Berdamai dengan Virus Corona?

Oleh: Widhy Lutfiah Marha (Pendidik Generasi dan Member Akademi Menulis Kreatif)

Lagi-lagi ditengah kegentingan rakyat karena wabah, beberapa hari lalu Presiden Jokowi mengajak rakyat untuk berdamai dengan virus Corona. Sambil menunggu vaksin ditemukan.

Nah, bagaimana strategi yang ampuh untuk berdamai dengan virus Corona? Mana mungkin virus ganas bisa diajak hidup damai?

Tunggu dulu, jangan buru-buru membuat kesimpulan yang gegabah. Sebab, kita tidak pernah tahu kehebatan Jokowi. Beliau sudah menunjukkan kemampuan dalam menaklukkan musuh. Tanpa harus berperang. Justru dengan cara berdamai. Itulah yang dikatakan oleh Denny Siregar buzzer dan pendukung setia Jokowi.

Menurut Denny, putra Solo itu bukan orang sembarangan. Dia bukan orang lemah seperti dipersepsikan banyak orang. Jokowi, menurut Denny, adalah orang yang hebat. Itulah yang dia tunjukkan ketika ‘membawa masuk’ Prabowo Subianto (PS) ke dalam kabinet.

Dengan membawa musuh utama ke dalam Istana, maka si musuh bisa dipantau. Bisa dikendalikan. Dia tak bisa berbuat apa-apa. Tidak lagi bisa mengganggu Jokowi.

Dan benar juga, ternyata. Prabowo bisa jinak. Jokowi pun tenang.

Bagaimana dengan virus Corona?

Bisa kita lihat. Jangan berkomentar berbagai macam dulu. Siapa tahu strategi membawa Corona ‘masuk ke dalam’, juga bisa membuat si musuh berbahaya ini menjadi diam. Tidak berkutik.

Nanti Jika sudah ada vaksinnya, barulah dilepas kembali. Begitukah kira-kira? Sungguh kebijakan aneh dan sembrono. Penyakit yang di tubuh manusia ini nyawa taruhannya, jika menyuruh berdamai dengan penyakit berarti penyakit tidak perlu diobati, biarkan bersemayam di tubuh hingga ajal menemui.

Inilah sikap penguasa Kapitalisme, ketika rakyat meminta secuil pengasihan dan perlindungan tidak ada daya dan upaya untuk menolong. Karena tidak ada manfaat baginya dan kekuasaannya. Dalam sistem Kapitalisme untung rugi adalah tolak ukur suatu perbuatan jadi sangat wajar jika penguasa bersikap abai terhadap penderitaan rakyat demi kepentingan bisnis. Rakyat laksana konsumen dan penguasa sebagai produsennya. Setiap rakyat jika menginginkan haknya harus membelinya pada produsen, jika rakyat tidak mampu itu sudah menjadi konsekuensinya tanpa ada campur tangan penguasa. Seperti halnya rakyat sudah tidak mampu bertahan karena PSBB, itu adalah nasibnya bukan tanggung jawab penguasa.

Khilafah Maksimal Tangani Wabah untuk Melindungi Rakyat

Sikap penguasa ini berbanding terbalik dengan kebijakan khilafah dalam menangani wabah. Kebijakan khilafah untuk mengatasi wabah bisa diringkas sebagai berikut:

Mengisolasi wilayah yang terkena wabah. Penduduk wilayah tersebut dilarang keluar, sementara penduduk luar wilayah dilarang masuk.

Di dalam wilayah wabah diberlakukan social distancing agar orang sakit tidak menulari orang sehat. Orang sakit dilarang hadir salat jamaah di masjid. Orang sehat boleh hadir salat jamaah di masjid. Masjid tetap dibuka.

Pemeriksaan kesehatan untuk memastikan orang yang sakit dan orang yang sehat. Orang sakit dirawat di rumah sakit dengan kualitas layanan terbaik di dunia. Orang sehat didorong melakukan pola hidup dan pola makan yang sehat agar tidak tertular penyakit.

Negara menjamin pemenuhan kebutuhan dasar rakyat yang diisolasi/dikarantina. Baik sandang, pangan, kesehatan, dan keamanan.

Semua biaya untuk kebijakan di atas berasal dari kas negara/Baitul Mal. Negara membolehkan jika ada individu kaya yang memberi sedekah, tetapi negara tidak bergantung padanya.

Negara menyeru rakyat untuk bertakwa, melakukan amar makruf nahi mungkar, menjauhi maksiat dan memperbanyak taqarrub ilallah. Ini sebagai upaya tobat untuk mendapatkan ampunan dari Allah Ta’ala.

Dalam kondisi wabah demikian berat, militer bisa diterjunkan untuk menjaga keamanan dari pihak-pihak yang berniat buruk. Polisi bisa diterjunkan untuk membantu distribusi makanan dan obat-obatan pada rakyat.

Maka, memaksimalkan usaha untuk menyelamatkan nyawa rakyat itu paling penting, begitulah sistem Islam dijalankan. Meminta rakyat berdamai dengan virus hanyalah sikap penguasa yang tidak mempunyai kapabilitas sehingga tidak mempunyai cara cerdas untuk selamatkan rakyat. Jadi buat apa kita masih bertahan pada sistem ini, sudah saatnya kita kembali pada sistem Islam yang terbukti 14 abad mampu menyelesaikan seluruh problematika kehidupan manusia termasuk menyelesaikan wabah, tidak bersikap pasrah untuk berdamai pada penyakit.

Wallahu a’lam bishshawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *