Bonus Demografi Atau Wabah Degradasi?

Oleh : Murni Arpani (Guru Pembimbing Belajar, Pemerhati Sosial Politik)

Degradasi (kemerosotan) moral menjadi santapan pahit yang harus ditelan dihadapan bonus demografi Indonesia 15 tahun kedepan. Menjadi suatu kebanggaan bagi negara apabila dapat memanfaatkan bonus demografi dengan baik. Pasalnya, bonus demografi jarang sekali terjadi di suatu negara. Bonus demografi merupakan keadaan dimana jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk non produktif (usia 15 tahun kebawah dan di atas 65 tahun). Menurut prediksi, Indonesia akan menikmati bonus demografi pada tahun 2020 hingga 2035.

Iip Wijayanto dalam penelitiannya mengungkap fakta yang cukup ironis tentang virginitas kaum hawa (khususnya mahasiswi). Bukunya yang pernah mengundang perdebatan “Sex in the kost” memuat persentase virginitas mahasisiwi dan menyimpulkan sekitar 97,9 % mahasiswi Yogya tidak perawan. Fenomena ini bukan hanya terjadi di kota-kota besar, namun telah merambah ke desa-desa yang notabenenya masih bersih dari pengaruh modernisasi.

Free sex atau penggunaan narkoba telah menjadi tren di tengah masyarakat. Narkoba telah masuk ke jantung-jantung pedesaan, dikonsumsi para generasi muda desa, bahkan free sex ala masyarakat desa pun tak kalah sadisnya dengan masyarakat perkotaan. Generasi muda telah terperangkap dalam lingkaran setan yang bernama kemaksiatan. Atas nama pergaulan dan kebebasan mereka rela kehilangan jati diri, dan menghambakan diri kepada kesenangan sesaat. Tak peduli efeknya di kemudian hari sehingga menyeret mereka dalam jurang kehancuran. Inilah “degradasi” yang telah mencabik-cabik anak bangsa dengan taring liberalism kapitalisme. Imbas dari semua ini terlihat tragis; angka aborsi meningkat, tingginya angka perceraian, perselingkuhan merajalela, marriage by accident, banyak nyawa mati sia-sia karena narkoba, serta semakin meningkatnya penyandang ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS).

Selain itu, akibat kemajuan teknologi anak kini bisa dengan mudah mengakses pornografi. Indonesia mendapat peringkat pertama anak pengakses situs porno. Hasil penelitian Jerry Ropalato data usia pengakses situs porno yang dirilis dalam Pornography Statistic, menunjukkan bahwa pengakses situs berdasarkan usia 18-24 tahun sebanyak 13,61 %, usia 25-34 tahun sebanyak 19,90 %, usia 35-44 tahun sebanyak 25,50 %, usia 45-54 tahun sebanyak 20,67 % dan usia 55 tahun ke atas sebanyak 20,32 %. Dapat disimpulkan bahwa rata-rata pengakses pornografi berada di usia produktif, miris!

Kecanduan game dari gawai pintar, 120 anak di rujuk ke RS Pertamina Balikpapan lantaran keluhan Computer Vision Syndrome (CVS). Dikonfirmasi kepada Dokter Spesialis Mata di RSPB, ia mengakui adanya trend keluhan sakit mata semakin tinggi sejak anak kecanduan bermain gadget. Efeknya, mulai dari gangguan refreaksi, anak butuh kacamata, jadi kemampuan bacanya tidak sampai 100 %, bahkan ada yang sampai hanya 40 %. Lebih buruk lagi, World Health Organisation (WHO) memasukkan kecanduan game ke dalam laporan International Classification of Diseases edisi 11 (ICD-11), klasifikasi gangguan jiwa. Sampel dari 4 kota besar di Indonesia (Medan, Pontianak, Manado, dan Jogjakarta pada tahun 2012) ditemukan bahwa ada 45,3 % dari 3.264 siswa sekolah yang bermain game online selama sebulan dan tidak berniat berhenti.

Berdasarkan data jumlah gamer di Indonesia yang tersedia hanya dikeluarkan oleh lembaga bisnis, pada tahun 2017 oleh lembaga riset pemasaran asal Amsterdam, Newzoo, ada 43,7 juta gamer (56 % di antaranya laki-laki) di negeri ini yang membelanjakan total US$ 880 juta. Jumlah pemain game Indonesia terbanyak di Asia Tenggara, yang bermain game di telepon pintar, personal computer dan laptop, serta konsul. Dengan prakiraan prevalensi 6,1 % pemain game mengalami kecanduan, maka dapat diperkirakan saat ini terdapat 2,7 juta pemain game yang mungkin kecanduan. Tencent Games produsen PUBG, mengungkapkan saat ini pengguna aktif hariannya sudah melampaui lebih dari 30 juta gamer. Dan lagi-lagi, mereka berada di usia produktif!

Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengungkapkan bahwa Indonesia masih harus berhadapan dengan persoalan keberlanjutan sekolah warganya. Lulusan SD sederajat dari keluarga miskin hanya 60 % yang melanjutkan ke SMP. Lulusan SMP yang lanjut ke SMA hanya 30 %. Sementara lulusan SMA yang lanjut ke Perguruan Tinggi hanya ada 3-4 %. Dan kabar buruknya, ada 3,6 juta anak Indonesia berusia sekolah, yang artinya juga di usia produktif, tetapi tidak bersekolah. Akan dibawa kemana esok hari generasi produktif ini?

Islam Solusi Menghentikan Degradasi

Peran negara amat sangat besar menghentikan kemerosotan moral bagi anak bangsa yang bernaung di dalamnya. Negara yang memiliki sistem sehat dan terarah sudah pasti tahu betul visi-misi keberadaannya untuk meriayah masyarakat dari dunia sampai ke akhirat. Pertanyaan besar bagi kita semua, mampukah Indonesia dengan sistem demokrasi kapitalisme liberalnya membawa kesejahteraan (paling tidak) sampai 15 tahun mendatang? Tidak mungkin.

Faktanya, saat ini negara telah mal-fungsi dan tidak mampu mengurusi rakyatnya. Negara serta merta mengalihkan tanggungjawab periayahannya kepada pihak ketiga demi kepentingan yang dipertuankan (materialistik). Negara kehilangan fungsinya meriayah masyarakat karena Negara beralih fungsi sebagai regulator untuk lembaga korporasi yang sarat dengan kebijakan instannya. Islamophobia bergema dari satu badan ke badan yang lain, merupakan wabah yang datang dari luar dan merupakan bisikan-bisikan dari pembenci Islam. Sehingga kaum muslim dibuat kehilangan kepercayaan diri terhadap ajaran agamanya. Sayangnya, para intelektual juga ada yang terpapar wabah ini, sehingga ketika menarasikan dekadensi moral mereka justru berbalik menjadi corong orang Asing memberikan solusi tambal sulam.

Islam memandang bahwa negara yang berlandaskan prinsip akidah dan syariah adalah unsur vital yang harus ada untuk melindungi generasi produktif dan masyarakat secara luas. Mengapa? Karena agama adalah asas (pondasi), dan negara adalah perisai. Negara tanpa agama akan rusak masyarakatnya. Agama tanpa negara akan hilang pelindungnya.

Sejatinya, Islam memberikan penghargaan dan peran yang besar pada kalangan intelektual. Karenanya, institusi Khilafah Islam sangat fokus mencetak generasi intelektual muslim dalam dua tahapan. Pertama, membangun kepribadian Islam. Para peserta didik akan dibekali syakhshiyah Islamiyyah untuk menghapus karakter kepribadian gaya Barat hasil pendidikan kurikulum sekuler. Secara alamiah, syakhshiyah Islamiyyah akan menginstal ulang kepribadian seorang muslim menjadi kepribadian yang islami. Dengan begitu, tujuan mencerdaskan anak bangsa akan selaras dengan ketakwaan yang diraihnya. Kedua, mempersiapkan mereka menjadi intelektual teknokrat yang ahli di setiap aspek kehidupan, baik itu ilmu-ilmu keislamanan maupun ilmu terapan. Khilafah akan mengoptimalkan idealisme pendidikan tinggi dengan menjamin pendanaan, fasilitas dan pengembangan riset untuk peradaban bangsa di negeri-negeri kaum Muslim.

Kita perlu menengok kembali sistem pendidikan Islam dalam menata pendidikan bagi generasi ini. Hanya dengan diterapkannya syariah secara menyeluruh, para intelektual muslim di negeri ini akan memiliki kepribadian mulia sekaligus spesialis multitalen sehingga mampu mewujudkan kemaslahatan. Aspek-aspek penunjang lainnya seperti, ekonomi, sosial, politik, pertahanan dan keamanan serta uqubat (hukum) akan menjadi hal utama pula yang akan dikritisi secara revolusioner.

Dengan demikian, bonus demografi kelak akan lebih maksimal dinikmati dibawah naungan sistem yang sehat.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *