Boikot Unil*ver, Solusikah?

Oleh: Tita Rahayu Sulaeman

“Waduh, gimana donk, hampir semua produknya saya pakai di rumah.”
“Harus mulai cari gantinya nih”

Demikianlah sedikit dari banyak komentar netizen yang kebanyakan adalah emak-emak ketika mengetahui sebuah perusahaan produsen kebutuhan rumah tangga dengan terang-terangan mendukung kaum LGBTQI+. Ibu-ibu dibuat kelimpungan mencari produk-produk sejenis yang tersedia di pasaran untuk mengganti produk buatan perusahaan tersebut. Gerakan boikot produk pun dilancarkan sejumlah tokoh penggiat sosial media terhadap produk perusahaan tersebut.

Lalu, bagaimanakah sebetulnya islam memandang hal ini ? Bolehkah memakai produk buatan kafir ?
Jika produk kebutuhan rumah tangga diblokir karena mendukung kaum yang bermaksiat, bagaimana dengan teknologi handphone yang kita gunakan berasal dari amerika yang nyata-nyata memerangi islam ?

Ada sebuah konsep dalam islam tentang pemilahan berbagai pemikiran dan produk asing. Syaikh Taqiyudin An Nabhani dalam kitabnya Nidzomul Islam menjelaskan tentang hal ini.

Penjelasan tentang pengklasifikasian produk akal ini juga dibahas dalam buku Nizham fi Al Islam oleh KH. Hafidz Abdurrahman, MA
Jika memahami konsep ini, maka tidak akan kebingungan lagi ketika mendapati fakta yang berkaitan dengan produk asing.

Hadharah dan Madaniyyah

Secara singkat, Hadharah khusus ditujukan pada berbagai pemahaman/pemikiran hidup.Sedangkan Madaniyyah khusus pada bentuk-bentuk fisik (materi) kehidupan.

Madaniyyah adalah produk akal yang berbentuk benda. Madaniyyah bisa bersifat khas bisa bersifat umum.

Madaniyyah yang bersifat khas adalah benda yang dipengaruhi oleh suatu pemikiran atau aqidah tertentu. Contohnya, topi natal, pakaian seorang pastor, kalung berlambang aqidah tertentu.

Ada juga madaniyyah yang bersifat umum. Ia lahir dari sains dan teknologi. Tidak dipengaruhi oleh aqidah tertentu. Contohnya, mobil, alat-alat kesehatan, teknologi komunikasi.

Madaniyyah yang bersifat umum boleh digunakan oleh muslim karena ia tidak memancarkan atau dipengaruhi suatu aqidah atau pemahaman tertentu. Apakah ketika menggunakan mobil kita termasuk penganut aqidah tertentu ? Jawabannya tentu tidak.

Produk kebutuhan rumah tangga adalah madaniyyah yang sifatnya umum. Tidak dipengaruhi oleh aqidah tertentu. Maka boleh digunakan kaum muslimin. Demikian juga halnya dengan menggunakan teknologi yang berasal dari barat. Boleh digunakan karena tidak memancarkan suatu aqidah atau pemahaman tertentu jika kita memakainya.

Bagaimana jika ternyata kita bermuamalah dengan pihak yang mendukung maksiat ?

Yang perlu ditegaskan disini, bahwa LGBT adalah kemaksiatan. Gerakan boikot yang dilancarkan beberapa penggiat sosial media adalah untuk menunjukan keberpihakan sebagai muslim yang menentang maksiat.

Jika ada kemampuan melakukan gerakan boikot maka sah saja untuk dilakukan. Namun jika tidak ada kemampuan melakukan gerakan boikot semisal karena tidak menemukan produk sejenis untuk sebagai pengganti atau karena memiliki keterbatasan ekonomi untuk membeli produk pengganti yang harganya lebih mahal, maka muamalah dengan perusahaan tersebut kembali pada hukum asal muamalahnya yaitu boleh. Rosulullah SAW juga pernah bermuamalah dengan orang dari Yaman yang saat itu penduduk Yaman belum memeluk islam.

Kritisi bukan hanya produknya tapi juga pemikirannya

LGBT bisa tumbuh subur karena dipelihara oleh kaum liberalisme yang membebaskan segala bentuk perilaku. Sementara Kaum kapitalisme sebagai pendukungnya juga sama, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan tertentu. Termasuk dalam hal permodalan yang tidak mengenal halal-haram.

Liberalisme dan kapitalisme adalah produk akal berupa pemikiran yang bertentangan dengan islam. Pemikiran-pemikiran seperti ini juga layak untuk diboikot atau ditolak oleh kaum muslimin.

Boikot produk sebuah perusahaan bisa menunjukan keberpihakan kita yang menentang kemaksiatan. Namun tidak akan meruntuhkan kekuasaan para kapitalis saat ini. Kerugian sebuah perusahaan multinasional tidak akan serta merta membangkitkan kejayaan islam.

Kejayaan islam hanya bisa diraih dengan kembalinya kaum muslimin pada islam sebagai pandangan hidupnya. Menghempaskan seluruh pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan islam. Menerapkan islam secara menyeluruh dalam setiap aspek kehidupannya. Maka kebangkitan islam secara menyeluruh akan diraih.

Wallahu’alam bishawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *