Butuh Amanah bukan Amarah

Oleh: Erna Ummu Arfa

Presiden Joko Widodo menyampaikan kemarahannya di depan para menteri pada rapat terbatas tanggal 18 Juni silam. Namun videonya baru diupload pada hari Minggu, 28 Juni 2020.
Jokowi mengaku geram karena jajarannya tidak sigap dalam menghadapi situasi krisis. Kepala negara bahkan meluapkan amarahnya lantaran kinerja pembantunya tidak membawa kemajuan yang signifikan.

Kemarahan Presiden Jokowi boleh jadi akan mempunyai imbas dalam kebijaksanaan pemerintahan, dengan asumsi serius dengan apa yang ia ucapkan dalam pidato “marah dengan teks” itu. Kemarahan pada pembantunya cukup dramatik, sampai perlu menyatakan akan “mengeluarkan perppu, membubarkan lembaga, atau me-reshuffle kabinet” jika dirasa perlu.

Inti dari kemarahan Jokowi pada minimnya penyerapan anggaran selama situasi krisis pandemi Covid-19, adalah soal serius. Satu “evaluasi terbuka” terkait tingkat keseriusan dan kebecusan kinerja aparat pemerintahannya. Cuplikan rekaman rapat kabinet itu menjadi semacam event yang cukup dramatik.

Hanya saja publik juga mempunyai penilaian tersendiri, beberapa waktu lalu tidak ada visi misi menteri, yang ada visi misi Presiden-Wakil Presiden. “Tolong itu dicatat,” tegasnya ketika memimpin sidang kabinet pertama 24 November 2019.

Jadi para menteri hanya melaksanakan tugas, mengimplementasikan visi misi Presiden. Kalau para menteri tidak bekerja sesuai visi misi, tidak sesuai harapan Presiden, tinggal pecat. Cukup segera copot, ganti, cari yang lebih tepat. Cari menteri yang bisa menjalankan tugas dan visi misi Presiden.

Tidak perlu mengumbar kesalahan, memarahi, dan mengancam reshufle di depan publik.Jangan salahkan publik kalau skeptis, mati rasa, menilai Presiden lebay. Mereka sudah terbiasa dan mahfum dengan gaya Jokowi. (Suara Islam.id)

Jokowi harusnya bukan hanya dicitrakan seperti Amirul mukminin Umar bin Khotob tapi juga harusnya belajar kepada kisah keteladanannya. Beliau tidak pernah memimpin negaranya dengan amarah yang meluap.

Beliau bukan tipe orang yang suka dan serakah akan kekuasaan. Bahkan ketika hendak diangkat menjadi khalifah, Beliau cemas dan berpesan agar siapa saja boleh mengkritiknya jika ia bersalah.

Kritikan wanita Muslimah karena kekeliruan menaikkan mahar kawin di wilayah kekuasaan kekhilafahan Islamiyah yang pada waktu itu berpusat di Madinah beliau terima dengan ikhlas dan ridho.

Ketika terjadi wabah di daerah Amwas Syam, Beliau tak pernah memarahi dan menyalahkan bawahannya.
Beliau langsung bertindak dengan menerapkan Lock down sehingga wabah tidak menyebar dan banyak orang yang terselamatkan.

Pada masa pemerintahan beliau, Kekhilafahan Islamiyah berhasil menundukkan kekuatan Romawi dan Persia negara adidaya kala itu. Khilafah pun menjadi kekuatan yang disegani.
Kemakmuran negara dan rakyatnya tidak membuat lupa diri bahwa semuanya karunia Illahi berkah menerapkan hukum syariah yang agung dan suci.

Islam tersebar dari Hijaz hingga ke Afrika. Sejarah mencatat hingga kini semua orang mengakui kepimpinan dalam sistem keKhilafahannya. Kebaikan dan ketegasannya di akui sepanjang masa.

Oleh karena itu, jika ingin selamat dari wabah dan maju dalam peradaban maka Pemimpinnya haruslah seorang yang bertakwa. Warga negaranyapun harus bertakwa yang dibuktikan dengan tegaknya hukum-hukum Allah dibawah naungan Khilafah Rasyidah ‘ala minhajin nubuwah. Agar Allah SWT ridha dan mencurahkan berkahnya dari langit dan bumi.

Wallahu a’lam

4 thoughts on “Butuh Amanah bukan Amarah

  • 6 Juli 2020 pada 05:50
    Permalink

    Pidato by text,marah by text

    Balas
  • 6 Juli 2020 pada 06:05
    Permalink

    Jalan Supaya tidak disalahkan adalah marah

    Balas
    • 6 Juli 2020 pada 08:07
      Permalink

      Dalang marahin wayang,gmn yak?

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *