Berulang, Islamofobia Mengorbankan Nyawa Muslim di Barat

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh Yenny Haifa (Ibu Rumah Tangga)

 

Islamofobia merebak di Kanada. Empat anggota keluarga muslim dibunuh. Dari lima korban, tersisa satu orang selamat. Polisi di Provinsi Ontario, wilayah di Kanada tempat terjadinya insiden tersebut mengatakan, seorang pengemudi dengan sengaja menyerang satu keluarga dikarenakan mereka muslim. Dewan Nasional Muslim Kanada pun mengatakan “sangat ngeri” dengan serangan mematikan itu (bisnis.com, 8/6/2021). Serangan tersebut dikecam sebagai sikap jiwa yang ketakutan terhadap pemeluk agama Islam.

Pembelaan yang dibutuhkan umat Islam tak sekadar kecaman. Sungguh jiwa seorang muslim telah dijamin oleh Allah Swt. Barang siapa yang bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, mengakui keberadaan Allah Swt., mengesakan-Nya, membenarkan kenabian Muhammad saw., mengakui risalah yang dibawanya, maka jiwanya terpelihara. Siapa pun tidak dibenarkan membunuhnya.

Jaminan ini berlaku bagi setiap muslim. Rasulullah saw. bersabda,
“Tidak halal darah seorang muslim, kecuali karena salah satu dari tiga sebab: (1) orang yang telah menikah yang berzina, (2) jiwa dengan jiwa (membunuh), (3) orang yang meninggalkan agamanya (murtad), lagi memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin.” (HR Bukhari dan Muslim). Dalam hadis yang lain, Rasulullah saw. bersabda, “Lenyapnya dunia lebih ringan bagi Allah, daripada terbunuhnya satu orang muslim.” (HR Tirmidzi)

Memperhatikan hadis tersebut, sejatinya kejadian di Kanada tadi harus memantik kesadaran penuh pada diri kita. Betapa seluruh manusia, tak terkecuali umat Islam, saat ini tengah di persimpangan jalan. Peraturan hidup dan ideologi buatan manusia telah terbukti gagal. Ia hanya menimbulkan berbagai kerusakan dan kehancuran di mana pun ia diterapkan sebagai sistem kehidupan. Demokrasi yang merupakan sistem, nyatanya telah menempatkan manusia pada tempat yang menjadi hak Tuhan untuk membuat aturan. Padahal, manusia itu lemah, penuh kontradiksi, dan terbatas. Namun, oleh demokrasi, manusia diberi kekuasaan untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah.

Tak hanya itu, kapitalisme selaku induk demokrasi juga selalu menghasilkan disparitas sosial dan ekonomi. Demokrasi kapitalisme tak mungkin memberikan keadilan bagi seluruh masyarakat, baik muslim maupun nonmuslim. Segala aspek kehidupan dalam demokrasi kapitalisme akan senantiasa pincang dan tambal sulam. Ini semua membuktikan, bahwa demokrasi kapitalisme adalah aturan yang batil. Bagi kalangan yang tidak paham, seperti kalangan nonmuslim, lebih-lebih di Barat dengan islamofobia yang begitu deras, seluruh kebaikan Islam seolah tak tampak. Gelapnya ideologi kapitalisme yang melahirkan sekularisme telah menutupi keindahan cahaya syariat Islam.

Tak pelak, di sini mutlak butuh perubahan. Yakni perubahan yang menyeluruh, yang memandang Islam dan kaum muslim secara jernih. Termasuk mengupayakan tegaknya tata kehidupan yang dipraktikkan dan berdiri di atas ideologi yang sahih. Karenanya jelas, hanya dalam naungan sistem yang diturunkan oleh Allah, yakni Islam, yang mampu dan bersedia memberikan perlindungan jiwa. Jiwa adalah salah satu hak milik manusia yang paling berharga. Tersebab hal ini, kebutuhan akan tegaknya Khilafah sebagai sistem pelaksana syariat Islam, jadi kian mendesak.
Wallahu a’lam bishshawab

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.