Bunuh Diri akibat Depresi, Islam Solusinya

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Dian Puspita Sari (Ibu Rumah Tangga)

Betapa miris melihat fenomena bunuh diri yang marak terjadi di dunia saat ini. Tak terkecuali di Indonesia.
Pemicunya pun banyak. Bunuh diri kerap dilakukan akibat putus asa, yang penyebabnya sering kali dikaitkan dengan gangguan kejiwaan misalnya depresi, gangguan bipolar, skizofrenia, ketergantungan alkohol / alkoholisme, atau penyalahgunaan obat. Faktor-faktor penyebab stres antara lain kesulitan keuangan atau masalah dalam hubungan interpersonal sering kali ikut berperan. (https://id.m.wikipedia.org/wiki/Bunuh_diri)

Yang terupdate, Kasus bunuh diri yang dilakukan oleh Rangga Arman Kusuma, remaja 16 tahun, dan mencengangkan masyarakat. Remaja kelas II SMP Global Islamic School ini ditemukan tewas gantung diri di lemari pakaiannya di rumah neneknya, Pancoran, Jakarta. Yang bersangkutan diduga depresi sejak kecil. Sejak kedua orang tuanya bercerai, Aga kurang mendapatkan kasih sayang orang tuanya. Depresinya ini diperburuk dengan kegemarannya menonton film atau membaca kartun horor yang menginspirasinya untuk melakukan bunuh diri “aman”.
Atau seorang pasien Covid-19 yang baru sehari dirawat di Rumah Sakit Haji Surabaya, nekat melakukan bunuh diri dengan loncat dari jendela di lantai 6 rumah sakit tersebut pada Kamis (30/7/2020) pagi. Tanda-tanda depresi nya sudah tampak semalam sebelumnya.(suarasurabaya.net, 30/7/2020)

Tak cukup di Indonesia, bunuh diri juga sudah lama marak terjadi di dunia. Menimpa semua lapisan masyarakat. Baik orang awam hingga seleb. Saking maraknya, setiap tanggal 10 September diperingati sebagai Hari Anti Bunuh Diri Sedunia atau biasa dikenal dengan World Suicide Prevention Day (WSPD).

Hari peringatan internasional ini sengaja digagas oleh Asosiasi Pencegahan Bunuh Diri International (IASP), berkolaborasi dengan World Health Organization (WHO) dan Federasi Kesehatan Mental Dunia, untuk mereduksi tingkat aksi bunuh diri di dunia.

Bunuh diri biasanya terjadi pada warga dengan rentan usia 15-24 tahun. Celakanya, kematian karena bunuh diri ini dilansir lebih banyak ketimbang kematian karena pembunuhan dan perang.

“Orang-orang banyak bunuh diri melebihi kematian karena perang, aksi teroris, dan pelanggaran lainnya,” ujar Presiden IASP, Brian Mishara. (merahputih.com, 10 September 2015).

Itulah realita bunuh diri dalam kehidupan sepanjang masa.
Bunuh diri adalah ungkapan putus asa seseorang saat dirinya menghadapi ujian kehidupan. Mereka berpikir dengan bunuh diri, masalah hidup mereka selesai.

Ada seorang bapak yang dulu pernah saya kenal baik putus asa menghadapi kenakalan putranya yang beranjak dewasa. Dia merasa semua nasihatnya untuk putranya tidak berguna. Bapak ini lupa, Allah sama sekali tak dia pikirkan dan bawa-bawa saat dia menasihati anaknya. Yang dia rasakan kenakalan putranya justru bikin dia kian darting, darah tingginya kambuh. Alhasil darting-nya bikin si bapak tersebut putus asa. Beberapa waktu kemudian, bapak tersebut ditemukan gantung diri di rumahnya.

Coba jika dia melakukan semua nasihat itu karena Allah. Yakni karena dakwah itu adalah kewajiban setiap muslim yang mengaku dirinya beriman kepada Allah. Tentu dia takkan putus asa, takkan berhenti untuk berharap hanya kepada Allah agar membolak balikkan hati putranya. Agar putranya tertunjuki ke jalan yang diridhai-Nya. Menjadi anak sholih, harapan orang tuanya di dunia dan di akhirat.

Ini baru sedikit masalah kasuistik bunuh diri yang muncul di permukaan. Belum yang masih tenggelam di bawah permukaan.
Bunuh diri diibaratkan “The Silent Killer”.
Maraknya bunuh diri di tengah masyarakat, baik di lingkungan sekitar kita maupun di belahan dunia manapun, membuktikan bahwa aturan kehidupan sekuler yang diterapkan oleh negara manapun saat ini sama sekali tak menjamin ketenangan hidup masyarakat. Bahkan kian menyengsarakan hidup mereka.
Selama puluhan tahun, negara sudah biasa mengabaikan urusan hidup rakyatnya. Terlebih lagi saat ini.
Mereka tak ambil pusing apakah kebutuhan sandang, pangan dan papan rakyatnya sudah mapan. Apakah rakyatnya mampu menyelesaikan masalah hidupnya sehari-hari. Apakah ada di antara rakyatnya yang terlilit utang, menjadi korban PHK, dibully, menjadi korban broken home, kurang mendapatkan kasih sayang dan perhatian akibat perceraian orang tuanya, yang mengakibatkan diri mereka putus asa, stress hingga mengakhiri hidupnya. Dan aneka ragam masalah lainnya.

Masalah, Wujud Kasih Sayang Allah.

Aneka ragam masalah manusia dalam kehidupan adalah bentuk kasih sayang Allah kepada Bani Adam.

Allah Subhaanahu wa Ta’alaa berfirman,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan untuk mengatakan, ‘kami telah beriman’ Tanpa diuji? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah benar-benar tahu orang-orang yang tulus dan orang-orang yang berdusta“. (Qs. Al-Ankabut [29]: 2-3).

Nabi Muhammad Saw. bersabda,
“Sesungguhnya Allah jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan mendatangkan cobaan kepada mereka. Dan barangsiapa rela dengan ujian itu, maka dia akan memperoleh kerelaan-Nya. Dan barangsiapa membencinya maka dia akan memperoleh kebencian-Nya.” (HR. Tirmizi, 2396 dan Ibnu Majah, 403)

Depresi? Islam Solusinya. Yuk! Ngaji.

Islam adalah agama sekaligus pedoman hidup kaum muslimin, petunjuk bagi umat manusia. Islam adalah rujukan semua persoalan hidup manusia.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala, Dzat yang Maha Pencipta dan Maha Mengetahui, telah mempersiapkan metode terbaik-Nya dalam syariat Islam sebagai penyelesai masalah hidup manusia.

Sebagai muslim, bagaimana kita menyikapi masalah?

Yang pertama, secara personal, saat kita diuji Allah dengan masalah, kita harus mendekatkan diri kepada-Nya (taqarrub ilallah).

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 153).

Pendekatan diri kepada Allah melalui sholat dan bersabar ini akan semakin meningkatkan imunitas, daya tahan kita dalam menghadapi semua masalah kehidupan.
Sebanyak apapun masalah hidup kita, Allah Maha Tahu kadar kemampuan kita untuk menjalaninya.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 286)

Dengan iman sebagai imunitas, kita akan terhindar dari larut dalam rasa stress dan depresi berkepanjangan, yang berujung putus asa. Sebaliknya, kita akan merasa tenang dalam ibadah kita, selalu punya harapan hanya kepada Allah. Meskipun kita sedang menghadapi banyak masalah. Sebab kita selalu berprasangka baik kepada-Nya dalam kondisi apapun. Di saat bersuka cita, kita bersyukur. Di saat berduka cita, kita bersabar. Baik buruknya masalah selalu berarti baik dalam pandangan Allah dan Islam. Perhatian orang-orang tercinta seperti keluarga juga sangat dibutuhkan orang-orang rentan dihinggapi rasa stress dan depresi. Khususnya perhatian orang tua atau saudara kandung terhadap orang stress/depresi.

Yang kedua, masyarakat juga amat berperan penting sebagai kontrol sosial bagi individu-individu keluarga di masyarakat yang saling berinteraksi. Islam mengajarkan kepada umatnya agar bersikap peka, berempati, tidak cuek, egois atau individualis terhadap lingkungan sekitar.
Khususnya saat mereka melihat ada kemungkaran atau masalah yang sedang terjadi di sekitar mereka.

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (Qs. Ali Imran [3]: 104)

Yang banyak terjadi saat ini adalah kebalikannya. Saat melihat kemungkaran atau hal yang tidak tepat, mereka lebih banyak menggosipkan tetangganya dengan orang lain. Akibatnya, bukan kontrol sosial atau muhasabah yang terjadi. Melainkan hubungan yang kurang harmonis dan sikap bermusuhan antar sesama tetangga.
Oleh sebab itu, dakwah (saling menasihati) adalah wajib bagi seluruh masyarakat.

Yang ketiga, negara adalah institusi yang paling berperan penting dalam mengatur hubungan manusia dengan Rabb nya, manusia dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain. Singkat kata, aturan hidup yang diterapkan oleh negara sangat berpengaruh pada baik buruknya kondisi bangsa tersebut.
Aturan sekuler yang diterapkan oleh negara di dunia saat ini telah menjauhkan warganya dari Tuhan semesta alam dan agama. Hal ini jelas berakibat pada kegelisahan dan ketidaknyamanan hidup warga negaranya. Sehingga banyak rakyat stress, depresi, putus asa yang berujung gila atau bunuh diri.

Ini akan berbeda jika negara mau menerapkan aturan hidup yang berasal dari Wahyu Allah Swt.
Yakni syariat Islam dalam naungan negara berasakan Islam (khilafah).

Khilafah (bahasa Arab: الخلافة‎, Al-Khilāfah) adalah sebuah sistem kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslim di dunia untuk menerapkan hukum-hukum Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Orang yang memimpinnya disebut Khalifah, dapat juga disebut Imam atau Amirul Mukminin. Misalnya ketika khalifahnya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq beliau dikenal dengan sebutan Khalifatu Ar-Rasulillah (penggantinya Nabi Muhammad). Ketika khalifahnya adalah Umar bin Khaththab, beliau disebut Amirul Mukminin (pemimpinnya orang beriman), dan ketika khalifahnya adalah Ali bin Abi Thalib, beliau disebut Imam Ali. (https://id.m.wikipedia.org/wiki/Khilafah)

Negara dalam hal ini khilafah adalah perisai dan pelindung bagi umat. Ia bertanggung jawab atas semua masalah hidup umat manusia. Tanpa tebang pilih agama, ras, suku dan bangsa. Tujuan Allah menciptakan manusia semata-mata agar mereka taat dan beribadah kepada Allah. Tujuan inilah yang mengharuskan negara khilafah untuk berperan sebagai pelayan, pengayom dan pelindung rakyat. Bukan sebaliknya, menyusahkan hidup rakyatnya. Sebagaimana yang banyak kita saksikan saat ini.

Islam adalah satu-satunya solusi yang menuntaskan masalah kehidupan manusia. Termasuk masalah maraknya bunuh diri. Yang hal ini harus segera diakhiri dengan penerapan aturan Islam secara kafah.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.