Bom Medan, Lagu Lama yang Tak Laku Diputar Lagi

Oleh: M. Azzam Al Fatih (Aktivis Islam dari Gunung Kidul-Yogyakarta)

Jreeeng, ada lagu lama dengan nilai jual rendah pada era kejadulan kini diputar kembali. Entah kurang tau, strategi merketing apa yang akan dipakai. Padahal lagu tersebut sudah banyak cibiran orang, apalagi si penciptanya sendiri bingung mau dijual bagaimana. Ganti merk sudah, ganti sampul yang lebih elegan sudah, ganti marketing pun sudah, tapi hasilnya sama saja. Konsumen lebih menikmati hasil karyanya sendiri dengan anggapan karyanya lebih membawa manfaat.

Lagu lama yang tak laku tersebut bernama teror BOM, yang kali ini terjadi di kota Medan dengan sasaran kantor Polrestabes. Menurut informasinya bom terjadi sekitar pukul 08.45 wib, Dimana pelaku memakai atribut ojek online. Dikabarkan juga bahwa pelaku tewas ditempat.

Gayung pun disambut, para corong munafikun langsung bernyanyi bak biduanita kebanjiran job. Bernyanyi sesukanya tanpa ada jedanya. Dan tak lupa syairnya tentang jihad, pengajian, celana cingkrang dan seabrek identitas muslim lainya. Mereka pun ramai – ramai berdendang siang malam sampai lupa waktu bahkan lupa pada dirinya.

Tapi , apa yang mereka lakukan ternyata mendapat cibiran dan cemooh rakyat. Pasalnya apa yang mereka lakukan sudah bisa ditebak larinya pasti kepada Islam, ajarannya, dan para pengemban dakwahnya.

Memang benar, setiap kasus Bom pasti langsung digoreng dengan mengaitkan radikalisme, celana cingkrang, cadar, dan ujung – ujungnya Khilafah. Seolah tidak ada yang lain selain kepada Islam.

Woiiii, ketahuilah bahwa rakyat bukan lagi orang bodoh. Peristiwa demi peristiwa yang terjadi menjadi pengalaman bagi bagi rakyat bahwa semua ini hanya sebuah sandiwara. Sebab semua peristiwa hanya dikaitkan kepada muslim saja padahal sudah sangat jelas bahwa ajaran Islam tak satupun mengajarkan kekerasan, bahkan sampai menghilangkan nyawa orang. Bukankah dalam Medan perang saja banyak syariatnya, tidak boleh membunuh anak – anak maupun ibu – ibu.

Umat Islam menolak lupa, kenapa kasus pembantaian keji di Papua dengan korban muslim tidak disebut terorisme padahal nyata itu bentuk kejahatan. Kenapa kalian diam seribu bahasa, mata buta, telinga pun tuli. Sungguh ini bentuk ketidakadilan wujud kebencian terhadap Islam.

Woiiii, nampaknya mereka tak belajar pada kasus – kasus lamanya. Di mana setiap berulah malah membuat diri semakin menampakkan kedunguanya.
Dan kali inipun tak jauh berbeda, lagu yang didendangkan tak bakalan laku, justru membuatnya semakin dungu dan stres. sebab yang mereka lawan adalah kebenaran yang datang dari Sang Kholiq, pencipta sekaligus penguasa jagad raya ini.

Kalian membuat makar namun makar Allah lebih dahsyat. Ingatlah ayat Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 54.

وَمَكَرُوْا وَمَكَرَ اللّٰهُ ۗوَاللّٰهُ خَيْرُ الْمَاكِرِيْنَ ࣖ

“Dan mereka (orang-orang kafir) membuat tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.”

Semoga kalian bisa memahami betul ayat ini.

Wallahu’Alam Bhishowwab. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *