Cinta Berkalung Gelisah

Oleh : Ratna Mustika Pertiwi (Pegiat Literasi)

Cinta adalah sebuah emosi yang datang dari Sang Pencipta, banyak orang yang mendefinisikan dengan aktivitas yang identik dengan kecenderungan laki-laki dan perempuan. Tetapi bisa dikatakan, definisi ini sungguh sangat sempit, mengingat hari ini banyak manusia mengartikan cinta sebagai hasrat untuk memenuhi kebutuhan seksualitas tanpa kualitas.

Cinta bisa dikatakan sebuah kecenderungan yang dipengaruhi oleh pemahaman, bisa jadi ketika seorang yang mendefinisikannya sekedar hasrat untuk memenuhi hawa nafsu, maka ia akan mencari seribu cara untuk mendapatkannya meskipun dengan jalan yang haram, semisal menjalin hubungan diluar pernikahan.
Tetapi bila seorang manusia memiliki definisi cinta dengan sebuah dorongan keimanan, maka cinta itu akan mendorongnya mencari sejuta jalan untuk bisa taat kepada Allah dan RasulNya. Meskipun ia harus melalui jalan yang sangat terjal bahkan hujan badai ujian yang menerpanya akan ia hadang.

Contoh saja hari ini, hiruk pikuk keramaian kota seperti membuat semua orang sibuk. Banyak deadline tugas dan pekerjaan, atau aktivitas-aktivitas dunia yang serba menyibukkan. Terkadang banyak orang yang enggan memikirkan hal lain sekedar mengikuti kajian rutin mingguan karena mereka beralasan penat.

Terkadang pula untuk datang sholat ketika adzan telah berkumandang cukuplah berat, padahal ketika kaki melangkah sejauh apapun untuk menemui client tidaklah pernah mengeluh. Lalu ketika Rabb Sang Pemilik Kehidupan memanggil, banyak manusia yang abai terhadapnya.

Miris sekali memang kenyataan hari ini, manusia-manusia telah terbentuk mindsetnya sebagai budak dunia. Mereka mengaku cinta kepada Allah tetapi mengabaikan setiap apa yang diperintahkan Allah dan RasulNya. Lisannya mudah berkeluh kesah, kakinya berat untuk mendatangi majlis ilmu dan pikirannya hanya terisi file-file target pekerjaannya yang belum terselesaikan.

Lantas benarkah ini disebut cinta?
Bagi seorang yang beriman, cintanya kepada Allah berkalungkan gelisah. Iman yang tertancap didalam dirinya akan membentuknya sebagai individu yang bertaqwa. Bilamana ia melakukan kemaksiatan rasa-rasa kegelisahan akan timbul sebagai indikasi “khauf” atau takut kepada siksa Allah.

Jika rasa kegelisahan itu tidak kunjung hadir, maka bertanyalah kepada diri sendiri apakah ada yang salah?

Bila kita memandang banyak manusia yang nyaman dengan kemaksiatannya, bisa jadi memang itu adalah cara Allah untuk memalingkan dirinya dari nikmat mencintai Allah. Bisa jadi, kemaksiatan-kemaksiatan yang secara continue dilakukan perlahan mewarnai hati dengan tinta hitam sehingga tidak merasa gelisah saat ada yang salah.
Utsman bin Affan RA menyampaikan saat khutbah terakhir dalam hidupnya “Allah SWT telah memberi anda dunia ini untuk meminta akhirat dan tidak memberikannya kepada anda untuk anda bergantung, jadi jangan biarkan hal-hal yang berakhir membuat anda abai, atau membuat anda sibuk dari apa yang kekal. Pilihlah untuk mencari apa yang kekal dari yang berakhir, karena dunia ini akan berhenti dan kita kembali kepada Allah”.

Saat kembali dari Perang Siffin, Ali bin Abi Thalib RA melewati pemakaman Kufah dan ia berkata kepada ahli kubur “Hai kamu yang berbaring di rumah-rumah yang mengerikan dan sepi. Hai kamu yang dikurung di kuburan yang gelap, yang sendirian ditempat mereka, kamu telah pergi mendahului kami sementara kami juga mengikuti langkah-langkah kamu dan akan segera bergabung denganmu. Apakah kamu tahu apa yang terjadi padamu? Rumah dan hartamu diambil oleh orang lain, jandamu telah menikah lagi, kekayaanmu telah didistribusikan. Inilah yang dapat kami sampaikan tentang dunia ini. Bisakah kamu memberi tahu kami tentang hal-hal disekitarmu ?” Saat mengatakan ini Ali RA menoleh kepada sahabatnya dan berkata “Jika mereka diijinkan untuk berbicara, mereka akan memberi tahu bahwa persiapan terbaik untuk kehidupan berikutnya adalah taqwa dan kebajikan”.

Sudah selayaknya kita sebagai manusia menyadari bahwa hakikat dunia ini sementara. Jangan kemudian deadline-dealine dunia membuat diri kita semakin melangkah menjauhi Jannah dengan menjadi budak-budak dunia dan menutup mata dari kehidupan yang abadi sebenarnya yakni kehidupan akhirat.

Jika kita takut kepada seorang manusia yang bergelar atasan atau bos di kantor tempat bekerja, gelisah bukan main saat deadline pekerjaan belum kunjung selesai, lantas mengapa tak begitu terhadap kewajiban-kewajiban dari Allah yang sering kita lalaikan, padahal Dia Zat yang Menciptakan makhluk yang serba lemah dan terbatas.
Maka berfikirlah sebelum terlambat.
Wallahu’alam bishawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *