Sayonara

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Sayonara

 

Oleh Firda Umayah

 

Akeno masih setia menemani ibunya. Libur kerja hari ini ia habiskan di rumah membantu ibunya mengerjakan beberapa pekerjaan rumah. Ibunya sangat senang Akeno ada di sampingnya. Ia lalu tersenyum lantas bertanya.

“Akeno, apakah tidak apa-apa kamu tidak pergi bersama teman-teman mu?” tanya ibu Akeno.

Akeno membalas pertanyaan ibu dengan senyuman.

“Tak apa Mama, bagiku bersama Mama jauh lebih baik. Daripada harus pergi bersama teman-teman merayakan tahun baru.”

“Memangnya kenapa? Kamu selama ini tak pernah meninggalkan perayaan tahun baru,” tanya ibu kembali.

Akeno menjelaskan bahwa perayaan tahun baru bukanlah bagian dari ajaran Islam. Kini, setelah Akeno masuk ke dalam agama Islam enam bulan lalu, ia harus bersandar kepada syariat Islam dalam semua aktivitas.

Ibu tak mendebat apa yang menjadi keputusan Akeno. Sejak Akeno masuk Islam dibimbing temannya Akio alias Ahmad, Akeno menjadi pribadi yang jauh berbeda.

Akeno menjadi sangat perhatian dan sayang kepada ibunya. Ia juga termasuk mualaf yang cepat memahami Islam dan bersegera dalam menyambut seruan-Nya. Meski ibunya masih enggan mengikuti jejaknya, namun rida ibunya ketika Akeno memeluk Islam adalah hal yang luar biasa baginya.

Akeno menghabiskan malam pergantian tahun itu dengan aktivitas rumah dan ibadah. Ia mencoba membaca Al-Qur’an meski masih membaca melalui tulisan latinnya. Sebab memang butuh waktu lama agar ia bisa membaca Al-Qur’an dalam tulisan Arab.

Suara ngaji Akeno terdengar merdu di telinga ibu. Sayup-sayup suara angin yang menerpa pepohonan sekitar rumah turun menambah syahdu suasana malam itu.

Tanpa disadari, air mata ibu Akeno menetes. Sang ibu tak tahu mengapa ia merasa terenyuh saat Akeno melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an. Padahal ia tak sedikitpun mengerti arti dari ayat-ayat tersebut.

Ibu mengurungkan niatnya untuk menanyakan kondisi hatinya saat itu pada Akeno. Ia masih meyakini bahwa agama apapun di matanya adalah sama. Ia masih bertekad mempertahankan keyakinan yang selama ini keluarganya ajarkan.

Esok paginya, ibu tak melihat Akeno berada di rumah. Ia heran, mengapa pada hari tahun itu Akeno sudah meninggal rumah pada pagi hari.

Rupanya Akeno ingin pergi ke rumah Ahmad di Kyoto. Sebelum meninggalkan rumah, Akeno telah merapikan rumah, mencuci pakaian serta menyiapkan makanan untuk ibunya.

……

“Konnichiwa,” ucap Akeno setelah pulang dari rumah Akio.

Rupanya ibu Akeno telah menyiapkan makan seperti biasa. Akeno dan ibu berbincang usai makan.

“Akeno, apakah kamu tidak apa-apa berubah seperti ini? Mama khawatir kamu tidak bahagia,” tanya ibu Akeno.

Akeno menjawab bahwa perubahannya kini merupakan hal yang luar biasa ia rasakan. Sebelumnya ia kerap mengalami kekosongan hati. Sehingga sering minum sake untuk mengatasi rasa gelisahnya. Namun kini, ia tak memerlukan itu. Sebab Islam telah solusi atas semua masalah hidupnya.

“Akeno, kapan kamu akan menikah? Setahu Mama, Islam dalam agamamu menganjurkan untuk menikah,” tanya ibu Akeno kembali.

Pertanyaan kali ini membuat Akeno tertegun. Ia tak sempat memikirkan itu. Ia lupa bahwa kini usianya telah menginjak usia 31 tahun.

Akeno hanya menjelaskan bahwa ia masih menyiapkan mental, ilmu dan fisik untuk menikah. Ia juga ingin memiliki istri yang satu agama dengannya. Namun ia belum menemukannya.

Ibu Akeno meminta Akeno untuk bertanya kepada Akio. Barangkali Akio bisa membantunya. Sebab ibu Akeno ingin menimang cucu sebelum ajal menjemputnya.

Menikah adalah tugas besar bagi Akeno. Ia tahu bahwa Jepang sedang diancam krisis populasi. Ide-ide sekularisme liberalisme telah membuat warga Jepang enggan menikah dan memiliki anak.

Akeno merasa saat ini istikamah dalam agama Islam adalah hal yang utama. Ia akan berencana akan membicarakan pernikahan kepada sahabatnya Akio di lain waktu.

Di malam hari pertama tahun baru 2023 itu, Akeno isi dengan muhasabah kehidupan ia selama setahun. Ia tak menyangka ia akan mengucapkan “sayonara” kepada semua tingkah jahiliah pada masa lalu.

Ia bersyukur, pertemuannya dengan Akio pada awal tahun 2022 lalu membuat ia menemukan hidayah. Yakni memeluk agama Islam. Ia memeluk agama Islam setelah melakukan pertemuan rutin tiap bulan dengan Akio. Hingga kini, ia masih rutin mengunjungi Akio sekaligus belajar Islam lebih dalam dan belajar membaca Al-Qur’an.

Akeno bertekad akan membuat resolusi tahun 2023 agar menjadi pribadi yang lebih baik. Menjadi muslim yang mampu menjadi sarana agar orang Jepang lain bisa mendapatkan hidayah. Menjadi agen perubahan agar Islam semakin tersebar di wilayah Jepang.

Akeno menyadari bahwa resolusi hendaklah bukan terkait diri sendiri atau keluarga saja. Namun harus dibuat agar bermanfaat juga untuk masyarakat, bangsa dan negara.

Terlebih lagi di Jepang. Kuatnya arus sekularisme ditambah individualisme yang tinggi membuat masyarakat sibuk sendiri. Di sisi lain masyarakat tak begitu mempedulikan kondisi setiap individu. Tapi di sisi lain, inilah yang membuat orang-orang Jepang sulit untuk didakwahi. Oleh karena itu, butuh kesiapan mental dan ilmu untuk mendakwahkan Islam di Jepang.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *