Jangan Lagi, Eksploitasi Anak Demi Konten

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Jangan Lagi, Eksploitasi Anak Demi Konten

Oleh Ummu fatimah

(Kontributor Suara Inqilabi)

Zaman media sosial seperti sekarang ini, banyak orang berlomba membuat tontonan atau konten yang diminati banyak orang. Dari kalangan artis atau bukan, sosialita atau orang biasa, muda atau tua, orang kota atau desa mereka menjadikan fasilitas media sosial untuk menampung ide kreatif mereka dalam bentuk konten.

Ada yang sengaja membuatnya hanya sebagai konten pribadi, ada juga konten yang sengaja dibuat untuk konsumsi umum dengan tujuan mencari perhatian, popularitas dan uang. Jika konten mereka menempati rating bagus atau sudah viral, mereka akan semakin terkenal, followersnya semakin banyak, punya nilai jual, mendapat endors produk dan monerasi tentunya.

Sehingga sekarang banyak yang memilih menjadi konten creator dan menjadikannya sebagai pekerjaan. Ada yang membuat konten memasak, makanan atau kuliner, tour dan traveling, suasana pedesaan, tempat wisata, mainan anak-anak, lagu, hal ghaib, mainan game online dan masih banyak lagi. Semua mempunyai pasar dan followersnya masing.masing.

Anak dalam konten

Bahkan para orang tua pun banyak yang tak segan menampilkan anak-anak mereka sebagai bahan konten. Siapa sih yang tidak gemas melihat bayi atau anak-anak yang lucu. Siapa sih yang tidak kagum melihat anak-anak yang pintar dan lincah. Mungkin ini salah satu alasan menjadikan konten anak memiliki nilai jual tersendiri.

Ada orang tua yang membuat konten mulai dari mereka hamil, melahirkan, proses tumbuh kembang anak mereka, juga kegiatan mereka sehari-hari mulai dari makan, mandi, tidur, bermain dan kegiatan menarik lainya. Ada yang memilih konten kepintaran anak-anak mereka mulai dari mengaji, berhitung, menari, modeling, permainan kreatif dan masih banyak lagi.

Namun, masih tetap ada yang patut kita kritisi. Anak diusianya yang masih sangat belia dan belum mengetahui apa-apa, tidak sepatutnya dimanfaatkan oleh orang tua untuk mecari popularitas dan uang. Ketika konten yang dibuat hanya sebagai koleksi pribadi atau album kenangan yang kelak bisa dilihat ketika anak dewasa atau berbagi pengalaman parenting mungkin tidak jadi masalah, tapi ketika dimanfaatkan untuk menjadi viral, dan mengguntungan dari sisi finansial, mungkin orang tua perlu untuk berfikir kembali.

Ekploitasi Anak

Beberapa hari terakhir sedang viral konten salah satu youtuber tanah air yang mendapat banyak kritik karena dinilai terdapat unsur eksploitasi anak. Bahkan sempat mendapat teguran dari Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Perlindungan Anak). Arist Merdeka Sirait meminta YouTube ria Ricis untuk berhenti mengeksploitasi anaknya dalam pembuatan konten. Karena telah mengajak anaknya yang berusia 5 bulan menaiki jetsky tanpa menggunakan pengaman apapun. (suara.com, 12/01/2023)

Dalam video yang diunggah dalam akun Instagram pribadinya, baby M hanya digendong oleh Teuku Ryan yang mengendarai jetski. Ria Ricis dan Teuku Ryan sama-sama terlihat menggunakan pelampung, sedangkan tidak untuk bayi yang usianya belum genap satu tahun tersebut. (liputan6.com, 6/01/2023).

Belum lagi maraknya publik vigur yang membuat konten mengajak dan melatih bayi mereka berenang pada usia yang masih sangat dini. Dengan gelagapan mereka diajari atau “dipaksa” menyelam, meskipun ada pelatinya menurut saya itu belum waktunya. Jangan karena lagi trend semua ikutan bikin konten yang sama hanya untuk mendapatkan jutaan penonton.

Dulu pernah viral juga anak kembar yang pintar berjoget tiktok, akhirnya sering diundang di acara TV dan jadi terkenal.

Pernah juga lihat konten anak-anak dengan kutu yang sangat banyak dirambutnya, rasanya gak mungkin anak dengan kutu sebanyak itu. Mungkin ini juga konten saja. Tapi kok tega yaa demi konten ya viral anak yang dikorbankan.

Media Sosial, Konten, Anak dan Orang Tua

Tidak bisa dipungkiri di zaman digital sekarang keberadaan media social sangat mendominasi. Tapi sudah sepatutnya juga media sosial ini kita gunakan untuk hal yang berguna dan bermanfaat.

Jangan sampai kita gunakan untuk hal negative bahkan sudah termasuk hal-hal yang haram dan dilarang. Dalam hal membuat konten pun harusnya konten yang dibuat dan ditayangkan adalah konten yang mendidik, mencerdaskan dan menjadikan orang senang melakukan kebaikan dan ketaatan. Andaikan tujuannya adalah untuk hiburan,harus tetap memperhatikan standar khoir dan syar serta halal dan haram. Karena ingat, setiap apapun yang kita lakukan akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak.

Bagi kita para orang tua, didiklah anak-anak kita karena ibu adalah madrasatul ulla, pendidik yang pertama. Tanamkan nilai-nilai islam sejak dini. Jangan hanya sibukkan mereka dengan konten atau apapun itu yang bersifat duniawi.
Kita juga perlu menempatkan diri kita sebagai kontrol masyarakat.

Kritik terhadap hal-hal yang tidak pantas dan yang menyalahi aturan juga diperlukan. Ketika ada konten yang kurang tepat ya harus kita kritisi dan luruskan. Jikalau ada konten yang salah maka kita wajib bersuara. Menyampaikan yang benar adalah benar dan juga sebaliknya salah tetap salah, tidak ada kompromi.

Tentunya juga harus ada sinergi dari negara sebagai pembuat kebijakan dengan membuat aturan tegas larangan konten yang mengeksploitasi anak dan konten lain yang tidak berfaedah dan melanggar syara. Dan juga berusaha memberikan tontonan yang mendidik untuk seluruh warganya.

Wallahu a’lam bishshawab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *