UNHCR Solusi Ilusi Bagi Pengungsi

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

UNHCR Solusi Ilusi Bagi Pengungsi

Oleh : Maulli Azzura

Kontributor Suara Inqilabi

 

Kepala badan urusan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), UNHCR, mengatakan dia memahami bahwa pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden memberlakukan pembatasan-pembatasan baru terhadap pencari suaka yang memasuki Amerika Serikat (AS). Namun, dia memperingatkan bahwa beberapa aspek dari perintah eksekutif tersebut mungkin melanggar perlindungan pengungsi yang diwajibkan dalam hukum internasional. (voaindonesia.com 13/06/2024)

 

Setiap tanggal 20 Juni, dunia tidak pernah lupa memperingati World Refugee Day atau Hari Pengungsi Sedunia. Tahun ini UNHCR (United Nations High Commissioner of Refugees) mengambil tema : Together we heal, learn, and shine (Bersama kita sembuh, belajar, dan bersinar). Dalam peringatan tersebut Presiden AS, Joe Biden menyampaikan :”Pada hari ini, kami menegaskan kembali komitmen suci untuk meringankan penderitaan melalui bantuan kemanusiaan, dan melipatgandakan upaya untuk meraih solusi abadi bagi para pengungsi, termasuk dengan memukimkan mereka kembali. Kami juga kembali berkomitmen untuk melakukan upaya diplomatik guna mengakhiri konflik berkelanjutan yang mendorong para pengungsi mencari keamanan di tempat lain,” (VOAIndonesia.com, 21/06/2021).

 

Peradaban kapitalistik telah membuat nilai-nilai kemanusiaan dan tolong-menolong menjadi pudar terkalahkan oleh kerakusan dan paham nasionalisme sempit. Yaitu sebuah paham yang menurut Hans Kohn dalam Nasionalism : It’s Meaning and History adalah sikap pandang individu bahwa kesetiaan tertinggi harus diserahkan pada negara bangsa. Hal ini telah terjadi sejak lama disaat para pengungsi Rohingya di negri ini. Mereka mendirikan tenda-tenda ditrotoar jalanan Ibu kota didepan gedung UNHCR kebun sirih, dan tidak tahu pasti sampai kapan mereka mencari suaka.

 

Menurut angka terakhir yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik Palestina, sekitar 7,3 juta orang Palestina hidup di diaspora global, meliputi kawasan Timur Tengah, Amerika Latin, sampai Australia. Secara keseluruhan, lebih dari enam juta orang Palestina tinggal di negara-negara Arab, berdasarkan data Badan Pusat Statistik. Data juga menunjukkan sekitar setengah dari para eksil ini tinggal di Yordania, yang berbatasan dengan Israel di sebelah timur. ( bbc.com )

 

Hal ini juga yang mendasari serta berkomitmen Indonesia untuk menerima pengungsi dari Palestina. Meski demikian, itu bukan sebuah solusi. Karena yang dibutuhkan adalah ikatan persaudaraan yang didasari Akidah yang benar yakni Akidah Islamiyah. Fakta tersebut membuktikan bahwa UNHCR hanyalah semu. Tidak ada sama sekali solusi dan perlindungan yang diberikan. Konstribusi mereka hanya semakin mengkaburkan status kewarganegaraan. Bagaimana tidak? sudah cukup banyak korban berjatuhan, terlantar dan mereka seperti terusir dari negaranya sendiri. Belum cukupkah bukti bahwa adanya agresi penjajah imperialis baik penjajahan secara non-fisik seperti penyebaran ideologi kapitalis sekuler maupun sosialis komunis, dan penjajahan fisik seperti yang tengah terjadi di Gaza oleh kebiadaban zionis israel, tentu telah membuat negri-negri yang dijajahnya mengalami penderitaan. Bukan hanya kerugian materil, sudah pasti akan menghilangkan banyak nyawa dan ditambah lagi negri-negri Muslim warganya dipaksa mengikuti akidah mereka (kapitalisme).

 

Dengan demikian, apapun bentuk bantuan dari negara-negara tentangga yang sejatinya merekalah saudaranya sendiri. Saudara satu tubuh yang disatukan oleh ikatan akidah islamiyah. Namun adanya sekat nasionalisme, umat islam dengan mudah bentengi seolah mereka bukan lagi saudara, ikatannya dilemahkan dan akhirnya hanya bisa melihat dengan mata terbelalak bagaimana saudara-saudara kita dibantai dengan kejinya oleh kaum imperialis.

 

Demikian pula andil UNHCR atau segala rupa lembaga yang ada didalam sebuah negara berideologi selain Islam, maka sudah dipastikan tidak akan membawa kemaslahatan umat. Sudah barang pasti akan menambah penderitaan para saudara kita yang terusir dari negaranya. Adanya sebuah lembaga atau organisasi yang lahir dari ideologi kapitalis adalah sebagai alat. Alat untuk mengelabuhi rakyat agar seolah peduli padalah memusuhi, alat agar seolah melindungi padahal membohongi, alat agar seolah membantu padahal itu menyesatkanmu. Yang tidak lain adalah lembaga untuk mendapatkan aliran dana dari para penjajah sebagai pendukung para imperialis demi memuluskan jalan imperialismenya.

 

Ketahuilah wahai saudaraku, meteka saudara-saudara kita belahan bumi manapun baik Palestina, India, China, Vietnam, Afghanistan butuh pertolongan yang hakiki. Yakni membebaskan dan memerdekaan mereka dari ketertindasan imperialis Barat dan sekutunya. Pertolongan itu bisa diwujudkan tatkala adanya kepemimpinan Islam diatas Daulah Khilafah Rasyidah yang akan melindungi seluruh jiwa dan harta yang membentang dari timur ke barat dan dari utara ke selatan dengan aturan Syariat Islam.

 

Rasulullah bersabda,

 

إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِيَ الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا، وَإِنَّ» أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا، وَأَعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ الْأَحْمَرَ وَالْأَبْيَضَ

 

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah mengumpulkan (dan menyerahkan) bumi kepadaku sehingga aku bisa menyaksikan timur dan baratnya. Sesungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai apa yang telah dikumpulkan dan diserahkan kepadaku darinya, dan aku dianugerahi dua pembendaharaan yakni merah (emas) dan putih (perak).” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, al-Tirmidzi).

 

Para ulama telah memberikan penjelasan terkait hadis tersebut, diantaranya adalah Imam al-Khaththabi (w. 388 H). Beliau memaknai kalimat zawâlî al-ardha, yakni menguasainya dan menyatukannya.

 

Sementara menurut Imam Nawawi dalam hadis tersebut digunakan bahasa kiasan (majazi), yakni dalam perkataan ‘mencakup dua pembendaharaan bumi, al-ahmar (merah) yaitu emas, dan al-abyadh (putih) yakni perak. Beliaupun menyatakan bahwa di dalam hadis ini terdapat isyarat yang menunjukkan bahwa kekuasaan umat Islam akan membentang sebagian besarnya dari arah Timur dan Barat.

 

Penyebutan ‘Timur dan Barat’, juga merupakan Bahasa kiasan yang menunjukkan keseluruhan penjuru bumi, baik dari Timur ke Barat maupun dari Utara ke Selatan, semuanya akan berada dalam kekuasaan umat Islam.Janji Allah subhanahu wa ta’ala tidak hanya ada dalam hadis ini, namun juga terdapat dalam sejumlah nash lainnya, salah satunya dalam Al-Qur’an surat an Nur[24] ayat 55:

 

وَعَدَ اللَّهَ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ كَفَرَ بَعْدَ بِي شَيْئًا وَمَنْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ . ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ ) النور: 55 خَوْفِهِمْ

 

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang -orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang- orang yang fasik.

 

Ditengah-tengah keterpurukan kehidupan, krisis multi dimensi, serta penderitaan yang kian menjadi- jadi akibat diterapkannya sekularisme dan kapitalisme, maka apa yang dikandung hadis ini merupakan harapan akan kebangkitan umat Islam dan perbaikan kehidupan yang akan diraih manakala Islam tegak di muka bumi. Tentu saja kerinduan kepada keamanan dan kesehteraan hidup tidak boleh berhenti dalam harapan dan keinginan semata, namun harus diikuti dengan langkah nyata untuk mewujudkannya dalam kenyataan.

 

Karenanya, Umat Islam harus memiliki pemahaman yang benar yang akan mendorongnya melakukan upaya-upaya untuk meraih janji Allah tersebut, yakni: Pertama, senantiasa mengokohkan keyakinan akan janji Allah subhanahu wa ta’ala bahwa Dia akan menganugerahkan kekuasaan pada umat Islam berupa tegaknya kembali Khilafah ‘ala minhaj an Nubuwwah.

 

memahami prasyarat diberikannya kekuasaan seperti tercantum dalam Al-Qur’an surat an Nur, ayat 55: “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh”. Di awal ayat, Allah sudah menegaskan bahwa janji tersebut hanya diberikan kepada orang yang beriman dan membuktikan keimanannya dengan melakukan amal saleh berupa ketaatan penuh pada syariat- Nya.

 

Ketiga, berkontribusi aktif dalam mewujudkan janji Allah. Janji-Nya pasti terjadi, namun umat Islam diwajibkan melakukan aktivitas-aktivitas untuk menjemput janji itu.

 

Wallahu ‘alam Bishowab

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *