Boikot Produk Pro-LGBT, Cukupkah?

Oleh : Layli Hawa

Juni merupakan Pride Month atau Bulan Pride, waktu dimana komunitas LGBT di dunia berkumpul dan merayakan kebebasan untuk menjadi diri mereka sendiri. Perayaan Pride Month ditujukan pada siapa pun yang merasa identitas seksual mereka berada ‘di luar arus’.

Taiwan menjadi tuan rumah dari salah satu pawai kebanggaan LGBT di dunia. Acara pawai ini diselenggarakan usai negara pulau itu berhasil mengendalikan wabah virus Corona.

Seperti dilansir AFP, Senin (29/6/2020) ratusan orang berbaris di Liberty Square Taipei setelah hujan sore pada Minggu (28/6) waktu setempat. Musik bergema dan banyak peserta mengenakan masker wajah berwarna pelangi.

Bahkan puluhan ribu orang di berbagai kota di dunia berpartisipasi dalam pawai gay pride atau perayan hak-hak kelompok LGBT (lesbian,gay, biseksual dan transgender), termasuk sebuah pesta meriah di Meksiko dan pawai gay pride pertama di ibu kota Makedonia Utara, Skopje. Perayaan-perayaan LGBT lainnya juga berlangsung mulai dari India sampai ke Eropa.

Hingga kini, dukungan terhadap LGBT itu makin menguat dengan penambahan fitur ‘pride’ dalam sisi awal story Instagram, sekaligus juga terlihat dalam bentuk sticker dalam story.

Seruan boikot produk Unilever pun menyeruak di antara netizen Indonesia karena Unilever dianggap mendukung LGBT. Unilever Indonesia lalu buka suara. Instagram Unilever Global terang-terangan menuliskan dukungan kepada komunitas LGBTQ di Instagram. Mereka mengunggah logo Unilever dengan corak pelangi. Meskipun secara langsung tidak menulis kepsyen, tetapi unggahan tersebut menyita para netizen Indonesia. Bahkan seruan #BoikotUnilever menjadi trending diberbagai media sosial.

Menanggapi hal itu, Governance and Corporate Affairs Director Unilever Indonesia Sancoyo Antarikso dalam keterangan tertulis menyatakan, “Unilever beroperasi di lebih dari 180 negara dengan budaya yang berbeda. Secara global dan di Indonesia, Unilever percaya pada keberagaman dan lingkungan yang inklusif,” Kamis (25/6/2020).

Jelas, membuat aksi boikot akan merugikan produsen. Terutama orang-orang yang telah bergantung penghasilan dari produk-produk unilever. Seperti para karyawan pabrik, pegawainya, juga agen-agen yang menjual produk darinya. Tetapi yang harus diperhatikan apakah dengan aksi ini mampu menghentikan dukungan unilever terhadap LGBT?
Karena faktanya di era dominasi kapitalisme, MNC perusahan multinasional yang mendukung LGBT berpijak pada liberalisme yang diagungkan dan memberi lahan subur bagi bisnis mereka.

Arus LGBTQ+ (Lesbian, Gay, Bisex, Transgender, dan Queer) di belahan bumi semakin menampakkan eksistensinya. Penularannya yang tidak hanya interaksi fisik, tetapi pemahaman LGBT rupanya telah diterima oleh sebagian orang demi melanggengkan keuntungan bisnis dan kepentingan mereka.

Karenanya perlawanan terhadap kaum LGBT tidak bisa hanya mengandalkan boikot produk pendukung mereka saja, tetapi harus ada penanganan sistemik hingga ke akar, yakni meninggalkan sistem demokrasi, menghapus paham kebebasan-HAM dan menggiatkan budaya amar makruf nahi munkar di tengah masyarakat. Sebab sistem sekulisme nya-lah yang telah melahirkan paham kebebasan berpendapat menyuarakan hak asasi manusia yang tidak sesuai fitrahnya. Juga melahirkan kenenasan berekspresi menyalurkan penyaluran seksual diluar jalur yang Allah benci.

Sementara di Indonesia, makin besarnya ruang gerak kerusakan LGBT, tidak lain akibat dukungan kondisi sosial dan politiknya. Karenanya, tidak cukup hanya dengan penolakan (resistensi) dari masyarakat. Pelakunya pun tidak mampu dihentikan hanya dengan dialog ilmiah.

Sungguh, bagi masyarakat muslim, LGBT tak layak menjadi fenomena. Dalam Islam, hukum LGBT sudah jelas dan tegas. Adzab yang pernah terjadi pada kaum Nabi Luth as, seharusnya menjadi kaca benggala, cerminan kekinian. Islam melalui pelaksanaan syariat Islam dengan Khilafah memiliki aturan holistik untuk memberantas tuntas penyimpangan perilaku LGBT.

Siapa pun yang menghendaki masyarakat yang bersih, dipenuhi kesopanan, keluhuran, kehormatan, martabat dan ketenteraman, seharusnya memahami bahwa hanya Islam yang mampu mewujudkannya. Nuansa keimanan dan ketakwaan individu, masyarakat, dan negara akan mampu mendorong terwujudnya kehidupan yang khas tanpa kemaksiatan dan penyimpangan. Negara inilah yang memiliki pemimpin adil nan tegas terhadap syariat Allah yang akan diterapkan menaungi masyarakat dalam peradaban gemilang, Khilafah Islamiyyah. []LH

Wallahu a’lam bishawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *