Bernegara dan Kecemasan Kecemasan Bernegara

Oleh: Erin az-Zahroh (Pemerhati sosial)

Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi, kembali menuai polemik. Kabar yang beredar menyebutkan bahwa Kepala BPIP tersebut mengusulkan mengganti Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh diganti dengan Salam Pancasila. (www.viva.co.id, 23/2/2020)

“Salam Pancasila sebagai salam kebangsaan diperkenalkan untuk menumbuhkan kembali semangat kebangsaan, serta menguatkan persatuan dan kesatuan yang terganggu karena menguatnya sikap intoleran,” ucap Yudian. (Warta Ekonomi.co.id, 23/2/2020)

Pernyataan ini secara tak langsung telah memberikan citra kepada islam. Bahwa islam sebagai agama yang mengajarkan salam khusus tersebut telah meniupkan ruh perpecahan dalam kehidupan bernegara.

Dalam penjelasannya lebih lanjut, Yudian berusaha mengambarkan bahwa ucapan salam bukanlah sesuatu yang penting. Sehingga dapat dimodifikasi sesuai dengan tren perkembangan zaman.

“Sekarang kita ambil contoh, ada hadis kalau anda sedang berjalan dan ada orang duduk, maka ucapkan salam. Itu kan maksudnya adaptasi sosial. Itu di jaman agraris. Sekarang jaman industri dengan teknologi digital. Sekarang mau balap pakai mobil, salamnya pakai apa? Pakai lampu atau klakson. Kita menemukan kesepakatan-kesepakatan bahwa tanda ini adalah salam. Jadi kalau sekarang kita ingin mempermudah, seperti dilakukan Daud Jusuf, maka untuk di public service, cukup dengan kesepakatan nasional, misalnya Salam Pancasila. Itu yang diperlukan hari-hari ini. Daripada ribut-ribut itu para Ulama, kalau kamu ngomong Shalom berarti kamu jadi orang Kristen,” kata Yudian. (news.detik.com, 22/2/2020)

Sungguh menarik untuk dikaji pernyataan pemilik nama dan gelar Prof Drs KH Yudian Wahyudi, MA, PhD. Pelarangannya dalam cadar bagi mahasiswi di UIN Sunan Kalijaga yang sempat menjadi trending topik. Diikuti dengan pernyataan kontroversi berikutnya, yang menyatakan bahwa agama musuh terbesar Pancasila.

“Musuh Pancasila paling besar itu apa sih? Jujur, musuh terbesar Pancasila itu adalah agama,” kata Yudian dalam sebuah sesi wawancara (12/2/2020).

Adanya kontroversi yang diamini oleh pemerintah dengan pembiarannya, makin menambah bukti. Bahwa rezim ini berusaha mempertentangkan ketaatan muslim dengan loyalitas bernegara.

Bagaimana tidak? Dalam padangan islam, salam bukan sekedar bermakna adaptasi sosial. Lebih dari itu, salam merupakan perintah Allah SWT dan menjadi bagian dari ibadah bagi kaum muslimin.

Sementara urusan ketaatan ini tak bisa dikorelasikan dengan semangat bernegara pada kaum muslimin. Karena sejatinya Allah SWT pun telah memberikan seperangkat tuntunan. Petunjuk untuk hidup bernegara dan mengayomi urusan setiap warga negara. Sehingga bagi muslim yang taat, telah menjadi motivasi alami untuk loyal dalam urusan pengaturan urusan rakyat dan pengelolaan negara.

Namun agaknya justru kebersihan sistem islam dalam berpolitik inilah yang membuat rezim ini menganggapnya sebagai ancaman. Bagaimana tidak, beragam kecarut-marutan negeri ini diakui atau tidak, merupakan buah diterapkannya kebijakan sitem sekuler radikal.

Sistem islam akan melemahkan upaya kaum sekuler yang berjuang mempertahankan cengkraman kapitalisme di negri ini. Sehingga rezim sekuler radikal akan selalu menganggap islam sebagai ancaman.

Umat semestinya menyadari bahwa ini adalah bagian dari upaya sistematis menjauhkan muslim. Menjauhkannya dari keterikatan terhadap agama dan mengganti identitas islam dengan identitas liberal.

Kesadaran ini seharusnya juga membuat umat menjadi lebih dekat dengan Allah SWT dan aturan-aturan-Nya. Terlebih tentang salam Pancasila ini, ternyata telah Allah SWT telah menjelaskan dalam kalam Nya 14 abad yg lalu.

“Tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul. Dan apabila mereka datang kepadamu (Muhammad), MEREKA MENGUCAPKAN SALAM DENGAN CARA YANG BUKAN SEPERTI YANG DITENTUKAN ALLAH UNTUKMU. Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri, ‘mengapa Allah tidak menyiksa kita atas apa yang kita katakan itu?’ Cukuplah bagi mereka Neraka Jahanam yang akan mereka masuki. Maka neraka itu seburuk-buruk tempat kembali.” (TQS Al-Mujādalah [58]: 8).

Erin az-Zahroh
Pemerhati sosial

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *