai apa yang menjadi kegemaran beliau, seperti menjaga sunah, salat tahajud, puasa sunah Senin dan Kamis, hingga sunah-sunah lainnya. Bagaimana kita bisa mencintai Nabi jika jauh dari sunah-sunahnya, bukan?

Kelima, mendakwahkan Islam, seperti yang dilakukan Nabi ﷺ, mengajak manusia untuk menerapkan risalah yang dibawanya. Mencintai Nabi tentu berharap dapat dikumpulkan kembali bersama beliau di Jannah-Nya. Ini akan menjadikan seseorang bersemangat memperjuangkan Islam agar diterapkan di muka bumi.

Wallahua’alam bishshawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *