Bertubi Bencana, Masihkah Mengingkari-Nya?

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Februastuti

Bencana non-alam pandemi covid-19 belum usai. Bencana alam datang. Banjir bandang menerjang Kabupaten Luwu Utara. Lebih dari 14 ribu warga terpaksa mengungsi, 38 warga meninggal dunia, sebagian lagi masih belum ditemukan (kompas. com, 20/7/2020).

Sementara itu, berbagai dampak ikutan yang terjadi dari bencana alam maupun nonalam ini belum ada tanda-tanda dapat teratasi.

Diketahui, Banjir bandang tersebut telah menyebabkan kerusakan berbagai fasilitas umum seperti sekolah, rumah ibadah, fasilitas kesehatan, kantor pemerintahan, jalan, jembatan, pipa air bersih, bendungan irigasi, juga pasar tradisional. Warga maupun unit mikro usaha pun terdampak.

Ditambah lagi, terkait bencana nonalam. Secara nasional maupun global, kurva penularan covid-19 masih meninggi. Kebijakan new normal, meski direvisi sebagai kesalahan diksi tapi tetap sama dalam aksi, telah dikhawatirkan mendatangkan gelombang kedua yang lebih berbahaya.

Belum lagi adanya ancaman krisis pangan, resesi ekonomi, krisis sosial, dan berbagai sengkarut lainnya. Semuanya seakan benar-benar menjadikan dunia ini terasa sempit. Apa sebenarnya yang menyebabkan kesempitan itu?

Allah SWT berfirman:
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thoha:124)

Ayat tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa penghidupan sempit disebabkan manusia telah berpaling dari peringatan Allah. Peringatan ini tentu saja ada dalam hukum-hukum Allah yang ada dalam syariat Islam. Dengan demikian, pengingkaran muslimin terhadap syariat Islam-lah yang menjadi pemicu berbagai bencana.

Sebagaimana dalam ayat yang lain Allah berfirman dalam Q.S Ar Rum:41,
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Menafsirkan ayat ini, para ulama menyebutkan pada intinya bahwa berbagai bencana alam (banjir, kekeringan, dsb) maupun non alam (penyakit, wabah, dsb) adalah akibat dari berbagai maksiat yang diperbuat manusia. Allah memberikan berbagai musibah sebagai peringatan agar manusia kembali pada-Nya.

Semestinya ayat ini menjadi perenungan yang amat mendalam bagi muslimin. Terlebih negeri ini sebagai negeri mayoritas muslim terbesar dunia. Fakta-fakta yang terjadi di dunia semestinya disikapi dengan kacamata keimanan kepada Allah.

Jika ditilik kembali, sebagaimana disampaikan BNPB, banjir bandang Luwu Utara terjadi karena tiga sebab. Di samping masalah curah hujan yang tinggi dan adanya sejarah patahan, penyebab ketiga karena adanya pengalihan fungsi lahan.

Pengalihfungsian lahan inilah kemaksitan manusia yang secara langsung berdampak pada bencana alam. Faktanya, pemberian konsesi lahan pada swasta mengakibatkan terjadinya eksploitasi besar-besaran dan berdampak pada kerusakan. Padahal, dalam syariat Islam, haram hukumnya memberikan hak pengelolaan lahan seluas-luasnya kepada swasta. Sebab, itu termasuk kepemilikan umum.

Di samping itu, ada kemaksiatan lain yang juga bagitu masif dilakukan negeri ini, yaitu zina dan riba. Kemaksiatan ini sudah bagai lingkaran setan, terjadi di segala lini, dilakukan baik oleh individu, masyarakat maupun negara. Padahal, Allah telah memberikan ancaman keras pabila kedua kemaksiatan ini merajalela.

Rasulullah SAW bersabda,
“Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri.” (HR al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani)

Sayangnya, kemaksiatan umat negeri ini tidak cukup sampai di situ. Negeri ini seakan terus saja lancang menentang perintah Allah. Bahkan, menistakan ajaran Islam, menyejajarkannya dengan komunisme. Misalnya saja, tampak ada upaya mendistorsi ajaran Islam tentang khilafah dan jihad. Padahal, khilafah dan jihad adalah ajaran Islam, yang dapat menjaga kemuliaan umat Islam.

Saat ini khilafah dinarasikan berbahaya, menyebutnya dengan khilafahisme seakan hendak meng-kriminalisasikannya. Sungguh, sebuah upaya yang memicu kemurkaan Allah SWT.

Jika diteliti lebih mendalam, kemaksiatan terbesar muslimin ialah meninggalkan syariat Islam sebagai hukum atas seluruh aspek kehidupan. Lalu negara mengambil sistem sekularisme – kapitalisme, diterapkan untuk mengurusi urusan umat. Sementara Islam dimarginalkan dalam batas ibadah individual. Inilah yang menjadi biang kemaksiatan lain tumbuh subur.

Karena itu, telah sepatutnya bagi muslimin untuk bersegera meninggalkan sekularisme-kapitalisme. Lalu kembali kepada seruan Allah, menerapkan syariat Islam secara kaffah di seluruh aspek kehidupan dalam sistem khilafah Islam. Sebab, segala musibah yang Allah timpakan, semata peringatan agar manusia kembali pada-Nya. Dan Allah akan memberikan keberkahan atas ketundukan manusia pada segala perintah-Nya.
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” (Qs Ali Imran: 133)

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al A’rof :96)

Wallahu a’lam.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.