Bukan Untuk Mencetak Uang, Tapi Untuk Mencetak Generasi

Oleh: Azhary Ideologis (Mahasiswa Al Azhar, Mesir asal Indonesia)

Ketika membaca judul di atas, pasti ada hal yang terbesit dalam benak kita. Entah itu sebuah mesin yang bisa mencetak uang banyak, atau mulai terbayang sekelompok orang yang lahir di fase yang sama.

Bukan perihal mesin canggih seperti apa yang bisa mencetak uang dengan jumlah banyak. Namun, yang ingin kita bicarakan disini adalah perihal sosok yang memiliki pengaruh besar dalam melahirkan generasi. Yang terkadang sosok-sosok ini lupa dengan peran sesungguhnya yang harus mereka lakoni.

Ya, sosok yang ingin kita bicarakan adalah perempuan. Yang alamiahnya ia akan berperan sebagai anak dari orang tuanya, sebagai adik perempuan dari kakaknya, sebagai kakak perempuan dari adiknya, sebagai ibu dari anak-anaknya, sebagai nenek dari cucunya, atau sebagai bibi dari keponakannya. Begitupun dengan laki-laki, akan memiliki peran yang sama dengan perempuan dalam hal ini.

Peran istimewa yang dikhususkan untuk perempuan adalah peranannya sebagai ibu. Yang kita ketahui bahwa hal lazim yang harus dilakukan seorang ibu adalah melahirkan, menyusui, merawat, dan mendidik anak-anaknya.

Hanya saja, dalam kehidupan kita saat ini banyak ibu yang hanya berperan sebagai ibu biologis saja. Dan mengesampingkan peranannya sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Instansi pendidikan menjadi jalan keluar untuk pengurusan pendidikan anak-anaknya. Hal ini memang tidak salah, tapi akan lebih baik jika pendidikan itu dimulai dari ibunya atau lingkungan rumah, karena hal inilah yang akan menjadi pondasi dalam pembentukan karakter sang anak.

Tidak dapat dipungkiri bahwa perempuan di masa ini, berlomba-lomba untuk menjadi sosok perempuan ideal. Yang mana ideal menurut mereka adalah sosok perempuan yang memiliki karir mapan, mampu mencukupi kebutuhan diri, mampu mengikuti perkembangan zaman, yang dengannya eksistensinya terakui. Takaran ideal ini tidaklah salah, ketika ia mampu memerankan semua peranannya dengan baik. Dengan catatan, tetap berada dalam koridor syara’.

Sebuah kesalahan apabila seorang ibu hanya memfokuskan dirinya untuk mendapatkan pencapain-pencapaian di atas dan melupakan perannya sebagai ibu pendidik generasi. Karena faktanya, peran mereka sebagai pendidik bagi anak-anaknya adalah hal yang sangat urgent. Yang tidak bisa dialihkan kepada sosok yang lain.

Untuk menjadi sosok pendidik yang ideal, meniscayakan penguasaan terhadap ilmu. Karena mendidik tanpa ilmu, outputnya tidak akan seperti apa yang diharapkan. Tersebab itu, seorang ibu yang mana ia adalah “madrasah al ula” bagi anak-anaknya, layaknya model yang setiap tindaknya menjadi contoh yang kemudian ditiru oleh anak-anaknya. Atas hal ini, adalah suatu keharusan bagi perempuan atau ibu, untuk menjadi sosok pembelajar. Dengan modal ilmu yang didapat itulah, ia didik anak-anaknya untuk menjadi generasi yang hebat.

Mirisnya, orang-orang saat ini telah mendiskreditkan tujuan dari menuntut ilmu. Mengenyam pendidikan sampai ke jenjang yang tinggi, hanya ditujukan untuk mendapatkan karir atau jabatan tinggi kelak ketika masa pembelajaran berakhir. Hal ini sejalan dengan harapan dari sosok nomor wahid di Indonesia terhadap mendikbud yang menjabat saat ini untuk mencetak generasi yang siap kerja.

Lagi-lagi materi yang menjadi tujuan. Padahal, tujuan dari menuntut ilmu lebih mulia dibanding hanya sekedar pencapaian materi saja.

Maka tak heran jika ada orang yang bekata, “Untuk apa sekolah tinggi, kalo pada akhirnya hanya akan menjadi ibu yang hanya menjaga anak di rumah.”
“untuk apa sekolah di Luar negeri sampai menghabiskan uang banyak, jika pada akhirnya tidak menghasilkan uang banyak.” Dan perkataan sejenis lainnya. Karena hal ini pula, banyak orang yang memilih untuk mempelajari hal-hal yang kedepannya memiliki prospek kerja, dan mereka tinggalkan ilmu-ilmu yang sejatinya mereka butuhkan dalam kehidupan. Seperti halnya ilmu yang akan menjadi bekal bagi seorang perempuan untuk mendidik anak-anaknya.

Alasan mengapa perempuan juga harus menjadi sosok pembelajar atau mengenyam pendidikan tinggi tidak lain adalah untuk menjalankan perannya. Ketika ia menjadi seorang istri, minimal ia bisa menjadi teman diskusi yang baik untuk suaminya, mengerti dan paham perihal masalah yang dialami suami, juga mampu memberikan solusi. Ketika ia menjadi seorang ibu, ia mampu menjadi ibu yang baik. Memberikan teladan dalam segala aspek kehidupan, mendidik anak-anaknya agar menjadi sosok hebat di masa depan, menanamkan pemahaman akidah yang benar, menjadikan anak-anaknya memiliki kepribadian Islam. Penguasaan ilmu juga sangat dibutuhkan ketika perempuan berkiprah di dunia luar, menjalankan perannya sebagai pengemban dakwah. Yang setiap saat akan muncul problem-problem di tengah ummat yang mengharuskan adanya penyelesaian. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *