Berhaji Adalah Ibadah yang Dinanti, Kok Batal Lagi?

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh : Dewi Fitratul Hasanah (Pemerhati Sosial dan Pegiat Literasi)

 

Berhaji adalah impian setiap muslim demi memenuhi rukun Islam-Nya yang ke lima, terutama bagi Muslim yang telah merasa mampu.

Firman Allah SWT, dalam Al- Qur’an,

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran [03]: 97)

Namun sayang impian tersebut kembali gagal direalisasikan tersebab, keputusan keberangkatan haji 2021 yang dibatalkan.
Pembatalan itu ditengarai karena masih adanya pandemi Covid-19. Menjaga kesehatan dan keselamatan jiwa para calon jamaah haji lah yang menjadi alasan dan pertimbangannya.

Sebagaimana penjelasan Menag, Yaqut Qoumas pada Kamis (3/6/2021),
“Karena masih pandemi dan demi keselamatan jemaah, pemerintah memutuskan, tahun ini tidak memberangkatkan kembali jemaah haji Indonesia,”.
Keputusan tersebut resmi tertuang dalam Keputusan Menteri Agama RI Nomor 660 Tahun 2021 tentang Pembatalan Keberangkatan Jemaah Haji Pada Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1442 Hijriah/2021 Masehi (Cnnindonesia.com)

Keputusan tersebut pun mendapat dukungan dari Komisi VIII DPR RI dalam rapat kerja masa persidangan kelima tahun sidang 2020/2021 pada 2 juni 2021 kemarin dimana pihak DPR RI menyatakan menghormati keputusan pemerintah yang akan diambil terkait penyelenggaraan ibadah haji tahun 1442 H/ 2021 M.

Kendati demikian, keresahan dan kekecewaan serta beragam spekulasi di masyarakat menggelundung tak terbendung.
Wajar, sebab masa tunggu untuk para calon jemaah haji ini memakan antrean yang sangat lama, berkisar 15-20 tahun. Lebih-lebih keputusan pembatalan ini juga tak disertai dengan jaminan kapan mereka akan pasti diberangkatkan. Selama ini rakyat telah merasa susah-payah menabung serupiah demi serupiah. Namun spekulasi yang beredar itu tidak diklarifikasi secara transparan. Semua itu membuat hati rakyat semakin tersayat.

Lantas sesungguhnya apa yang menyebabkan pemberangkatan haji ini batal? benarkah semata karena pandemi yang mengancam keselamatan ataukah karena masalah dana dan kuota haji sebagaimana kabar yang viral beredar? Rakyat bertanya- tanya jika memang masalahnya terkendala pandemi, bukankah negara selama ini mentaktiksi dengan penjalanan protokol kesehatan sebagaimana aktivitas lain yang telah diperbolehkan berjalan?

Terlepas dari semua spekulasi itu, mari kita sejenak menilik pada sistem yang berasaskan sekuler yang diterapkan di negeri ini, pembatalan keberangkatan haji untuk yang kali ke dua ini bukanlah hal yang tidak mungkin terjadi.

Sebab, agama dalam sistem sekular hanya dipakai
pada posisi tambahan yang di manfaatkan untuk memperkuat perekonomian. Dalam sistem sekular, agama tidak digunakan sebagai landasan jalannya sebuah roda pemerintahan. Sehingga, penyelenggaraan haji pun niscaya hanya dilirik dari aspek ekonominya saja dan bukan pada pelayanan pemerintahan dalam memfasilitasi rakyatnya menunaikan ibadah.

Berbeda jauh dengan sistem pemerintahan Islam. Dalam Islam, pemimpin atau penguasa bertugas sebagai pengurus kebutuhan umat. Khalifahlah yang bertanggung jawab atas apa yang menjadi kebutuhan umat, termasuk permasalahan ibadah haji.

Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR Bukhari).

Ibadah haji adalah ibadah yang pelaksanannya membutuhkan pengorbanan, jiwa, raga dan harta.
Berangkat dari sini, maka memfasilitasi penyelenggaraan pemberangkatan ibadah haji merupakan bentuk tanggung jawab negara. Sepantasnya negara mengurusi dan memfasilitasi hal-hal yang berkaitan pelaksanaan ibadah tersebut agar aman mudah bahkan murah.

Manis terukir dalam sejarah peradaban Islam, Khalifah Sultan Abdul Hamid II membangun sarana transportasi massal dari Istanbul, Damaskus, hingga Madinah untuk mengangkut jemaah haji dari berbagai daerah pada masa kekhilafahan ustmani.

Pun demikian yang dilakukan khalifah pada masa Abbasiyah. Khalifah Harun ar-Rasyid membangun jalur haji dari Irak hingga Hijaz (Mekah-Madinah), berikut masing-masing titiknya terdapat pos pelayanan umum yang dibangun untuk menyediakan logistik, termasuk dana zakat bagi yang kehabisan bekal.

MasyaAllah, sungguh jika seluruh pengurusan kehidupan kita kembalikan pada pemerintahan bersistem Islam, niscaya ibadah haji yang dinanti akan mudah terealisasi. Wallahu’alam bishshawaab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.