Berpeluh Bohong

Oleh: Afiyah Rosyad

Suara gemericik air di belantaranya rimba memecah kesunyian. Seirama dengan melodi sang kodok dan sang jangkrik, serentak bertasbih pada Pemilik Jagad.

Aliran daun-daun yang rontok melaju tak tentu arah. Bertabrakan dengan batu-batu besar. Daun-daun itu jatuh karena tak tahan atas goncangan angin semalam yang begitu dahsyat.

Langit sekililing masih gelap, pekat dan tak ada pantulan cahaya. Mendung masih bergelayut manja enggan pergi. Melodi alam semakin memecah kesunyian.

“Tolong…tolong…tolong…” lamat-lamat terdengar suara rintihan yang hampir hilang suaranya. Goresan luka memenuhi sekujur tubuhnya. Terseok dan tertatih dia mencari bala bantuan. Tentu saja tak ada sahutan. Lalu dia bersandar pada sebatang pohon besar yang juga kelelahan karena aktif terlibat dalam dahsyatnya angin. Ranting-ranting pohon itu menahan sakit karena sudah banyak menggugurkan daun yang masih segar. Sementara yang bersandar di pohon sudah tak sadarkan diri.

Ingatan alam bawah sadarnya kembali mengetuk kejadian kemarin. Di istana itu hidangan sangatlah mewah dan meilmpah ruah. Para ajudan dan punggawa istana tanpa rasa sungkan makan dengan rakus. Bibir mereka penuh. Kebahagiaan di atas penderitaan rakyat karena kedzoliman mereka sedang dirayakan.

Pembahasan kenaikan harga dan tarif menjadi topik awal pembuka. Semua sepakat dan setuju agar para anggota dewan nantinya langsung ketok palu tanpa mengkaji. Selanjutnya pembahasan pajak, maka si ratu Fulus sudah menjabarkan wacanan pajak yang akan dipungut, mulai dari asap hingga rasa manis.

Semua terdiam sambil menyunggingkan senyum saat mendengar presentasi. Pembahasan kartu-kartu yang dijanjikan sebelum pemilihan orang tertinggi di istana juga dibahas. Di sana juga tak banyak suara, semua bungkam dan terdiam saat dibilang itu hanya lips service belaka. Dengan jumawa dia juga menyatakan bahwa kereta kencana Semeka hanyalah sedikit pemanis. Yah intinya mengelabuhi itu sudah biasa.

Di tengah obrolan asyik itu, ada yang berdiri melangkah ke kamar mandi. Dia mual dengan pembahasan yang disampaikan. Dia seolah baru tersadar bahwa dirinya dalam kubangan kejahatan. Dia turut andil dalam kebohongan besar atas penduduk negeri.

Langkah cepatnya dibuntuti sepasang mata. Di kamar mandi ia menumpahkan segala isi perutnya, kepalanya pening tak tertahankan. Lalu dia berniat keluar istana lewat pinta belakang. Naas, sepasang mata tadi masih mengintai dan langsung menjadi penghalang.

“Hendak kemana adinda? Kok buru-buru, jamuan belum usai,” suara bariton dari sepasang mata itu mengagetkannya.

“Apa urusanmu wahai kakanda? biarkan aku keluar,” jawabnya tegas.

“Ah, jangan naif, kau hendak keluar kemana, pintu ada di sebelah depan. Apakah kau akan melarikan diri? Tidak bisa… Kau akan celaka!” pemikik sepasang mata itu mengintimidasi.

Tak lama, laki-laki malang ini merasakan seluruh tubuhnya sakit. Kedua tangan dan kakinya terikat. Matanya tertutup. Entah ini di mana? Suara deru helikopter sangat memekakkan telinganya.

Terdengar sayup-sayup obrolan di sekitarnya.

“Orang ini bisa membongkar rahasia istana, sangat berbahaya, kita habisi saja. Dia bisa berkoar-koar atas kebohongan kinerja pimpinan kita. Bukan hanya pamornya yang turun, jabatannya juga terancam jika dia dilepaskan begitu saja.”

Desiran darahnya terasa panas mendengar kata-kata itu. Dia sudah merasa mendekati gerbang kematiannya. Betapa menyesalnya dia sudah berpeluh bohong selama ini. Bohong pada keluarganya, pada bawahannya, dan pada penduduk negeri yang seharusnya dilayani.

Air mata sudah mengalir begitu deras. Terasa olehnya kedua kakinya dilepas ikatannya, dia diberdirikan di tengah terpaan angin yang begitu dingin, lalu sebilah pisau memutus tali di tangannya. Tidak sempat ia menjangkau pegangan, tubuhnya sudah terhuyung dan limbung.

Suara gedebum tubuhnya tak ada yang mendengar. Sebelum mendarat di tanah, dia masih tersangkut di rimbunnya ranting pohon. Semakin banyak luka yang menggores badannya.

Sungguh penyesalan tiada tara dirasakannya. Dia merasa berlumur doso telah menjadi perantara kebohongan pemimpin negeri. Dia menjadi corong dengan imbalan amplop tebal. Dan saat ini, dia hanya bisa duduk lemah bersandar pohon yang tidak ramah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *